Tujuan utama dari pemecahan masalah atau problem solving adalah untuk mengidentifikasi dan menutup kesenjangan atau gap antara target yang ditetapkan dengan kondisi yang terjadi saat ini. Setiap orang akan terlibat dalam pemecahan masalah dengan mengedepankan dua karakteristik utama, yaitu:

Pertama, selalu berdasarkan fakta. Ya, selama proses pemecahan masalah, segala sesuatu yang diklaim baik itu masalah yang ditetapkan, akar penyebab, kondisi target harus berdasarkan fakta yang dapat diverifikasi kebenarannya, bukan lagi menggunakan asumsi atau interpretasi. Dan untuk membuktikan fakta tersebut, tim yang terlibat harus mampu menjawab tentang bagaimana informasi tersebut didapat, apakah mereka memahami kondisi secara langsung dan bagaimana rencana perbaikan tersebut dibuat.

Kedua, pemecahan masalah adalah perjalanan yang tidak pernah berakhir. Setiap rencana yang dibuat adalah teori untuk mengatasi penyebab masalah, artinya perjalanan penyelesaian disini baru akan dimulai. Sementara itu, proses implementasi akan menjadi suatu proses pembelajaran untuk mengetahui apa yang sebenarnya diperlukan untuk membuat kemajuan. Prinsipnya, there is no best process but there is always better process. Sehingga perbaikan harus terus dilakukan secara berkelanjutan.

Apakah Anda sudah menyelesaikan masalah yang tepat?

Salah satu hal yang berbahaya bagi organisasi dalam melakukan perbaikan proses adalah memiliki solusi untuk masalah yang belum diketahui. Sering kali, kita lebih terobsesi mencari solusi dibanding akar masalah yang sedang dihadapi. Ketika prioritas ini ternyata salah, kita pada akhirnya hanya melakukan tindakan dengan dampak kecil, pemborosan atau bahkan mungkin memperburuk keadaan.

Oleh karena itu, adalah penting untuk memahami masalah dengan baik sebelum mengambil tindakan atau solusi. Mengutip Forbes, penulis What’s your problem?, Thomas Wedell menyarankan untuk membingkai ulang masalah sebelum bertindak. Kita bisa mencoba melihat masalah dengan cara yang berbeda dan memikirkan kembali tujuan apa yang sebenarnya ingin dicapai. Kedua hal ini akan membantu kita mengambil perspektif baru dan menghindari bias dalam mengklarifikasi masalah.

Baca juga  Continuous Improvement, Strategi Tepat Mendulang Selamat

Mungkin Anda sudah sering mendengar kata bijak Abraham Moslow tentang palu dan paku, “Jika seseorang hanya memiliki palu, maka setiap masalah tampak seperti paku”. Maslow mengingatkan kita bahwa kita tidak seharusnya mengandalkan mekanisme penyelesaian masalah yang sama, kita harus berani mencari solusi baru yang lebih efektif. Jadi mulai sekarang, jangan lagi membatasi kemampuan dalam menemukan solusi. Tapi kembali lagi, jangan lupa untuk selalu mengidentifikasi masalah dengan tepat, memiliki perspektif yang beragam, dan berpikiran terbuka. Dengarkan ide dan masukan dari tim Anda, lakukan kolaborasi dengan baik sehingga dapat menemukan solusi terbaik.

Meningkatkan Kemampuan Problem Solving

Benarkah Anda dan perusahaan sudah melakukan problem solving dengan baik? Apakah Anda sudah cukup kreatif dalam melakukan problem solving? Jika Anda ragu dengan jawaban Anda atau bahkan memiliki jawaban belum, maka Anda harus menemukan apa penyebabnya. Seperti kita tahu menyelesaikan masalah dan menjadi kreatif bukan perkara mudah, tetapi semua ini bisa kita pelajari bersama di pelatihan SSCX Creative Problem Solving & Decision Making, 16 – 17 September 2021.

Dalam pelatihan ini peserta akan belajar bagaimana menghasilkan gagasan dan berpikir di luar kebiasaan, out of the box. Harapannya, setelah mengikuti pelatihan ini peserta mampu berpikir kreatif, mampu menganalisa masalah secara efektif dan mampu mengembangkan solusi yang berhasil. Info lebih lanjut hubungi tim SSCX di http://wa.me/628175763021 atau melalui website sscxinternational.com.


Sumber: lean.org, forbes.