Sumber foto: viva.co.id
Sumber foto: viva.co.id

Tanggal 16 Oktober diperingati sebagai Hari Pangan Sedunia. Tanggal ini ditetapkan jadi Hari Pangan Sedunia karena di tanggal inilah berdiri Badan Pangan Sedunia, alias FAO (Food and Agriculture Organization).

Pangan memang penting karena kebutuhan primer. Namun, seberapa besar kemandirian pangan Indonesia? Dari data terlihat bahwa impor besar justru ada di sektor pangan, terutama gandum.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca perdagangan sepanjang Januari-Maret 2015 nilai ekspor periode itu sebesar USD39,13 miliar atau surplus USD2,43 miliar. Artinya, secara total, Indonesia lebih besar ekspornya dari pada impor.

Kepala BPS Suryamin mengungkapkan, walau secara total surplus, tapi ada beberapa komoditas neraca perdagangan yang defisit, alias lebih banyak impor dari pada ekspor.

“Komoditas gandum defisit USD518,10 juta. Impor gandum kita terus-terusan karena ada produk yang terbuat dari bahan pangan ini, misalnya mie dan roti,” ujarnya pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (15/4) seperti dikutip Liputan6.

Ruslan Kadir, salah seorang pegawai BPS menjelaskan kenapa impor gandum Indonesia besar. Salah satunya karena konsumsi beras per kapita masyarakat terus berkurang.

Ruslan, mengutip Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) periode 1996-2011, konsumsi beras per kapita sebesar turun 1,5 persen per tahun.

Namun sayangnya, penurunan konsumsi ini tak diiringi dengan peralihan ke komoditas pangan lokal. Tapi justru beralih ke konsumsi produk olahan terigu, yang bahan bakunya juga masih impor.

Menurut catatan Asosiasi Mie Instan Dunia, World Instant Noodle association (WINA), Indonesia dalam lima tahun ini selalu duduk sebagai konsumen mi instan terbesar kedua sedunia. Juaranya tetap Cina.

Tahun 2013, konsumsi ini mencapai puncaknya dalam lima tahun ini, mencapai 14,9 miliar bungkus. Tahun lalu surut 1,5 miliar bungkus, jadi 13,4 miliar bungkus mi instan.

Baca juga  Menerapkan Program Behavior Improvement¬†

Jika penduduk Indonesia ada 252 juta orang, maka rata-rata tiap orang di Indonesia makan mi instan 53,1 bungkus dalam setahun. Nah, konsumsi yang besar ini jelas mendongkrak impor gandum. Pada kurun 2013-2014 volume impor mencapai 7,4 ton atau senilai USD3 miliar.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia Franciscus Welirang mengatakan saat ini Indonesia sudah menjadi peringkat tiga besar dunia untuk impor gandum. Permintaan impor gandum mengikuti pertumbuhan GDP, sekitar enam sampai tujuh persen.

“Setiap tiga tahun kita menambah (impor) satu juta ton. Tapi impor gandum ini juga untuk diekspor lagi dalam bentuk terigu, mi instan dan mi kering,” ujar Franciscus, Ahad (5/4) kepada Republika.

Impor gandum mayoritas berasal dari Australia, Kanada, Amerika, Rusia, Ukraina, Kazakhstan, India, Pakistan, Brasil, dan Argentina. Franciscus memperkirakan permintaan tepung terigu tahun ini akan tumbuh sekitar lima persen.

Pada 2014 kebutuhan tepung terigu naik sebesar 5,4 persen atau sekitar 5,4 juta ton. Pada tahun ini, kebutuhan tepung terigu diperkirakan akan mencapai 5,7 juta ton.

Sumber: beritagar.id