Peran peer to peer (p2p) lending sangat penting bagi masyarakat karena mampu mengisi pendanaan di sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Data OJK mengatakan lembaga keuangan hanya mampu membiayai pendanaan UMKM sebesar Rp 700 triliun dari total Rp 1.700 triliun. Artinya, saat ini masih banyak masyarakat terutama perempuan yang masih belum bisa mengakses pembiayaan ke lembaga perbankan sehingga sulit berkembang. Oleh karena itu, Amartha hadir untuk menghubungkan para pengusaha mikro di pedesaan yang membutuhkan modal dengan orang-orang baik di kota yang ingin membantu mendanai usaha mereka.

Hal ini disampaikan Vice President Amartha, Aria Widyanto kepada SHIFT Indonesia dalam sebuah kesempatan wawancara. “Amartha membuka kesempatan bagi pemberi dana di kota untuk bisa berinvestasi langsung pada sektor usaha mikro yang dikelola oleh perempuan di pedesaan dengan imbal hasil menarik. Dengan demikian, pengusaha mikro pedesaan yang tidak memiliki rekening dan akses ke pinjaman bank dapat dibantu untuk lebih sejahtera,” ungkapnya.

Amartha pertama dibangun mulai tahun 2010 lalu dan resmi terdaftar sebagai Penyelenggara Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi sejak tahun 2017 dengan nomor registrasi S-2491/NB.111/2017. Mereka memiliki segmen nasabah yang sedikit unik dibanding pemain lainnya yaitu khusus membantu perempuan-perempuan pengusaha mikro di pedesaan yang belum terjangkau perbankan. Alasan menyasar perempuan sebagai peminjam agar bisa memberikan manfaat langsung bagi keluarga. Selain itu, Amartha juga ingin mendorong pemberdayaan perempuan melihat masih adanya jarak kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki di sektor ekonomi.

Aria mengklaim saat ini pihaknya telah berhasil menyalurkan pembiayaan hingga Rp 535 miliar kepada lebih dari 130ribu pengusaha mikro perempuan. Dari seluruh mitra usaha yang dibantu pada 2017, 34 persen memiliki pendapatan lebih dari Rp 5 juta, mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang hanya 16 persen. Ini tentu menjadi pencapaian yang sangat mengesankan, terlebih jika kita mengingat fintech sebagai industri yang masih relatif baru. Bagaimana Amartha melakukannya?

Baca juga  Realisasi Investasi Semester I Tahun 2019 Capai 395,6 Triliun

Menjawab pertanyaan ini, Aria mengatakan bahwa perusahaannya tidak pernah berhenti melakukan edukasi kepada masyarakat tentang jenis-jenis fintech, apa saja resiko dan juga manfaatnya. Meskipun mengakui ini sebagai tantangan, Amartha selalu aktif berpartisipasi dalam setiap event sosialisasi yang diadakan oleh OJK dan Asosiasi Fintech Indonesia maupun kegiatan yang mereka selenggarakan sendiri.

“Amartha mengambil tanggung jawab untuk mendukung pemerintah dan OJK dalam mengedukasi masyarakat tentang manfaat dan risiko penggunaan platform fintech. Selama semester pertama tahun 2018 saja, Amartha telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebanyak 36 kali, baik di Jawa maupun luar Jawa melalui kemitraan dengan pemerintah, OJK, universitas, lembaga internasional dan perusahaan swasta. Tujuannya, agar masyarakat dapat menggunakan platform fintech secara bertanggung jawab, berhati-hati dan memperhatikan legalitas dan kredibilitas penyelenggara. Melalui edukasi ini, calon peminjam maupun pemberi dana dapat memahami layanan fintech lending secara umum, serta keunggulan layanan yang diberikan oleh Amartha,” terang Aria.

Di sisi lain, Amartha juga menjalankan tanggung jawabnya kepada pemberi dana, “Amartha memungkinkan investor untuk melihat secara langsung komunitas binaan Amartha melalui “Village Tour” program yang diadakan setiap bulan,” ungkapnya.

Terus Berinovasi

Industri fintech berkembang dengan sangat cepat, setiap pelaku terus bersaing untuk memenangkan pasar dengan inovasi-inovasi produk layanannya. Inovasi tentu erat kaitannya dengan perubahan perilaku pengguna dan juga ketersediaan teknologi di pasar. Oleh karena itu Amartha selalu berupaya menciptakan produk dan teknologi berdasarkan pemahaman mereka akan kebutuhan pasar saat ini.

“Inovasi di Amartha bersifat agile menyesuaikan dinamika dan perkembangan teknologi yang sangat cepat,” ungkap Aria. Dia menambahkan pihaknya juga berupaya untuk membangun culture perusahaan yang inovatif dan terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Baca juga  Sektor Industri Masih Menjadi Kontributor Terbesar Ekonomi

Kemudian untuk mempercepat penetrasi pasar, Amartha melakukan sinergi dengan perbankan konvensional, termasuk Bank Mandiri dan Permata, perusahaan multifinance dan BPR dalam skema channeling. Selain itu, mereka juga melakukan kolaborasi dengan perbankan lainnya untuk fasilitas Escrow, Virtual Account dan Payment System untuk mendorong kenyamanan dan keamanan bertransaksi. Amartha juga telah bekerjasama dengan Perum Jamkrindo untuk penjaminan kredit jika peminjam mengalami gagal bayar.

Berbicara tentang resiko, bisnis dengan produk pinjaman tentu masuk dalam daftar bisnis berisiko. Oleh karena itu perlu dilakukan mitigasi resiko dengan tepat. Menurut Aria, pihaknya meyakini bahwa kepatuhan regulasi yang berlaku adalah jaminan untuk keberlangsungan bisnisnya. “Kami selalu memastikan compliance terhadap peraturan yang terkait dengan bisnis fintech ini, baik dari OJK, Bank Indonesia, Kominfo maupun regulator terkait lainnya,” tutupnya.