Hampir tidak ada perusahaan atau organisasi yang berhasil mewujudkan Lean tanpa menerapkan budaya continuous improvement. Banyak referensi baik dari penelitian ataupun saran-saran dari praktisi terkait bagaimana melakukan continuous improvement dengan baik. Namun apakah Anda sudah memahamai tujuannya?

Masalah apa yang kita coba pecahkan? Mengapa proses ini dilakukan? Kita melakukannya untuk siapa? Pertanyaan seperti ini sering terabaikan oleh pelaku improvement. Oleh karena itu, ada banyak contoh saran perbaikan yang muncul tanpa arahan, di sisi lain mereka semua mengandalkan saran perbaikan sebagai continuous improvement. Orang-orang perlu arahan dan, pertama-tama, sebuah pemahaman tentang alasan mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan.

Dalam rangka membangun budaya Lean dan continuous improvement“the big picture” atau gambaran besarnya dan alasan Toyota mengembangkan tools dan teknik ini.

Kenyataannya, banyak perbaikan hanya fokus pada kegiatan jangka pendek, yang tidak memperbaiki sistem tetapi hanya mencapai satu sasaran, sehingga hanya menyebabkan penambahan biaya. Salah satu masalah yang sering muncul adalah bahwa mereka sering merancang dan mengimplementasikan perbaikan untuk alasan yang salah.

Pimpinan percaya bahwa, jika semua dilakukan sesuai standar dengan memastikan orang-orang (operator dan manajer) mengikutinya, semuanya akan baik. Penilaian dan audit akan diteruskan dan semua orang akan mengumpulkan bonus mereka. Dengan kata lain, semua proses berjalan baik.

Dalam mewujudkan layanan yang sesuai, kita harus menghindari pemberian layanan yang standar dan pemikiran pun juga harus dibalik. Dimulai dengan memahami apa masalah yang sedang kita coba untuk pecahkan. Kemudian mengukur peningkatan kinerja sistem dan menyesuaikan mengikuti siklus PDCA. Akibatnya, orang akan melihat serangkaian perbaikan dan banyak ide serta pemahaman akan teori yang harus ditinggalkan karena tidak memperbaiki sistem.

Baca juga  3 Mindset yang Mendorong Budaya Continuous Improvement

Nah, ini bisa kita sebut sebagai continuous improvement, mereka ada sebagai hasil, bukan tujuan. Tujuan sebenarnya adalah untuk meningkatkan kinerja sistem dan tidak menempatkan standar di tempat.

Dalam sistem pelayanan kesehatan, ada alasan yang baik untuk memiliki standar layanan yaitu untuk memastikan perawatan yang tepat bagi pasien. Namun, ini dirancang pada tingkat yang tepat, dimana kompetensi dokter dan perawat tidak pernah ditinggalkan. Singkatnya standar layanan dibuat untuk memastikan tingkat layanan yang tepat, selalu meliputi pemahaman tentang tujuan, yakni mengapa dan untuk apa Anda melakukannya.