Penetapan standar untuk “good housekeeping” (penataan kerja yang baik) harus selalu ada di dalam sebuah organisasi, baik itu jika Anda berada di sebuah lubang lumpur basah kuyup dari area konstruksi atau di pabrik alloy. Tidak ada perusahaan yang dibebaskan dari penetapan standar penataan kerja yang baik, meskipun memang ada standar yang berbeda antara perusahaan pabrikan semen dengan perusahaan yang berbasis teknologi.

Standar yang Legal

OSHA mengatur standar untuk berbagai jenis perusahaan – selama itu masih berhubungan dengan isu-isu legalitas dari berbagai industri secara umumnya, konstruksi dan peraturan-peraturan lainnya. OSHA memang jarang mengutip mengenai standar ini, namun saat mereka mulai menyinggung hal tersebut, ada saja para pimpinan yang lupa bahwa standar penataan ini masih terus digunakan dan mereka yang benar-benar tidak perduli mengenai para karyawannya. Seharusnya para pemimpin ini tidak menyepelekan efek dari standar penataan yang buruk. Isu tersebut sering menjadi keluhan utama bagi pihak yang berkaitan dengan hal bertanggung jawab menetapkan standar tersebut.

Standar OSHA 1910.22(a)(1) menyatakan, “semua tempat kerja yang ditujukan bagi karyawan, harus benar-benar aman dan dapat menjamin keselamatan kerja para karyawan.” OSHA juga mengatur standar untuk berbagai area kerja yang biasa di lewati ataupun sering dilakukan aktivitas kerja, akses ke alat pemadam dan panel listrik, atau terkait dengan jalan keluar. Seperti yang Anda harapkan juga, fokus utama OSHA sebenarnya adalah tentang bahaya dari aktivitas kerja yang sering dilakukan atau area yang dilalui para karyawan, seperti adanya bahaya yang disebabkan karena paku atau benda-benda tajam lainnya, pemblokiran akses, akumulasi debu yang mudah terbakar dan juga hal-hal berbahaya lainnya.

Baca juga  Ikuti 5 Kaidah ini agar Problem Solvingmu Berhasil

Ketika petugas kepatuhan OSHA melihat adanya standar penataan kerja yang buruk, Anda akan segera mengetahui bahwa mereka akan memeriksa persyaratan dari standar pelatihan, dan juga penanganan yang diterapkan untuk bahan-bahan kimia dalam perusahaan Anda. Dan jika Anda tidak cukup perduli mengenai kelalaian tersebut dan tidak berusaha untuk memperbaiki nya, maka industri Anda tidak akan mendapatkan ijin pelatihan kembali.

Akibat yang di Timbulkan dari Standar Penataan Kerja yang Buruk

Penataan kerja yang baik memberikan dampak yang baik. Jika tempat kerja tidak berfokus pada penataan kerja yang baik, pada para karyawannya, pada para vendornya, dan juga tidak perduli dengan hal-hal lainnya yang membutuhkan tindakan yang berkaitan dengan proses produksi, maka Anda tidak bisa mengharapkan adanya continuous improvement yang berkualitas dari perusahaan tersebut. Dan juga rendahnya tingkat keselamatan kerja dalam perusahaan tersebut.

Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa ada konstruksi yang berantakan pada area kerja, material yang berpindah-pindah, dan di ditempatkan ulang hingga enam sampai tujuh kali tanpa alasan yang tepat. Dengan hal seperti ini bagaimana perusahaan tersebut dapat menanamkan akuntabilitas dalam aktivitas pengawasan yang menjadi tujuan utama demi tercapainya keselamatan kerja yang baik, dan juga bagaimana bisa perusahaan tersebut membangun budaya karyawan yang melibatkan seluruh karyawan tersebut. Hal ini tentu saja menjadi masalah.

3 Langkah untuk Menciptakan Penataan Kerja yang Lebih Baik

  1. Terapkan tujuan yang jelas. Jelaskan secara rinci pengertian dari “good housekeeping”, buatlah rencana tertulis, bangunlah struktur akuntabilitas yang baik, dan tambahkan kategori self-audit.
  2. Berikan pelatihan kepada supervisor agar mereka lebih sensitive dan perduli terhadap isu-isu yang dapat menghancurkan moral dan budaya produktivitas perusahaan.
  3. Terapkan standar penataan kerja yang baik sebagai peringatan awal untuk isu-isu yang menyangkut tenaga kerja dan para karyawan perusahaan.
Baca juga  The Power of Daily Improvement