Lean adalah tentang bagaimana melakukan pekerjaan sehingga bisa memberikan nilai tambah bagi organisasi. 

Untuk menciptakan perbaikan, mengetahui kondisi aktual pekerjaan adalah syarat. Perubahan hanya akan terjadi jika setiap anggota organisasi memahami apa pekerjaan mereka kemudian mendefinisikannya kembali. Inilah rahasia mengapa organisasi yang Lean selalu memiliki karyawan garis depan yang secara sukarela terus meningkatkan nilai dalam pekerjaannya.

Seperti kita, setiap orang datang untuk bekerja setiap hari dan melakukan pekerjaan masing-masing. Ada begitu banyak departemen, ada banyak sekali tugas. Karena keberagamanan ini, maka sangatlah penting untuk membangun sikap “saling menghormati”.

Lean Thinking

Lean mendukung orang untuk membangun kerjasama dan rasa percaya satu sama lain untuk memecahkan masalah dan memperbaikinya bersama, dalam istilah Toyota disebut upaya menambah nilai. Oleh karena itu, perusahaan yang Lean akan membangun bisnis mereka dari pekerjaan. Mereka melakukan pekerjaan berdasarkan nilai yang akan diberikan kepada pelanggan, memprioritaskan pekerjaan yang menyelesaikan masalah pelanggan.

Motivasi dalam Lean bergantung pada keyakinan, yaitu keyakinan kita akan memperoleh hasil dengan mencari metode yang tepat, keyakinan kita tahu apa yang menjadi standar kita, keyakinan kita dapat mengeksplorasi apa yang tidak kita lakukan sebelumnya (problem solving dan kaizen), keyakinan pada tim dan manajemen (masalah disambut sebagai sumber kemajuan), dan kepercayaan diri sehingga bisa menghadapi tantangan organisasi.

Transformasi lean lebih pada mengubah hubungan seseorang dengan pekerjaan seseorang. Mengembangkan daya tanggap, kesadaran, dan perhatian yang lebih besar pada pekerjaan seseorang yang juga berarti mengembangkan peran seseorang ke dalam organisasi yang lebih luas. Untuk meningkatkan peranan tersebut setiap karyawan di organisasi dilatih untuk dapat:

1. Melakukan observasi atau pengamatan masalah dalam pekerjaan yang mereka lakukan

Baca juga  FMEA: Menyelamatkan Organisasi dari “Bencana” Kegagalan

2. Membuat respons cepat untuk memperbaiki kondisi akibat masalah tersebut

3. Memunculkan beberapa ide untuk membuat kondisi lebih baik di waktu lain (segera)

4. Mencoba ide-ide tersebut dan menilai/ mengevaluasi dampak yang dihasilkannya untuk menemukan solusi terbaik.

Dengan langkah ini setiap karyawan akan terbiasa untuk menyelesaikan masalah dan mencegahnya terulang kembali di masa datang, selain itu mereka juga terdorong untuk selalu mencari tantangan baru menjadikan setiap masalah sebagai celah untuk melakukan perbaikan berkelanjutan dengan tujuan yang tidak lain adalah untuk menambah nilai bagi organisasi.