Kinerja Garuda Indonesia dinilai masih merugi hingga 3 Trilliun pada 2017. Guna mengatasi kinerja yang buruk ini, perusahaan gencarkan cost effectiveness untuk ciptakan efisiensi.

Kerugian besar yang dialami PT Garuda Indonesia, maskapai penerbangan berplat merah ini disebabkan karena perusahaan harus membayar tax amnesty sebesar 137 juta dolar Amerika dan denda kasus persaingan bisnis kargo dengan Australia sebesar 8 juta dolar Amerika.

Menyikapi hal tersebut, di tahun 2018 ini Garuda Indonesia melakukan sejumlah efisiensi guna mendorong pertumbuhan pendapatan dengan target perolehan laba bersih sebesar US$ 8,7 juta. Hal ini disampaikan oleh Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan sebagaimana dilansir dari metrotvnews.com. Dia mengatakan bahwa pihaknya sedang melakukan efisiensi di segala lini. Namun, efisiensi itu tidak terlalu berdampak pada penumpang. Perseroan hanya melakukan perubahan konsep atau penyesuaian pada setiap penerbangan.

Beberapa yang mengalami perubahan yaitu : Pertama, konsep penerbangan (pemberian hot meal) akan disesuaikan dengan jarak dan waktu penerbangan. Untuk penerbangan pendek, maskapai tidak lagi ada hot meal. Hal ini dilakukan perseroan dengan pertimbangan waktu tempuh yang singkat menyulitkan penumpang untuk memakan makanan-makanan panas. Sedangkan untuk penerbangan jarak jauh dengan waktu yang memadai, hot meal akan tetap disiapkan.

Kedua, peniadaan ruang tunggu. Ruang tunggu bagasi untuk penumpang eksekutif juga akan ditiadakan. Perseroan meniadakan ruangan tersebut dengan alasan bahwa infrastruktur di beberapa bandara sudah lebih canggih. Sehingga saat penumpang turun pesawat, penumpang tidak lagi harus menunggu lama untuk barang-barangnya yang ditaruh di bagasi.

Namun, meskipun efisiensi dilakukan Garuda tetap menjamin tetap akan memberikan layanan penuh kepada penumpang dan tetap memprioritaskan unsur keamanan (safety). “Kalau kita full service, kita kan memang bersaing ketat dalam layanan. Bahwa penumpang bakal terbang kalau layanan unggul. Kalau safety kita tidak akan ganggu,” tutup Rosan.

Baca juga  Kartu SIM Elektronik Sudah Mulai Dikembangkan, Bagaimana Dengan Indonesia?