SHIFT SSCX News Semen Gresik

Inefisiensi biaya industri salah satunya disebabkan, tidak adanya infrastruktur serta ketersediaan energi yang memadai. Salah satu yang merasakan hal tersebut adalah pabrik packing-plan PT Semen Indonesia, di Sorong, Papua Barat.

Manager Sub Logistik packing plan PT Semen Indonesia, Choirul Zaki menuturkan, pasokan listrik dari PT PLN sangat minim. Seringnya pemadaman listrik pun membuat biaya operasional, tinggi. “Di sini setiap hari bisa mati listrik sampai 10 kali per harinya. Kalau begini terus, ini yang membuat biaya operasional kita membengkak,” ungkap Zaki saat di temui di lokasi pabrik, Sorong, Papua Barat, seperti dikutip Kompas.com.

Sebagai alternatif solusi saat terjadi pemadaman, pabrik yang mulai beroperasi pada Januari 2013 ini juga dilengkapi dengan genset. Secara otomatis, genset akan hidup dan menyalakan mesin-mesin produksi  ketika listrik padam.

“Kendala yang pertama itu adalah dari pasokan listirk dari PLN, karena sering byar-pet, byar-pet, byar-pet terus. Tapi, kita tetap bisa memitigasi resiko, kita gunakan genset,” kata Zaki.

Zaki mengatakan, pihaknya terus membeli 200 liter solar setiap 10 hari, menyusul langkanya bahan bakar fosil itu di wilayah ini. Padahal, lanjut dia 50 liter solar hanya mampu menggerakkan mesin-mesin selama maksimal empat jam saja.

“Tapi memang kita beli solar non-subsidi agak susah nyarinya, kita harus beli di kota,” ujar dia.

Selain minimnya pasokan listrik, infrastruktur jalan juga diakui Zaki menjadi kendala tersendiri bagi industri semen. “Yang kedua, (kendalanya) infrastruktur logistik khususnya jalan raya, karena di Sorong masih dalam tahap perbaikan,” ucap Zaki.

Melihat sejumlah kendala tersebut, Zaki berharap pemerintah segera mempercepat pemerataan pembangunan sampai wilayah timur Indonesia. Infrastruktur yang memadai akan berdampak positif bagi pertumbuhan industri. Zaki mengatakan, permintaan semen untuk konstruksi perumahan dan perkantoran terus meningkat. Sejak Januari tahun lalu, pabrik ini telah memproduksi lebih dari 144.000 ton semen.***

Baca juga  Kenapa Six Sigma Menjadi Metode Improvement Paling Diminati di Tahun 2024?