Failure Mode and Effects Analysis, atau FMEA, adalah tool anti-kesalahan yang digunakan dalam implementasi metode Lean Six Sigma, yang bertugas untuk “meneliti dan memeriksa dengan sangat detail mengenai mengapa dan bagaimana sesuatu dapat menyimpang dari harapan (berpotensi gagal).”

Dalam proyek-proyek improvement, FMEA dilakukan untuk secara sistematik:

  • Mengidentifikasi potensi kegagalan/kesalahan produk ataupun proses
  • Mencatat efek yang akan timbul jika benar-benar terjadi kegagalan/kesalahan
  • Menemukan sebab-sebab potensial dari kesalahan tersebut dan resiko yang ditimbulkan
  • Membuat daftar dan prioritas tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko kegagalan/kesalahan.

Bagaimana Melakukan FMEA?

Langkah-langkah FMEA adalah sebagai berikut:

  1. Identifikasi potensi modus kesalahan untuk setiap langkah atau input dalam proses anda.
  2. Ketahui efek dari kesalahan yang berhubungan dengan modus kegagalan tersebut.
  3. Identifikasi penyebab potensial dari modus kegagalan tersebut.
  4. Buat daftar tindakan dan kontrol yang ada untuk mencegah terjadinya penyebab potensial tersebut.
  5. Tetapkan angka-angka yang menggambarkan besarnya kerugian (severity) dari efek kesalahan, kemungkinan terjadi kesalahan berulang (occurence), dan kesempatan untuk mendeteksi (detection) modus kegagalan sebelum menyebabkan defect (cacat).
  6. Kalikan angka untuk severity, occurence, dan detection untuk mendapatkan risk priority number (RPN).
  7. Lakukan perbaikan untuk setiap item yang memiliki RPN tinggi. Dokumentasikan setiap tindakan yang dilakukan, dan revisilah RPN.
  8. Pergunakan dokumen FMEA secara aktif.

Anda dapat menggunakan pensil dan kertas untuk melakukan FMEA. Beberapa software statistik juga menyajikan lembar kerja FMEA yang siap pakai.

Kegunaan FMEA

Ketika anda telah melakukan FMEA, anda akan memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan berikut:

  • Apa saja potensi modus kesalahan pada setiap langkah proses?
  • Apa saja efek potensial untuk setiap modus kesalahan yang dapat terjadi pada output proses, dan seberapa besar kerugian yang ditimbulkan?
  • Apa saja penyebab potensial untuk setiap modus kesalahan dan seberapa sering terjadinya?
  • Seberapa baik kemampuan anda untuk mendeteksi sebuah penyebab potensial sebelum ia menyebabkan modus kesalahan dan efeknya?
  • Bagaimana anda dapat menentukan nilai resiko untuk sebuah langkah proses, yang menjadi faktor untuk penyebab, tingkat kerugian dari kesalahan, dan kemampuan untuk mendeteksi penyebab sejak awal?
  • Bagian proses mana yang harus menjadi target improvement?
  • Input yang mana yang sifatnya vital untuk proses, dan mana yang tidak?
  • Bagaimana mendokumentasikan rencana tindakan sebagai bagian dari kontrol proses?
Baca juga  Inovasi, Jawaban atas Tantangan Zaman

Kapan Menggunakan Hasil FMEA?

FMEA adalah tool yang berguna pada tahap awal sebuah proyek improvement, karena FMEA mengumpulkan dan mengorganisir data mengenai proses. Data ini berguna untuk membantu anda mengidentifikasi dan menetukan cakupan proyek. FMEA juga berguna untuk mengidentifikasi dan menyaring potensi vital X ketika anda telah menyelesaikan proyek. Pada akhir proyek, anda dapat menggunakan FMEA untuk mendokumentasikan status proyek, sebagai referensi rencana tindakan, dan mencatat setiap perbaikan yang dibutuhkan oleh proses di masa depan.