Eko B.S
Eko B. Supriyanto, CEO The Finance Research – Majalah Shift

Perubahan tren yang terjadi di industri perbankan, terjadi secara merata, baik di negara-negara maju maupun berkembang. Perubahan tren ini memang tidak dapat dihindari, dan bank saat ini harus memilih tren mana yang ingin mereka ikuti. Termasuk juga bagi perbankan nasional.

Pendekatan customer-centric , optimasi teknologi digital hingga merubah model bisnis yang ada menjadi langkah strategis yang dilakukan banyak perbankan global dalam “mengakali” pergeseran tren dan persaingan yang makin ketat. Namun, bagi perbankan nasional benarkah mereka hanya perlu fokus pada strategi tersebut? Bagaimana dengan kendala lain yang masih ada sampai saat ini?

Eko B. Supriyanto, CEO The Finance Research berbagi pandangannya terhadap tren yang terjadi di industri perbankan, bagaimana kesiapan perbankan nasional menghadapi perubahan tren dan apa sebenarnya tantangan terbesar bagi perbankan nasional dalam menghadapi pergeseran tren tersebut.

Berikut hasil wawancara Majalah Shift dengan Eko B. Supriyanto di  Jakarta beberapa waktu lalu.

Bagaimana pandangan Anda terhadap tren di industri perbankan saat ini?

Perubahan dalam industri perbankan 5 tahun sekarang ini lebih cepat dari perkiraan orang. Jaman dulu sekali itu bank-bank harus punya kantor. Jaman berikutnya harus punya ATM. Nah, nanti ke depan bagaimana? Jaman berikutnya kita sudah tidak ada ATM. Istilahnya semuanya adalah kios-kios. Kalau toh ATM nya ada, kecil-kecil. Nanti dompetnya adalah isi ulang. Jadi, kita tidak perlu uang fisik lagi. Pada suatu saat nomor telepon menjadi nomor rekening. Selain itu, kalau jaman dulu bisnis bank itu dari pemberian kredit. Kemudian gelombang kedua adalah pemberian kredit dan fee based income. Gelombang yang ketiga atau yang sekarang ini adalah dengan adanya transaksi fee. Kemajuan information and communication (ICT). Itulah yang merubah bisnis perbankan. Jadi, teknologi sekarang ini bukan hanya merubah bisnis perbankan tapi juga menciptakan cara-cara bisnis baru. Salah satunya adalah bahwa kita pada suatu saat nanti dengan adanya transaksi fee, akan menghadapi branchless banking atau bank tanpa kantor cabang secara fisik. Jadi, orang mau transaksi di rumah atau di warung juga bisa dan ini diperlukan, sehingga bank dituntut untuk harus memiliki IT yang bagus. Itulah arah tren perbankan saat ini.

Kapan tren tersebut akan booming?

Saat ini sudah mulai. OJK dan Bank Indonesia juga sudah mengantisipasi, salah satunya dengan kebijakan branchless banking itu.

Bagaimana kesiapan industri perbankan nasional menghadapi pergeseran tren ini?

Jadi yang sekarang ada, tidak semua bank siap. Karena struktur dari perbankan di Indonesia, itu tidak semuanya bank besar. Di bank itu ada yang namanya buku (kelompok bank umum berdasarkan kegiatan usaha). Ada buku 1 (modal inti di bawah Rp1 triliun), buku 2 (modal inti Rp1 triilun  sampai dengan di bawah Rp5 triliun), buku 3 (modal inti Rp5 triliun sampai dengan di bawah Rp30 triliun), dan buku 4 (modal inti Rp 30 triliun ke atas). Nah, yang paling siap itu adalah yang buku 4, siapa saja? Ada BCA, Mandiri, BNI, BRI. Empat bank ini yang paling siap. Karena mereka modalnya ada, jaringannya ada, IT nya juga ada. Orangnya juga punya. Jadi, kalau branchless banking diterapkan, merekalah yang paling siap. Ya kan, tidak semua kategori bank itu bisa menerapkan aturan branchless banking, karena harus ada aturan modal, ada risk management, harus ada aturan dengan IT. Jadi, yang paling siap  4 bank tersebut.

