Basic Manufacturing Management atau disingkat BM2 adalah sebuah kerangka kerja yang dirancang khusus oleh SSCX untuk perusahaan manufaktur di Indonesia. BM2 berisikan pengetahuan mengenai aplikasi tools, teknik, dan sistem untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi proses dalam operasional. Aspek-aspek manajemen dasar yang termuat didalamnya berfungsi untuk meningkatkan kinerja opersional, yaitu:

  • Peningkatan throughput
  • Optimasi inventori
  • Penghematan biaya.

Aplikasi BM2 dilakukan untuk menciptakan sistem dasar dalam mengoperasikan sebuah organisasi. Metode ini memiliki cakupan yang luas dengan lima aspek utama, yaitu: keterlibatan karyawan, hubungan dengan pelanggan, supply chain, sistem manufaktur, dan inovasi.

Keterlibatan Karyawan

Pada aspek keterlibatan karyawan, salah satu yang menjadi fokus penanganan adalah penerapan kebijakan, yaitu memastikan adanya sistem yang jelas dalam perumusan tujuan organisasi di setiap tingkatan level di seluruh organisasi untuk pencapaian tujuan dan peningkatan performa. Indikator level performa dapat diukur dengan sistem KPI (Key Performance Index), sebagai eksekusi dari perencanaan strategis di perusahaan yang berkaitan dengan seluruh karyawan di setiap level. Aspek ini juga meliputi manajemen area kerja dan manajemen visual, yang berperan sebagai sistem dasar dan landasan bagi inisiatif perbaikan terhadap kualitas dan produktifitas. Dengan area kerja yang rapi, nyaman dan bersih, serta disiplin yang bagus dari karyawan, maka pencapaian target kinerja operasional akan lebih mudah dicapai.

Supply Chain

Pada aspek Supply Chain, sistem yang harus dimiliki mencakup rekonsiliasi permintaan pelanggan terhadap sumber daya, serta mekanisme yang terkait dengan manajemen forecast dan pelaksanaan perencanaan penjualan dan operasional. Kemudian sistem ini diturunkan dalam perencanaan produksi (Master Production Schedule), dengan rentang waktu yang lebih pendek. Pelaksanaannya harus mempertimbangkan batasan-batasan sistem, kapasitas produksi, dan cycle time. Sedangkan sistem Production Activity Control digunakan dalam memantau jadwal untuk memastikan ketepatan waktu pengiriman. Aspek ini juga terkait dengan sistem yang digunakan dalam strategi procurement, organisasi, hubungan dengan pemasok, dan rekuisisi pembayaran.

Baca juga  3 Jenis Nilai dalam Analisis Proses Bisnis

Sistem Manufaktur dan Inovasi

Pada aspek sistem manufaktur, evaluasi terhadap stabilitas dan kapasitas proses menjadi perhatian utama; yaitu bagaimana sistem dapat mengukur dan memonitor proses, mendeteksi kualitas produk yang buruk dan upaya pencegahannya, termasuk kelebihan konsumsi yang berdampak pada biaya manufaktur tinggi seperti: konsumsi material, jam kerja karyawan, energi, dan pasokan material tak langsung.

Manajemen Maintenance juga harus memiliki sistem yang solid. Lingkupnya termasuk Breakdown Maintenance, Planned Maintenance, Autonomous Maintenance, Equipment Speed, OEE Measurement, dan Changeover Time Reduction. Selain itu, masih banyak sistem dasar lainnya yang termasuk dalam lingkup inovasi dan hubungan pelanggan, yang menjadi bagian penting dalam implementasi metode Continuous Improvement untuk mencapai Operational Excellence.

Implementasi BM2 di Perusahaan Komponen Otomotif

Untuk memahami lebih jauh mengenai implementasi metode Basic Manufacturing Management (BM2), mari simak contoh kasus implementasi di sebuah perusahaan komponen otomotif berikut ini. Perusahaan ini merupakan perusahaan asal Indonesia yang memproduksi komponen. Untuk alasan kerahasiaan, sebut saja PT. Optimax. PT. Optimax memiliki dua pabrik utama, yaitu East Plant dan West Plant. Studi kasus ini dipilih karena perusahaan tersebut telah berhasil menerapkan best practice metode Continuous Improvement dan memenangkan penghargaan Operational Excellence level nasional.

Proses produksi yang dijalankan oleh Optimax adalah proses stamping, blowing, injection, vacuum, painting, dan assembly. Jumlah karyawan yang mereka miliki sekitar 300 orang, dan klien terbesar mereka antara lain Toyota, Daihatsu, Isuzu, Nissan dan Honda.

