Dalam manajemen tradisional, orang-orang yang berada dalam manajemen tidak lebih dari alat instrument. Mereka akan bergerak untuk menjalankan sejumlah tugas, setelah tidak lagi berguna mereka bisa dibuang kapan saja. Perkembangan ilmu manajemen yang cukup dinamis, akhirnya menyebabkan manajemen tradisional ini mulai ditinggalkan. Hingga kemudian muncul metode Lean, salah satu pemikiran manajemen yang cukup menyita perhatian dunia korporasi.

Metode Lean menekankan prinsip dasar bahwa sebelum Anda membuat produk, pertama Anda harus membuat orang. Artinya Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi pondasi terpenting untuk perusahaan Anda. Pada prinsipnya merekalah yang akan membuat produk yang berkualitas dan bernilai untuk Anda.

Metode Lean muncul setelah Toyota menyadari para pebisnis barat masih mempunyai keterbatasan cara dalam menjalankan bisnis mereka. Toyota mengartikulasikan bahwa pemikiran yang sesungguhnya akan terefleksikan dengan lebih baik ketika mereka bekerja. Toyota mengaktualisasikan budaya “On The Job Training” atau OJT menjadi “On The Job Development” atau OJD, yaitu pengembangan melalui pekerjaan (selama bekerja).

Dengan kata lain Toyota menilai bahwa lebih mudah bekerja dengan pemikiran yang diinginkan daripada memikirkan cara yang ingin dikerjakan. Melalui budaya Lean, mereka mulai mengubah setiap personil bisa berpikir secara lebih mendalam. Tidak lagi menggunakan prinsip petugas pemadam kebakaran, menunggu masalah baru bergerak.

Dalam Lean Anda akan belajar melihat orang melalui kerangka pengembangan, ini tentu akan memberi dampak yang besar. Anda akan mulai berpikir potensi yang dimiliki setiap individu dan bagaimana mengembangkannya. Jelas, ini tidak selalu mudah, apalagi ketika Anda merasa mereka lambat berkembang. Tetapi dengan melihat potensi mereka sebenarnya secara fundamental turut mengubah cara Anda berfikir tentang orang-orang dan juga organisasi.

Baca juga  Pengalaman Berharga Mengikuti OPEXCON Project Competition

Organisasi terdiri dari bermacam-macam tim, setiap individu yang datang akan memberikan kontribusi masing-masing. Jadi sudah saatnya kita berhenti mengubah manusia menjadi robot dengan peran dan aturan yang kaku. Sebaliknya lakukan pengorganisasian dengan menciptakan orientasi yang jelas dan dukung serta kembangkan kemampuan setiap anggota tim untuk melakukan inisiatif perbaikan.