“Kita tetap pada misi awal yaitu agar perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih kompetitif.”

Itulah yang dikatakan Riyantono Anwar Direktur Indonesia Operational Excellence Conference & Award – Opexcon saat konferensi pers di Hotel J.W Marriott pada (12/10/2015) lalu. Seperti yang dijelaskan Riyan, Opexcon ke empat tahun ini masih memiliki tujuan yang sama. “Yaitu  agar perusahaan-perusahaan di Indonesia lebih kompetitif. Caranya, mereka harus meningkatkan daya saing, meningkatkan produktivitas, dan tentu saja mereka harus lebih efisien.”

Terlebih dalam kondisi ekonomi yang melambat saat ini menurut Riyan, perusahaan dituntut untuk terus melakukan perbaikan kinerja. “Perusahaan dituntut untuk melakukan perubahan, perbaikan kinerja. Tujuannya apa? Agar mereka tetap survive dalam kompetisi ini.”

Sehingga lanjut Riyan, dengan terselenggaranya Opexcon, hal ini dapat menjadi sebuah campaign positif yang dapat memacu peningkatan kinerja industri di Indonesia. “Harapan kita, ini (Opexcon-Red) dapat menjadi suatu campaign dimana pemimpin-pemimpin perusahaan di Indonesia dan juga para change agent terpacu untuk ikut melakukan perubahan.”

Senada dengan Riyan, Suwandi Direktur SSCX International juga menjelaskan SSCX selaku consulting firm yang berfokus di bidang operational excellence dan productivity ingin ikut mengkampanyekan bahwa sebenarnya perusahaan-perusahaan di Indonesia mampu melakukan perubahan dan perbaikan kinerja. “Promosi seperti ini kita lakukan karena selama ini upaya seperti ini sangat jarang di Indonesia.”

Di beberapa negara Asia, seperti Singapura, Jepang atau di Amerika lanjut Suwandi, mereka sudah terbiasa melakukan improvement. “Jadi, agar promosi mengenai konsep ini bisa berjalan, kita coba mengadakan dengan award dan seminar-seminar seperti yang ada di Opexcon ini.”

Menurut Suwandi, SSCX International selaku pihak yang juga mendukung penyelanggaraan Opexcon15 ini bertujuan agar upaya promosi dari budaya operational excellence dapat diterapkan di perusahaan-perusahaan di Indonesia. “Kami berharap seluruh perusahaan di Indonesia bisa mengadopsi dan bisa menjadi pemenang di kompetisi yang makin sengit, terlebih akan ada MEA, pasar bebas, dan lain sebagainya. Sehingga salah satu cara agar perusahaan dapat survive, mereka harus membuat internal nya bagus.”

Baca juga  Gojek-Tokopedia Merger, Sekarang Dirikan GoTo

Perbaikan Proses Bisnis Menjadi Solusi

Konferensi Opexcon15 dimeriahkan pula oleh acara penganugerahan penghargaan Opexcon Award 2015. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Opexcon Award ini merupakan apresiasi bagi perusahaan-perusahaan Indonesia, baik swasta maupun BUMN, yang telah melaksanakan inisiatif perbaikan proses bisnis dengan hasil yang paling maksimal dan berkelanjutan.

“Operational Excellence sangat dibutuhkan oleh perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja perusahaan. Hal ini sangat menggembirakan. Artinya, dengan adanya perbaikan proses bisnis, perusahaan akan meningkatkan daya saing dan menekan produksi biaya tinggi,” kata Riyantono.

Kompetisi Opexcon Award 2015 digelar sebagai sarana untuk mengapresiasi perusahaan BUMN dan swasta yang berkomitmen kepada perbaikan proses bisnis yang berkelanjutan dan peningkatan mutu, baik pada proses ataupun produk dan jasanya

Proses yang efisien, menurut Riyan bukan berarti perusahaan atau pihak manajamen, atau pun pemilik bisnis harus ‘berhemat’ dengan mengorbankan sumber daya manusia. Riyan menjelaskan kebanyakan orang Indonesia berpikir bahwa agar lebih efisien artinya mereka dapat mengurangi cost khususnya yang terkait biaya tenaga kerja yang merupakan salah satu item biaya yang paling besar.

Padahal lanjut Riyan, konsep dari operational excellence sendiri fokus kepada upaya membuat proses bisnis yang lebih baik. “Artinya, dengan biaya yang sama, perusahaan tidak menambah orang baru, namun output yang dihasilkan bertambah.” Jadi, tambah Riyan dengan output yang dihasilkan bertambah maka fixed cost perusahaan bisa turun. “Gambaran dari proses yang efisien adalah bagaimana jika satu orang yang dulu hanya menghasilkan 10, dengan perbaikan proses bisnis, yang fokus pada people dan sistem, output nya bisa bertambah menjadi 20.”

Begitupun yang dikatakan Suwandi bahwa pengurangan tenaga kerja adalah pilihan terakhir. “Menurut saya tidak ada pengusaha, pemilik bisnis ataupun manajer yang ingin me-lay off karyawannya. Tetapi yang bisa dilakukan perusahaan, terkait dengan biaya tenaga kerja adalah biasanya pengurangan overtime. Dan di SSCX sendiri pendekatan kita adalah tidak merekomendasikan lay off.

Selain itu, Suwandi juga menegaskan bahwa konsep productivity bukan hanya sekedar penambahan waktu kerja. “Kalau ditanya, bisakah meningkatkan output dengan memperlama jam kerja, jawabannya bisa, tapi itu bukan produktivitas. Produktivitas yang dimaksud adalah bagaimana dengan satu jam bisa menghasilkan 1000 dibandingkan sebelumnya satu jam hanya menghasilkan 800.”

Baca juga  Ungguli Korea, PMI Manufaktur Indonesia Tembus Rekor Tertinggi

Riyan juga menambahkan peningkatan efisiensi bukan hanya perbaikan kinerja dari tenaga kerja. “Penggunaan energi, listrik, gas atau air juga menjadi komponen penting yang memakan biaya cukup tinggi. Jadi, jika proses bisnis perusahaan dapat diperbaiki hal tersebut bisa mengurangi penggunaan energi dari yang sebelumnya. Dan ini juga akan  berpengaruh pada penurunan biaya.”

Dan yang tidak kalah penting, menurut Riyan adalah proses berpikir kreatif dalam pemecahan masalah. “Biasanya karyawan itu memiliki ide-ide yang luar biasa. Yang jika ide ini kalau diwujudkan ternyata dapat memberi hasil yang jauh lebih hebat bagi kemajuan organisasi.”

“Inilah yang menjadi salah satu penilaian kami dalam memilih proyek perbaikan bisnis dari perusahaan-perusahaan yang mengikuti kompetisi Opexcon Award.”

Sehingga menurut Riyan, solusi itu tidak dinilai dari seberapa besar modal atau investasi yang dikeluarkan. “Justru budaya continuous improvement memacu tim di perusahaan untuk berpikir kreatif dalam memecahkan masalah, solusi yang biasa pun, tapi dampaknya luar biasa, itu menjadi penilaian yang penting dalam Opexcon Award dan budaya seperti itulah yang kita coba kampanyekan untuk perusahaan-perusahaan di Indonesia.”***