Salah mengambil keputusan. Siapa yang tak takut dengan hal yang satu ini. Apalagi jika akibat yang ditanggung setelah melakukan kesalahan ini bisa fatal. Bahkan mungkin ada kesalahan di masa lalu yang masih membekas di benak Anda dan mempengaruhi sikap Anda dalam mengambil keputusan hingga saat ini.

Memang normal dan manusiawi jika Anda menjadi sedikit “trauma” setelah menyadari bahwa Anda telah salah mengambil keputusan, apalagi jika dampak dari keputusan tersebut besar. Tetapi hati-hati, karena seringkali respon ini bergerak dalam mode overdrive, artinya karena kesalahan yang kita lakukan, kita jadi menutup diri terhadap kemungkinan positif yang bisa terjadi ketika keputusan yang sama kita buat untuk situasi dan waktu yang berbeda.

Sayang kan jika nantinya Anda malah melewatkan kesempatan besar hanya karena Anda menjadi takut untuk melangkah dan mengambil keputusan. Seperti sebuah kisah nyata berikut ini.

[cpm_adm id=”10763″ show_desc=”no” size=”medium” align=”left”]

Saat usia empat tahun, saya tak sengaja menyentuh sebuah kabel berarus yang ternyata dalam posisi terbuka di dekat meteran listrik. Saya tersengat sangat hebat dan tidak bisa melepaskan jari saya dari arus listrik tersebut. Rasanya lama sekali sampai paman saya berhasil mendorong saya hingga lepas dari sengatan listrik tersebut. Seluruh tubuh saya menggigil dan lemas akibat sengatan listrik dan shock.

 Sejak saat itu, saya menjadi trauma dengan segala hal yang berbau listrik. Setiap kali melihat stop kontak, misalnya, saya lebih memilih menjauh. Tentu saja hal ini membuat saya tidak mampu mengoperasikan segala peralatan listrik yang membutuhkan sumber listrik dari stop kontak. Belum lagi kalau melihat lampu pijar, saya langsung merasa tidak percaya dengan keamanan lampu tersebut.

Moral of The Story

Baca juga  Tidak perlu bingung, ini beda value add dengan value enabler

Bagaimana menurut Anda mengenai cerita tersebut? Mungkin Anda tersenyum, prihatin, atau memaklumi. Tetapi tanpa disadari mungkin Anda pernah mengalami hal serupa untuk kesalahan yang dilakukan dalam perusahaan. Pernahkah Anda mengalami salah satu dari kejadian berikut ini?

  1. Anda merekrut seorang fresh graduate. Curriculum Vitae orang tersebut dapat tampak baik, saat interview orang itu juga terkesan percaya diri dengan jawaban yang memuaskan, gaji yang dimintapun Tetapi pada saat mulai bekerja, performanya tak seperti yang diharapkan alias banyak kekurangan.

Anda lalu merasa “kapok” untuk merekrut seorang fresh graduate, sehingga Anda memutuskan tidak akan lagi melakukan perekrutan untuk seorang fresh graduate.

  1. Setelah menyusun sebuah proposal untuk perbaikan yang telah Anda kerjakan dengan maksimal dan data akurat, Anda menyerahkannya ke manajemen perusahaan. Namun, manajemen menolak proposal tersebut karena dinilai kurang menjanjikan. Kemudian Anda merasa semua proposal perbaikan yang kita siapkan pasti akan ditolak oleh manajemen, sehingga Anda tidak ingin lagi membuat proposal perbaikan apapun.
  2. Anda menginvestasikan sejumlah uang yang nilainya besar untuk sebuah campaign iklan dalam rangka mendongkrak penjualan. Setelah campaign itu berjalan selama setahun, ternyata tidak memberikan dampak signifikan terhadap penjualan. Aanda merasa campaign iklan tersebut tidak efektif hingga Anda memutuskan untuk tidak pernah lagi menginvestasikan uang untuk beriklan.

[cpm_adm id=”10097″ show_desc=”no” size=”medium” align=”right”]

Padahal, bisa saja yang terjadi sebenarnya adalah seperti ini:

  1. Saat merekrut fresh graduate ke dalam sebuah perusahaan. Seorang yang baru lulus kuliah tentunya memiliki zero experience dan membutuhkan banyak bimbingan. Modal mereka hanyalah IQ, EQ, dan AQ.

