SHIFT SSCX MAE dan industri lokal

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan segera dimulai pada akhir 2015 mendatang. MEA yang berarti pasar tunggal ASEAN memungkinkan transportasi barang, modal, dan tenaga kerja di antara negara-negara kawasan Asia Tenggara.

Pasar tunggal ASEAN adalah kesempatan sekaligus tantangan

Head of Global Markets Euromoney Conference Nicholas Hayward memandang pasar tunggal ASEAN sebagai sebuah kesempatan. Ini karena kawasan ASEAN merupakan potensi ekonomi yang sangat besar.

“Pasar tunggal ASEAN adalah kesempatan. Tahun depan akan ada arus transportasi orang, modal, barang, jasa dan sebagainya. Kawasan ASEAN adalah potensi besar dengan total penduduk mencapai 600 juta jiwa dan produk domestik bruto (PDB) mencapai 2,3 triliun dollar AS,” kata Nicholas pada acara “The ASEAN Economic Congress” di Jakarta, seperti dikutip Kompas.com.

Menurut Nicholas, MEA seharusnya dijadikan kesempatan bagi investor untuk memperluas bisnisnya dengan berinvestasi di kawasan Asia Tenggara. Kawasan ini, lanjutnya, merupakan kawasan yang tumbuh sangat pesat. Bahkan pada tahun 2050 mendatang ASEAN diprediksi menjadi ekonomi terbesar kelima dunia.

“MEA menyediakan kesempatan yang sangat baik bagi investor, dengan pasar yang besar, ekonomi yang tumbuh sangat pesat. ASEAN adalah rumah bagi pertumbuhan yang pesat,” ujarnya.

Namun demikian, Nicholas tak lupa menyebut beberapa tantangan yang masih harus dibenahi negara-negara ASEAN sebelum menghadapi MEA tahun depan. Ia mengungkapkan kebijakan yang harus dibuat secara progresif dan transparansi kebijakan.

***

Tidak lebih dari dua tahun lagi pergerakan barang, modal, jasa, investasi dan orang yang telah disepakati  akan bebas keluar masuk di antara negara anggota ASEAN, alias tanpa hambatan baik tarif maupun nontarif.

Ini tantangan sekaligus peluang. Peluang, karena produk-produk Indonesia akan mendapat pasar di kawasan ASEAN, yang total masyarakatnya pada 2012 mencapai 617,68 juta jiwa dengan pendapatan domestik bruto 2,1 triliun dolar AS.

Baca juga  OPEXCON: Mendorong Budaya Inovasi di Indonesia Melalui Pengembangan Skill dan Kompetensi

Namun, juga menjadi tantangan, karena jika kita tidak siap maka justru produk dari negara ASEAN lainnya yang akan menyerbu Indonesia.

Tantangan menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN ini juga diingatkan oleh Menteri Perdagangan Gita Wiryawan. Ia mengatakan agar seluruh pemangku kepentingan bersiap dengan MEA 2015. Dampak negatif dan positif dari realisasi pasar tunggal ASEAN tersebut harus diantisipasi.

“Tujuannya supaya tidak ada lagi kisah sedih kegagalan seperti pada praktek ACFTA,” katanya.

Saat ini pun, banyak produk impor yang masuk ke Indonesia. Ada keraguan memang apakah Indonesia akan siap.

Keraguan akan kemampuan Indonesia ini juga disampaikan oleh Ketua Bidang Organisasi Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Edy Susandi Hamid.

Ia mengatakan Indonesia belum siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. “Hal itu disebabkan daya saing ekonomi nasional dan daerah belum siap,” kata Edy.

Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies Yose Rizal Damuri menilai Indonesia perlu membahas strategi dalam menghadapi MEA seperti peningkatan daya saing dalam berbagai bidang.

Sementara Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan pemerintah harus menentukan bidang apa yang menjadi andalan Indonesia menghadapi MEA.

Menurut dia, selama ini Indonesia tidak tahu sektor mana yang akan dibebaskan pada asing dan dikelola sendiri secara maksimal.

Kesiapan di sektor industri

Berbeda dengan Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi, yang menyatakan Indonesia sudah siap bersaing menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) justru menyebutkan hanya 30 persen sektor industri yang siap bersaing menyongsong era Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

“Kami memperkirakan hanya 30 persen yang mampu bersaing di pasar bebas ASEAN, sisanya belum sanggup,” kata Sekretaris Direktorat Jendral Berbasis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Setio Hadi di Jakarta, Jumat, seperti dikuip Antaranews.com.

Baca juga  Sulit Membuat Laporan Proyek Improvement? Ini Solusinya

Ia mengatakan kinerja sektor industri melambat sebab sebagian besar bahan baku bergantung impor.

Sedangkan Bayu mengatakan, industri di Indonesia sudah 83 persen dalam suasana AEC, khususnya pada sektor peralatan listrik dan elektronik.

Ketergantungan impor yang disampaikan pihak kemenperin Setio Hadi, membuat kinerja ekonomi sulit dipacu, sehingga pemerintahan mendatang diharapkan meningkatkan pembangunan industri hulu di dalam negeri.

“Seperti bahan baku besi baja untuk industri logam masih bergantung dari impor, begitu juga dengan bahan baku Petrokimia dan permesinan untuk tekstil,” katanya.

Impor bahan baku yang tinggi menjadi salah satu penyebab defisit perdagangan yang semakin bertambah.

Namun demikian, Dirjen Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Imam Pambagyo pernah mengatakan bahwa Indonesia memang harus mendorong ekspor.

Menurut Imam, kontribusi ASEAN sebagai pasar tujuan ekspor Indonesia mempunyai peran yang cukup besar terhadap ekspor non migas Indonesia, yaitu telah berkontribusi sebesar 20,4 persen terhadap total ekspor non migas Indonesia (31,21 miliar), meningkat 19,88 persen dari tahun sebelumnya.

Sehingga pemerintahan mendatang menurut Setio harus memperkuat pembangunan industri dasar di dalam negeri, terutama sektor petrokimia dan logam dasar.

Ia juga mengatakan tren sumbangan industri terhadap pertumbuhan ekonomi nasional terus menurun sejak 2004. Pada 2013 sektor industri menyumbang 23 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Tahun ini diharapkan tumbuh 6 hingga 8 persen dengan meningkatkan kinerja industri,” tambahnya.

Untuk menjadi negara dengan industri maju, jelas dia, kontribusi manufaktur seharusnya 40 persen terhadap PDB.

Target pertumbuhan tersebut menurutnya dapat tercapai jika semua pihak turut mendorong peningkatan daya saing industri.

Setio mengatakan pasar bebas ASEAN yang mulai berlaku pada 2015 menjadi peluang, terutama sektor yang siap bersaing seperti industri tekstil.***

Baca juga  4 Cara Problem Solving, Sudahkah Anda Melakukannya?

Dari berbagai sumber