SHIFT SSCX US Manufacturing by BCG

Pada 2013, para produsen atau industri manufaktur di Amerika Serikat (AS) telah menyumbang sebesar $2.08 triliun untuk ekonomi di negaranya, angka ini naik dari sebelumnya sebesar $2.03 triliun pada 2012. Itu juga artinya angka ini naik sebesar 12,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di AS. Fakta ini didapat dari Bureau of Economic Analysis, Industry Economic Accounts (2012).

Sementara itu, fakta lain yang membuat pertumbuhan ekonomi di AS mengalami peningkatan adalah bahwa industri manufaktur di AS menjadi manufaktur paling produktif di dunia, jauh melebihi produktivitas pekerja dalam bidang ekonomi lainnya, sehingga inilah yang menjadi penyebab upah para pekerja manufaktur di AS lebih tinggi dan telah mencapai standar upah hidup layak. Fakta satu ini didapat dari perhitungan The National Association of Manufacturers (NAM) berdasarkan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Fakta yang sama ditemukan oleh Boston Consulting Group (BCG) baru-baru ini, seperti dilansir businessweek, yang menyebutkan bahwa para produsen di AS telah meningkatkan daya saingnya.

Dalam laporannya, BCG membuat daftar 25 perusahaan ekspor terbesar di dunia dengan penilaian indikator berdasarkan biaya produksi langsung, upah pekerja, produktivitas, dan juga dari faktor penggunaan energi dan gas alam.

Dalam daftar tersebut, masuk nama Indonesia dan India dengan kategori produk paling murah dari segi biaya langsung. Tapi menurut Justin Rose, co-author dari laporan BCG, Indonesia dan India memiliki masalah lain yang lebih serius, seperti infrastruktur yang buruk.

Sedangkan 10 besar perusahaan yang masuk dalam daftar tersebut, berhasil mencapai sekitar 70 persen dari ekspor global yang diproduksi dan karena itu, hal tersebut menjadi pilihan bagi sebagian perusahaan mencari lokasi baru untuk membangun pabrik mereka.

Baca juga  Industri Manufaktur Ditargetkan Tumbuh 5,80 Persen di Tahun 2024

Dalam daftar yang di buat BCG, Cina masih tetap memimpin sebagai ‘bintang’ yang produknya mendunia.

Meskipun sempat mengalami defisit perdagangan barang-barang manufaktur, namun AS berhasil menempati posisi ke-2, tepat di bawah Cina.

Kemudian ada Jerman yang menempati posisi ke-7, dengan keunggulannya dalam memanfaatkan penggunaan energi, seperti pembangkit tenaga listrik untukindustri manufakturnya. Meskipun dari segi biaya kerja, hasil rankingnya tidak terlalu memuaskan bagi Jerman.

Rose juga mengatakan bahwa peringkat yang relatif baik yang ditempati produsen AS bisa menjadi sebuah review untuk perjalanan industri manufaktur dunia di waktu mendatang. “Poin penting dari pengerjaan laporan ini (BCG Report-Red) adalah untuk mengetahui tingkat daya saing  dari produsen dunia yang berkembang cepat dari waktu ke waktu,” katanya.***