Mungkin analisa Anda kurang saat menilai  menilai tiga hal yang dimiliki tersebut saat wawancara. Mungkin pula, orang tersebut tak diberikan guideline dan support yang cukup, tanpa mentor yang mendampingi, atau tugasnya kurang sesuai dengan kondisinya yang tidak memiliki pengalaman kerja

Baca juga  Inspirasi dari Lapangan: Pelajaran Operational Excellence dari Permainan Basket

Banyak kemungkinan, namun intinya ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan kegagalan seorang fresh graduate dalam pekerjaannya, yang tidak ada hubungannya dengan keputusan kita untuk merekrut seorang fresh graduate.

  1. Saat memberikan proposal perbaikan. Pada umumnya, manajemen akan menyetujui sebuah proposal bila proposal tersebut sejalan dengan strategi perusahaan saat ini, memiliki ROI yang baik, membutuhkan resources yang tidak melebihi kemampuan perusahaan, waktu pelaksanaan tidak bertabrakan atau sejalan dengan inisiatif lainnya, dan memiliki tingkat resiko yang dapat diterima – resiko finansial, resiko konflik dalam organisasi, dan resiko hilangnya waktu yang dapat digunakan untuk aktifitas lain yang lebih bermanfaat.
  1. Saat berinvestasi untuk kampanye iklan. Keberhasilan sebuah kampanye iklan memiliki banyak faktor. Misalnya, media iklan perlu disesuaikan dengan tipe produk atau layanan yang ditawarkan. Penempatan iklan pun harus sesuai dengan target market. Selain itu, pesan yang disampaikan pada iklan harus sesuai dengan apa yang dicari target market kita – value proposition dari produk atau layanan tersebut harus sesuai dengan kebutuhan market kita.

Dari sini, ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik saat kita menyadari kita telah membuat sebuah kesalahan:

  1. Terima kenyataan

Terima kenyataan dengan lapang dada bahwa kita memang sudah melakukan kesalahan dan itu wajar. Tidak ada yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Terimalah dengan rasa positive sehingga di kemudian hari kita tak menutup diri sehingga bisa melewatkan sebuah kesempatan baik.

  1. Sadari keputusan harus dilakukan

Sebuah pepatah manajemen berkata: “If you don’t make any decision, you already do”. Artinya, pasti ada kemungkinan munculnya dampak yang tidak sesuai harapan di kemudian hari. Jadi, suka atau tidak, kita tetap harus memiliki keberanian untuk mengambil sebuah keputusan.

  1. Mempelajari dengan lebih rinci apa yang terjadi.
Baca juga  Tantang Diri Anda di OPEXCON Project Competition 2024!

Inilah yang paling berharga dari sebuah kesalahan. Ketika kita menyadari sebuah kesalahan telah terjadi, kita perlu memperdalam pemahaman kita tentang kesalahan tersebut. Tiga hal yang perlu dilakukan dalam proses pemahaman ini:

  1. Gunakan data dan observasi, hindari asumsi.
  2. Pahami input – proses – output dari keputusan yang kita ambil. Pahami letak permasalahan yang sesungguhnya, pada input-input dan proses yang mempengaruhi output.
  3. Pelajari konflik yang terjadi. Di beberapa kasus, munculnya masalah bukan pada input maupun prosesnya, melainkan pada stakeholders dan para pelaku, di mana mereka merasa resistan, tidak percaya, atau bingung terhadap keputusan yang diambil.

Dengan kata lain, seringkali permasalahan yang sebenarnya terjadi adalah bukan pada keputusan yang kita ambil, melainkan karena faktor yang muncul setelah keputusan itu diambil. Pelajari faktor-faktor tersebut, maka kita akan lebih banyak mendapatkan insight terhadap apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana kita memperbaikinya.

Semoga contoh tersebut dapat memberikan perspektif baru terhadap kesalahan-kesalahan yang kita buat. Pebasket dunia Michael Jordan pernah berkata, “I’ve missed more than 9000 shots in my career. I’ve lost almost 300 games. 26 times, I’ve been trusted to take the game winning shot and missed. I’ve failed over and over and over again in my life. And that is why I succeed.”

Pilihannya di tangan Anda.