Apakah pergeseran tren ke arah digital ini artinya juga akan merubah wajah industri perbankan nasional secara keseluruhan?

Tentu saja. Bayangkan, misalkan nasabah BRI ada 35 juta atau BCA 9 juta di tambah lagi nasabah dari BNI dan Mandiri. Tentu saja itu akan mempengaruhi market sharenya. Empat bank itu digabung sudah mencapai pasar 45%. Tentu hal ini akan merubah model bisnis di perbankan. Nah, bank-bank yang lain seperti apa? Bank lainnya masih ke tradisional banking. Toh, masyarakat Indonesia kan luas sekali, tidak semuanya juga mengerti IT, bahkan saya sendiri kadang-kadang sudah pakai IT tetap perlu cara yang manual juga. Ada orang-orang yang perlu di jangkau yang belum mengerti penggunaan IT.

Perbandingan orang-orang yang “melek IT” dengan yang tidak?

The Finance pernah menghitung, potensi kita ada 125 juta orang nasabah baru. Sementara yang baru dilayani bank hanya 49% dari jumlah penduduk Indonesia. Potensinya besar sekali. Atau begini saja gampangnya, jumlah pemegang nomor HP itu sudah mencapai 300 juta, padahal penduduk Indonesia cuma 257 juta. Dari sini kita bisa melihat bahwa perkembangan IT itu mempengaruhi. Potensinya besar sekali, Indonesia luas sekali.

Bagaimana dengan bank-bank tradisional?

Bank-bank yang kecil itu dia harus bisa masuk ke segmen community. Fokus. Karena setiap bank punya pasarnya sendiri-sendiri. Setiap bank punya segmen. Bank kecil harus fokus melayani community banking. Misalnya, khusus pembiayaan motor, khusus pembiayaan UMKM, khusus pembiayaan ritel.

Lalu, apa tantangan terbesar industri perbankan di masa transisi ini?

Tantangan terbesar di banking industry itu ada dua hal. Yang pertama, likuiditas. Jadi, likuiditas di pasar semakin ketat. Karena apa? Karena selama ini bank-bank itu ekspansi kreditnya kenceng, sementara dana pihak ketiganya agak “seret”, sehingga 5 tahun terakhir pertumbuhan kredit selalu lebih tinggi daripada pertumbuhan yang lain. Kemudian, modal. Karena ekspansi kredit, setiap ekspansi kredit membutuhkan modal yang banyak. Nah, faktor modal ini menjadi sangat kecil kalau dibandingkan dengan bank-bank yang ada di Singapura. Bank-bank terbesar kita itu ada di urutan 9 dari seluruh bank di Singapura. Bayangkan saja, Bank Mandiri segede bagong itu, itu nomor 9. Terus tantangan berikutnya yang dihadapi dalam perubahan bisnis perbankan dalam rangka untuk meningkatkan transaksi itu adalah “melek perbankan” masih belum. Masyarakat itu tidak “melek perbankan”. Jadi orang yang berhubungan dengan bank itu masih sedikit, masih 49% dari jumlah penduduk kita. Ibu saya saja tidak punya rekening. Bagaimana dia bisa punya rekening telepon. Nah, merubah orang untuk berhubungan dengan bank, itu yang agak susah.

Apa yang harus dilakukan perbankan agar masyarakat Indonesia “melek perbankan”?