Basic Manufacturing Management yang dijalankan oleh Optimax bertujuan untuk:

  • Meningkatkan pencapaian pemenuhan order (order fulfillment) hingga 100%
  • Menigkatkan produktifitas
  • Menurunkan jumlah produk cacat internal (internal defect)
  • Menurunkan inventori
  • Memperbaiki manajemen maintenance
  • Menciptakan area kerja yang lebih rapi dan meningkatkan efisiensi secara keseluruhan.
Baca juga  Efisiensi vs. Efektivitas: Prioritas Manakah yang Lebih Utama?

Implementasi BM2 di Optimax dimulai pada awal 2010, dengan fokus utama untuk meningkatkan performa pemenuhan order, mencakup pembenahan di sistem perencanaan, procurement, manajemen gudang, dan manajemen produktifitas.

Proses Perbaikan dengan Metode BM2

Program BM2 di Optimax dimulai dengan mengundang expert untuk memberikan pendidikan mengenai Basic Manufacturing Management kepada karyawan. Pendidikan (awareness) tersebut meliputi konsep, tujuan, metode implementasi, dan mekanisme evaluasinya. Setelahnya, para expert tersebut melakukan penilaian (assessment) secara menyeluruh terhadap sistem-sistem yang ada. Penilaian mencakup penerapan kebijakan (policy deployment), manajemen performa, pengembangan sumber daya manusia, manajemen area kerja, manajemen perencanaan permintaan (demand planning management), dan aspek-aspek lainnya.

Penilaian ini dilakukan untuk melihat kekurangan yang ada. Misalnya apakah sistem sudah lengkap dan memadai, apakah sistem yang baru dikembangkan di pilot area berjalan dengan baik, apakah sistem sudah dijalankan dan direplikasi, sudah memiliki standar dan dilakukan audit yang teratur untuk memastikan konsistensinya. Melalui hasil penilaian ini, maka terlihatlah adanya celah di beberapa area.

Program BM2 lalu dilanjutkan dengan menentukan area yang menjadi prioritas perbaikan. Setelah area diidentifikasi, maka dibuatlah target pencapaian perbaikan yang dibutuhkan. Setelah target tersusun dengan jelas, tim yang merupakan gabungan dari Optimax dan konsultan dari pihak ketiga membentuk infrastruktur untuk menjalankan proyek tersebut.

Banyak perusahaan yang berusaha melakukan implementasi Lean, yang menemui kegagalan karena sistem dasar yang tidak memadai. Sistem dasar tersebut mencakup standard work, manajemen area kerja, manajemen pemeliharaan (maintenance), dan sebagainya. Lean Production System mensyaratkan stabilitas dari proses sebelum penerapan konsep just-in-time, termasuk pull system dan pembatasan inventori.

Ketidakstabilan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti proses cycle time yang sangat variatif, cacat internal yang tinggi, sering terjadi kerusakan mesin, waktu changeover panjang dan tak terprediksi, masalah dalam ketersediaan material, penempatan barang yang tak teratur (banyak waktu terbuang untuk mencari peralatan), kemampuan dan kompetensi operator yang tidak merata, dan sebagainya.

Baca juga  Lima Langkah Esensial Menjadi Profesional

Stabilitas dan kelancaran proses produksi menjadi perhatian utama dari program BM2. Dengan kesungguhan dari tim yang menjalankan proyek, didukung komitmen penuh dari manajemen dan direksi selama program berjalan, maka tim di Optimax berhasil melakukan pencapaian yang luar biasa. Hasil yang dicapai antara lain:

  • Meningkatkan order fulfilment sampai level 100%
  • Management demand planning yang lebih baik
  • Material readiness untuk produksi di level 100%
  • Menurunkan defect proses painting sampai 40%
  • Meningkatkan produktivitas proses injection sampai 20%
  • Mempercepat waktu changeover proses Blow sampai 50%
  • Meningkatkan stock accuraccy sampai 100% untuk gudang
  • Menurunkan downtime mesin vacuum sampai zero downtime
  • Membuat area kerja produksi yang lebih rapi dan bersih

Dan perusahaan terus menerus menerapkan dan mempertahankan sustainability dari implementasi BM2 ini.

Tertarik dengan implementasi dan pelatihan Basic Manufacturing Management?

Hubungi SSCX (Reiko/Riyan) di 021-5763020 atau info@sscx.asia