Industri Makanan dan Minuman berhasil mendongkrak pertumbuhan PDB nasional sebesar 33,6 persen pada kuartal III 2016. Sebuah pencapaian yang besar tentunya.

Mengalami pertumbuhan yang pesat bukan berarti Industri Makanan dan Minuman tidak menemui tantangan di Tahun 2017, tantangan tentu akan semakin besar. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto dalam acara breakfast meeting industri makanan dan minuman di Kemenperin, Jakarta, Selasa (7/2/2017), bahwa Industri Makanan dan Minuman mengalami tantangan terkait sertifikasi halal dan kemasan produk yang ramah lingkungan. Daur ulang packaging (kemasan) masih menjadi kendala karena masyarakat sebagai konsumen masih belum terbiasa melakukan pemisahan sampah. Padahal kalau pemisahan sampah ini dilakukan, pasti pelaku industri dapat mendaur ulangnya.

Daur ulang kemasan memang menjadi masalah serius bagi perusahaan makanan dan minuman. Isu dunia yang paling mengusik adalah lingkungan. Dan perusahaan mempunyai tanggungjawab moral terhadap lingkungan di sekitarnya.

[cpm_adm id=”11945″ show_desc=”no” size=”medium” align=”left”]

Starbucks, perusahaan kopi yang mempunyai jaringan kedai kopi global sempat mengalami masalah dengan kemasan coffee to go. Problem yang mengadu nilai perusahaan dengan keinginan pelanggan. Meningkatnya penjualan kemasan untuk dibawa pergi oleh pelanggan memang menjadi angka positif penjualan, namun hal ini memicu permasalahan lingkungan. Semakin banyak cangkir yang berakhir menjadi sampah. Lalu bagaimana Starbucks menyelesaikannya? Dalam buku Pour Your Heart In to It, Bagaimana Starbucks Membangun Sebuah Perusahaan Secangkir demi Secangkir, Howard Scultz menyatakan bahwa Starbucks mengambil beberapa langkah sistematis untuk menjawab permasalahan lingkungan, yaitu:

Starbucks membentuk sebuah Environmental Committee (Komite Lingkungan) untuk mencari cara yang sistematis guna mengurangi dan mendaur ulang sampah serta menyumbang upaya-upaya lingkungan masyarakat setempat

Baca juga  3 Konsep Penting dalam Metode Lean

Tim Hijau yang terdiri dari para manajer store dari seluruh daerah setiap tiga tahun sekali bertemu dengan manajer senior dan wakil-wakil departemen untuk mengkoordinasikan rencana-rencana kegiatan hari bumi.

Store sering menyelenggarakan Green Sweepes (gerakan sapu hijau) dengan mengirimkan orang-orang untuk membersihkan sampah di lingkungan mereka.

Starbucks mengurangi jumlah peralatan plastik yang dibuang dengan menyingkirkan sendok-sendok plastik dan pisau dari bar dan hanya memberikan hanya kepada yang memintanya.

Starbucks menawarkan diskon khusus kepada pelanggan yang membawa cangkir sendiri.

Starbucks menjual mug kepada commuter dan menyajikan minuman dengan cangkir porselin untuk pelanggan yang singgah .

Membentuk sebuah “Tim Cangkir Panas” dengan anggota dari urusan lingkungan untuk menangani R&D, pembelian, pemasaran, operasi eceran.

[cpm_adm id=”12044″ show_desc=”no” size=”medium” align=”none”]