Why Why Analysis: Menemukan Akar dari Suatu Masalah

Why-why analysis atau 5 Whys adalah metode untuk menggali akar permasalahan untuk menemukan solusi.
Why-Why Analysis adalah alat bantu (toolQuick Changeover untuk Tingkatkan Fleksibilitas Produksi. Read more ... ») root cause analysis untuk problem solving5 Kunci Sukses untuk Problem-Solving yang Efektif dalam Operasional. Read more ... ». Tool ini membantu mengidentifikasi akar masalah atau penyebab dari sebuah ketidaksesuaian pada proses atau produk.
Why-Why Analysis atau 5 Why’s Analysis biasa digunakan bersama dengan Diagram Tulang Ikan (Fishbone DiagramLean Six Sigma Tool: Fishbone Diagram. Read more ... ») dan menggunakan teknik iterasi dengan bertanya MENGAPA (Why) dan diulang beberapa kali sampai menemukan akar masalahnya, dan kemudian melakukan perbaikan.
Contohnya sebagai berikut:
Masalah: Mesin Breakdown/Rusak.
- Mengapa? Komponen automator tidak berfungsi.
- Mengapa tidak berfungsi? Usia komponen sudah melebihi batas lifetime 12 bulan.
- Mengapa tidak diganti saat mencapai batas tersebut? Tidak ada yang tahu batas lifetime komponen tersebut.
- Mengapa tidak ada yang tahu? Tidak ada pencatatan data penggantian komponen.
- Mengapa tidak ada pencatatan? Nah, sebenarnya kita telah tiba pada salah satu potensi akar masalah, yaitu tidak adanya pencatatan data penggantian komponen.
Untuk sampai pada pada akar masalah, bisa pada pertanyaan kelima atau bahkan bisa lebih atau kurang tergantung dari tipe masalahnya.
Tahapan umum saat melakukan root cause analysis dengan why why analysis:
- Menentukan masalahnya dan area masalahnya
- Mengumpulkan tim untuk brainstorming sehingga kita bisa memiliki berbagai pandangan, pengetahuan, pengalaman, dan pendekatan yang berbeda terhadap masalah
- Melakukan gemba (turun ke lapangan) untuk melihat area aktual, obyek aktual, dengan data aktual.
- Mulai bertanya menggunakan Why Why
- Setelah sampai pada akar masalah, ujilah setiap jawaban dari yang terbawah apakah jawaban tersebut akan berdampak pada akibat di level atasnya. Contoh: apakah jika kita memiliki pencatatan penggantian komponen maka akan mudah bagi Tim Maintenance untuk melakukan penggantian komponen secara rutin? Apakah hal tersebut paling masuk akal dalam menyebabkan dampak di level atasnya? Apakah ada alternatif kemungkinan penyebab lainnya?
- Pada umumnya solusi tidak mengarah pada menyalahkan ke orang tapi bagaimana cara melakukan perbaikan sistem atau prosedur.
- Jika akar penyebab sudah diketahui maka segera identifikasi dan implementasikan solusinya.
- Monitor terus kinerjanya untuk memastikan bahwa masalah tersebut tidak terulang lagi.














Pingback: Seven Deadly Waste dalam Business Process - Shift Indonesia | Shift Indonesia
Pingback: Lean Enterprise Sempurnakan Supply Chain General Motors - Majalah Shift Indonesia | Majalah Shift Indonesia
Pingback: Lean Six Sigma Tool: Fishbone Diagram - Majalah Shift Indonesia | Majalah Shift Indonesia
Pingback: Delapan Pilar TPM: Penerapan Metode Praktis untuk Meningkatkan Produktifitas di Area Kerja | Majalah Shift Indonesia