Hasil studi yang dilakukan Kauffman Foundation dan Inc. menunjukkan bahwa dua pertiga dari startups yang paling cepat tumbuh berakhir dengan kegagalan. Mengapa demikian? Ada banyak kemungkinan alasan, termasuk faktor variabel tak terduga pada skala yang lebih tinggi, serta peningkatan biaya untuk overhead dan juga masalah operasional yang semakin kompleks. Dilansir dari Inc.com berikut lima perusahaan yang mengalami pertumbuhan eksplosif namun tidak mampu sustain.

1. Wise Acre Frozen Treats
Pada tahun 2006 lalu Jim Picariello mulai membuat Wise Acre Frozen Treats, es loli organik di dapur sekolah. Setelah satu setengah tahun, dia mempekerjakan seorang karyawan, dan enam bulan setelah itu, mempekerjakan 13 karyawan lagi dan mendirikan fasilitas manufaktur seluas 3.000 kaki persegi. Menjelang akhir tahun, perusahaan tersebut bangkrut.

Produk Picariello telah memenangkan beberapa penghargaan, dan ketertarikannya pada perusahaan cukup tinggi, sayangnya, dia terlalu cepat melompat dan mulai mempekerjakan dan membeli peralatan sebelum memiliki pendapatan atau modal awal untuk mendukung investasi tersebut. tersebut.

2. 180s
Seperti dilansir majalah Baltimore, 180s adalah perusahaan kemitraan antara Brian Le Gette dan Ron Wilson yang didirikan pada 1994. Setelah popularitas produk pertama mereka menanjak, perusahaan mulai berkembang ke produk lain dan di pasar lainnya, bahkan mereka juga mendapatkan kontrak dengam militer untuk pakaian tempur. Pada tahun 2003, perusahaan tersebut mencapai peringkat 9 di daftar Inc. dari 500 perusahaan swasta dengan pertumbuhan tercepat.

Sayangnya, pertumbuhan itu tidak sustain, dan pada tahun 2006, perusahaan tersebut bermasalah karena hutang. Untungnya, perusahaan diakuisisi oleh Patriarch Partners pada tahun 2006; dan, sejak saat itu, kinerja perusahaan mulai membaik – tapi tidak semua perusahaan mendapatkan kesempatan kedua bukan?

Baca juga  Design Thinking, Efektif dengan 3 Prinsip

3. Crumbs Bake Shop
Seperti dilansir Wall Street Journal, Crumbs Bake Shop pernah menjadi vendor cupcake terbesar di dunia. Didirikan pada tahun 2003, perusahaan ini memulai usahanya sebagai respons terhadap tren cupcakes yang semakin meningkat. Terdaftar sebagai salah satu perusahaan dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia, persebaran cupcake diperluas ke berbagai kota, dengan puluhan toko, namun pertumbuhannya tidak sustain.

Tingginya biaya pemeliharaan lokasi fisik ritel, menurunnya minat pada cupcakes dan dorongan perusahaan untuk membuka lokasi baru meski penjualan turun akhirnya memaksa perusahaan untuk menutup sebagian besar tokonya. Pada tahun 2014 lalu Crumbs keluar dari kebangkrutan dan mulai membuka toko-toko baru, namun momentumnya juga tidak berlanjut, awal tahun lalu semua toko fisiknya ditutup.

4. Zynga
Untuk sementara, pengembang game di  Zynga seakan mampu mengubah dunia. Pendiri dan CEO Mark Pincus memulai perusahaan dengan pengalaman kewirausahaan yang cukup namun pengalamannya dalam video game sedikit. Pada saat itu, game gratis dianggap berkualitas rendah dan tidak layak untuk diunduh, namun game Zynga seperti Poker dan Mafia Wars berhasil menghasilkan jutaan unduhan. Pada tahun 2011, perusahaan ini sangat populer dengan pendapatan tinggi sehingga berhasil membangun pusat data sendiri seharga $ 100 juta. Tapi investasi pada peralatan baru dan permainan baru tidak bisa menggantikan inovasi Zynga.  Pada tahun 2015, perusahaan tersebut mulai melakukan gelombang PHK dan menutup pusat datanya untuk mendapatkan layanan data dengan biaya lebih efisien. Saat ini, perusahaan masih ada tapi bukan “powerhousegame seperti dulu.

5. KIND Snacks
Saat pertama kali mendirikan perusahaan di New York, Daniel Lubetzky mengalami kesulitan untuk menghasilkan keuntungan yang konsisten. Seperti dilansir USA Today, Lubetzky menjelaskan bahwa ia menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenaga untuk tumbuh dengan cepat dan berkembang sebelum perusahaan tersebut siap. Untungnya, dia mendapat pelajarannya, dan menghabiskan dua tahun untuk bisa mengembangkan snack bar yang sempurna.

Baca juga  Sertifikasi Lean Six Sigma, Masih Perlukah?

Ketika dia menjalankannya, dia menarik dana $ 20 juta dari VMG Partners, memungkinkan dia menumbuhkan perusahaan secara konsisten sampai 2014, ketika dia membeli perusahaannya kembali seharga $ 220 juta secara tunai.

Apa yang dapat Anda pelajari ?  

Jadi, apa yang dapat Anda pelajari dari kasus-kasus di atas? Jelas, tumbuh terlalu cepat bisa sama bermasalahnya dengan tumbuh terlalu lambat. Ekspansi adalah hal yang baik, karena membawa lebih banyak pendapatan dan lebih banyak kesempatan, namun sebuah perusahaan perlu diskalakan dengan kecepatan yang masuk akal.

Memasuki pasar yang belum Anda pahami secara keseluruhan, akan menghabiskan uang dan menciptakan banyak asumsi tentang masa depan, semuanya dapat berdampak negatif terhadap peluang keberhasilan Anda, jadi cobalah untuk melakukan hal-hal selangkah demi selangkah dan menumbuhkan perusahaan Anda dengan kesabaran. Ini akan membawa hasil.