Sosialisasi. Bahwa transaksi dengan bank itu mudah, menguntungkan, keamanannya terjamin. Selama ini kan, masyarakat kecil mikir untuk ke bank, sepertinya mahal. Saya pernah tanya ke pembantu saya, “kamu kenapa tidak buka rekening?” Dia bilang, “mahal Pak, bayarnya.” Bayangkan saja, bayarnya mahal, padahalkan uangnya dia sendiri gito loh. Nah itu, yang menjadi concern perbankan. Jadi, pengetahuan masyarakat tentang fungsi perbankan masih rendah. Tapi, belakagan ini, teman-teman di perbankan dan OJK juga sudah melakukan sosialisasi bahwa orang harus “melek perbankan”. Itu tantangan terberat industri perbankan, menurut saya. Menjangkau unbanked people itulah tantangan terberat. Tapi 5 tahun belakangan, perlahan-lahan perkembangan industri perbankan, digital banking atau e-money mulai bagus. Di tambah lagi sekarang e-commerce. Perdagangan lewat internet. Itu juga luar biasa. Dahsyat. Dan mau tidak mau ini akan terjadi, bahkan lebih cepat daripada perkiraan. Dan ini harus di sosialisasi dan arah dari tren bank ke depan adalah transaksi. Jadi, bank-bank yang punya banyak ATM ini agak sedikit mubazir.

Apakah agent banking termasuk upaya perbankan untuk menjangkau unbanked people?

Itu termasuk salah satunya. Jadi, nanti di warung itu bisa simpan uang, bisa beli tiket, beli gula, beli susu, jaringan di indomaret begitu besar, itu lah nanti bagaimana konsep dari branchless banking dan agent banking.  Bahkan persaingan di bank itu tidak hanya bank dengan bank, tapi juga dengan perusahaan telekomunikasi. Di tengah digitalisasi, di tengah less cash society, bank dihadapkan dengan perusahaan telekomunikasi. Karena apa, bank itu aturannya ketat, mau menerbitkan branchless banking, bank harus ada risk management, bank mau bikin produk baru dia harus liat modalnya berapa. Sedangkan kalau perusahaaan telekomunikasi tidak ada aturan seketat perbankan.

Jadi, apa yang harus dilakukan perbankan menghadapi persaingan yang makin ketat?

Bank harus terus inovasi. Bank harus efisien. Dan harus memiliki speed yang tinggi dalam service. Tiga itu saja. Perbankan memang harus fokus pada pendekatan customer centric. Pelayanan bank harus cepat dan memuaskan. Kalau bank bisa efisien, pasti net interest marginnya juga naik.

Bagaimana bank bisa efisien?

Yang pertama, dari sisi operasional. Dengan adanya operasional kan, jadi tidak perlu cabang, tidak perlu orang banyak, karena sudah menggunakan IT. Nah, itu akan berdampak pada harga. Harga kreditnya kan jadi lebih murah. Dan yang paling terakhir, itu adalah efisiensi dalam mencapai dana pihak ketiga. Itu perlu upaya yang “jor-joran”, makanya untuk mencari dana dari pihak ketiga, carilah nasabah yang loyal. Nah, biar nasabahnya loyal, buatlah produk yang bagus. Produk dengan pelayanan yang OK, dengan keamanan yang terjamin. Bagaimana bank men-service nasabahnya dengan baik dan bisa memuaskan hati mereka. Karena, kalau dari harga, setiap bank itu hampir sama. Ini juga sekaligus momentum. Sekarang ini kan yang berbelanja adalah anak muda, wanita, dan netizen. Kalau bank meninggalkan 3 orang ini, ya pasti di tinggalin. Apa yang menyatukan orang-orang ini, digital tadi itu.***RR

Eko B. Supriyanto adalah CEO The Finance Research dan komisaris Majalah Infobank. Karirnya dimulai sebagai jurnalis sejak 1997. Lebih dari 20 tahun, Ia menyibukkan dirinya untuk melakukan penelitian di bidang  perbankan dan keuangan. Selain itu, sempat menjabat sebagai Ketua Komite Remunerasi dan Nominasi (2009-2014), Ketua Komite Audit (2009-2011) dan anggota Komite Audit dan Pemantau Resiko (2011-2014). Saat ini Ia juga masih aktif di berbagai organisasi perbankan, seperti Perbanas dan Ikatan Bankir Indonesia.

Hasil interview ini sebelumnya telah ditampilkan dalam Majalah Shift Issue 2. Baca lebih lengkap di http://goo.gl/L8NRni