Virus Nipah kembali mencuri perhatian publik setelah laporan terbaru dari India menunjukkan adanya kasus infeksi yang muncul, khususnya di Negara Bagian Benggala Barat. Terdapat dua tenaga kesehatan dilaporkan terkonfirmasi positif virus nipah setelah menunjukkan gejala serius pada akhir Desember 2025 dan kini sedang menjalani perawatan intensif.
Meski bukan termasuk penyakit baru karena pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada 1998, kehadirannya tetap memicu kekhawatiran publik. Isu ini pun mendorong peningkatan kewaspadaan, termasuk di sejumlah bandara yang mulai memperketat pengawasan terhadap wisatawan mancanegara, terutama mereka yang datang dari India.
Apa itu Virus Nipah?
Virus nipah adalah virus zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Virus ini pertama kali muncul di kalangan peternak babi Malaysia pada 1998. Sejak saat itu, virus ini terus menjadi perhatian dunia. Penyebab utama virus nipah adalah kelelawar buah dari genus Pteropus, atau flying foxes. Virus nipah bisa menyebar dari hewan ke manusia, makanan yang terpapar cairan tubuh hewan terinfeksi, atau dari manusia ke manusia melalui kontak cairan tubuh seperti air liur, darah, dan urin. Sejak awal kemunculannya hingga saat ini, virus nipah telah dilaporkan di negara Malaysia, Singapura, Bangladesh, dan Filipina. Angka penyebaran terbesar terjadi di negara India dan Bangladesh hingga menyebabkan kematian sekitar 40–75 persen.
Selain menimbulkan demam, pasien yang terinfeksi virus ini akan mengalami beberapa gejala seperti sakit kepala, muntah, sakit tenggorokan, maupun masalah pernapasan seperti batuk, sulit bernapas, dan pneumonia. Lebih parah lagi, virus ini juga dapat menyebabkan peradangan otak seperti kejang, penurunan kesadaran, hingga koma.
Pengobatan dan Pencegahan
Hingga saat ini, belum ada obat antivirus yang efektif untuk melawan virus nipah. Pengobatan yang biasanya dilakukan hanya bertujuan untuk meringankan rasa sakit dan mencegah komplikasi. Seperti memberikan obat pereda nyeri, oksigen atau ventilator, obat anti kejang dan cairan intravena untuk mengatasi dehidrasi.
Meskipun begitu, dilansir dari Kompas, beberapa organisasi dan perusahaan farmasi telah berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan vaksin Nipah, termasuk uji klinis vaksin fase II yang direncanakan akan dimulai di Bangladesh pada Desember 2025. Namun, dikarenakan kasus yang terjadi relatif jarang ditemukan, efektivitas vaksin masih sulit diukur. Bahkan, implementasi vaksinasi juga menghadapi tantangan, terutama dari sisi penerimaan masyarakat.
Dalam menghadapi virus ini, pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun dan air mengalir, menghindari kontak langsung dengan hewan kelelawar dan babi terutama hewan yang sakit, serta menghindari konsumsi buah-buahan yang telah terkontaminasi dengan kelelawar.
Sikap Pemerintah Indonesia
Menyikapi potensi penyebaran virus nipah di Indonesia, pemerintah telah melakukan langkah-langkah penjagaan ketat dengan melakukan pengawasan terhadap orang atau barang yang masuk ke Indonesia dari negara atau daerah yang melaporkan adanya kasus penyakit nipah.
“Setiap pelaku perjalanan yang kembali ke Indonesia dari luar negeri wajib melapor pada aplikasi All Indonesia untuk menjaring pelaku perjalanan yang mengalami gejala dan berasal dari negara terjangkit, untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan/anamnesis lebih lanjut,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman dilansir dari Detik.com.
Di Indonesia sendiri, berdasarkan studi tahun 2025, virus nipah telah terdeteksi pada kelelawar dari pasar hewan di Yogyakarta dan Magelang. Temuan ini mengindikasikan adanya transmisi regional serta kemungkinan penularan lokal di antara kelelawar. Luasnya sebaran kelelawar buah di dalam negeri juga dikhawatirkan bisa memicu penyebaran virus ke masyarakat.
Dengan demikian, menurut Peneliti Ahli Utama Virologi, Emerging dan Re-emerging Diseases BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti penting untuk melakukan pendekatan One Health di mana berbagai sektor mulai dari kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan lingkungan bersatu untuk melakukan pemantauan dan pengendalian risiko penularan virus.
Referensi:
Azhari, F. (2026, Januari). Virus Nipah: gejala, penyebaran, dan pencegahannya. Halodoc.
https://www.halodoc.com/kesehatan/virus-nipah?srsltid=AfmBOoq5B5CO8Ard618AJ4wjTvdD1QDWDMDul41mO-JgjFudHnNmc_EN
BBC News. (2026, Januari 29). Apa itu virus Nipah dan apa bahayanya di tengah wabah di India. BBC News.
https://www.bbc.com/news/articles/cd7zp581q5do
Ellis-Petersen, H. (2026, Januari 28). What is Nipah virus? Outbreak in India and symptoms. The Guardian.
https://www.theguardian.com/science/2026/jan/28/what-is-nipah-virus-outbreak-india-symptoms
Jakarta Globe. (2026, Januari 27). Soekarno-Hatta Airport strengthens screening of international travelers amid Nipah virus concerns. Jakarta Globe.
https://jakartaglobe.id/lifestyle/soekarnohatta-airport-strengthens-screening-of-international-travelers-amid-nipah-virus-concerns (Jakarta Globe)
Rahmawati, D. (2026, Januari). Kemenkes pastikan belum ada kasus virus Nipah di RI, imbau warga tetap waspada. detikNews.
https://news.detik.com/berita/d-8330473/kemenkes-pastikan-belum-ada-kasus-virus-nipah-di-ri-imbau-warga-tetap-waspada
Prihatni, Z., & Widyanti, N. Y. W. (2026, Januari 29). BRIN ingatkan potensi virus Nipah di Indonesia: kelelawar jadi sorotan. Kompas.com.
https://lestari.kompas.com/read/2026/01/29/090759586/brin-ingatkan-potensi-virus-nipah-di-indonesia-kelelawar-jadi-sorotan