Batch Besar Membuat Efisiensi Lokal Terlihat Menarik
Produksi dalam batch besar memiliki logika ekonomi yang mudah dipahami. Mesin tidak perlu terlalu sering changeover, setup cost dapat dibagi ke jumlah unit yang lebih banyak, operator dapat menjalankan produk yang sama lebih lama, dan utilization terlihat lebih baik. Dari perspektif satu mesin atau satu departemen, keputusan tersebut dapat terlihat sangat efisien.
Namun output yang dihasilkan belum tentu langsung dibutuhkan oleh proses berikutnya atau pelanggan. Jika tidak dibutuhkan, tambahan output tersebut berubah menjadi inventory. Barang membutuhkan ruang, harus dipindahkan, dihitung, disimpan, dan suatu saat diambil kembali. Setiap aktivitas tersebut menggunakan sumber daya tanpa membuat produk lebih bernilai bagi pelanggan.
Batch besar juga mengurangi fleksibilitas. Ketika kebutuhan berubah, organisasi masih memiliki banyak produk yang dibuat berdasarkan rencana sebelumnya. Kapasitas telah digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang belum diperlukan, sementara produk yang sekarang dibutuhkan harus menunggu giliran berikutnya. Mesin memang memiliki angka produktivitas yang baik, tetapi sistem menjadi lebih lambat merespons permintaan.
Di sinilah perbedaan antara mengoptimalkan aktivitas dan mengoptimalkan flow menjadi penting. Operational Excellence tidak hanya melihat berapa banyak yang dapat dihasilkan sebuah resource, tetapi apakah output tersebut membantu material bergerak sesuai kebutuhan pelanggan.
Harga Inventory Jauh Lebih Besar daripada Harga Barang
Ketika organisasi membahas biaya inventory, perhatian paling mudah tertuju pada nilai material yang tersimpan. Padahal persediaan membawa biaya yang jauh lebih luas. Barang membutuhkan ruang gudang, rak, energi, sistem pengelolaan, material handling, dan tenaga kerja. Setiap perpindahan menciptakan peluang kerusakan atau kesalahan, sementara semakin banyak barang yang berada dalam sistem, semakin kompleks pula pekerjaan untuk mengetahui apa yang tersedia dan di mana lokasinya.
Waktu juga menambah risiko. Spesifikasi dapat berubah, desain produk diperbarui, permintaan pelanggan bergeser, material memiliki masa simpan, packaging rusak, atau komponen menjadi obsolete. Barang yang ketika dibeli dianggap sebagai aset dapat kehilangan sebagian atau seluruh nilainya sebelum sempat digunakan.
Ada pula biaya finansial yang sering kurang terlihat di lantai produksi. Setiap rupiah yang berada dalam inventory adalah modal yang belum kembali menjadi kas. Ketika persediaan tumbuh lebih cepat daripada kebutuhan bisnis, organisasi harus membiayai aset yang belum tentu segera menghasilkan pendapatan. Inventory yang awalnya dimaksudkan sebagai perlindungan operasional akhirnya juga menjadi beban working capital.
Karena itu, persoalan inventory tidak cukup dilihat dari pertanyaan apakah barang tersebut suatu hari akan digunakan. Organisasi juga perlu mempertimbangkan berapa lama modal, ruang, dan perhatian harus digunakan sebelum barang tersebut benar-benar menghasilkan nilai.
Menurunkan Inventory Bukan Berarti Sekadar Mengurangi Stok
Ketika working capital mulai mendapat perhatian, organisasi dapat bergerak terlalu cepat ke arah sebaliknya. Target inventory diturunkan, safety stock dikurangi, purchasing diminta membeli lebih sedikit, dan gudang didorong mengeluarkan barang yang dianggap berlebih. Secara finansial, angka inventory mungkin segera membaik.
Namun jika proses yang menciptakan kebutuhan terhadap persediaan tidak berubah, konsekuensinya hanya berpindah. Produksi semakin sering kekurangan material, emergency purchase meningkat, premium freight muncul, planner lebih sering mengubah jadwal, dan supplier menerima permintaan dengan lead time yang semakin pendek. Organisasi berhasil menurunkan stok, tetapi operasi menjadi lebih gugup.
Ini bukan tujuan Lean. Inventory rendah seharusnya menjadi hasil dari proses yang lebih capable, bukan sekadar angka yang dipaksakan kepada sistem yang masih tidak stabil. Jika supplier menjadi lebih reliable, kebutuhan buffer dapat dikurangi. Jika changeover lebih cepat, batch dapat diperkecil. Jika lead time dipersingkat, perusahaan tidak perlu membuat keputusan terlalu jauh sebelum kebutuhan aktual diketahui. Jika kualitas semakin konsisten, stok untuk melindungi proses dari defect juga dapat berkurang.
Dengan demikian, cara paling sehat mengurangi inventory sering kali bukan menyerang persediaannya secara langsung. Organisasi perlu memperbaiki alasan mengapa persediaan tersebut dibutuhkan sejak awal.
