Bagi sejumlah industri yang selalu mengadaptasi perkembangan teknologi untuk menciptakan efisiensi, otomatisasi adalah segalanya. Industri manufaktur dan otomotif menjadi sektor yang paling sering memperkenalkan tools baru berupa inovasi teknologi untuk mempercepat proses produksi dan meningkatkan kualitas produk. Belakangan usaha industri untuk menciptakan operational excellence terkait pengembangan teknologi robotik mendapatkan tantangan serius: reduksi peran manusia sebagai tenaga kerja.

Canon sebagai salah satu produsen kamera digital mencoba menekan kesalahan produksi sampai nol persen, melalui perpaduan manusia dan mesin. Sistem otomatis industri dikerjakan oleh robot dan teknologi tinggi yang mengedepankan presisi dan kecepatan. Robot mampu memperpendek proses produksi, bergerak konstan, terukur dalam waktu yang lama.

Sebelum menggunakan robot, pada 2003 Canon membutuhkan sekitar 42 pekerja untuk memproduksi 540 kamera. Sekarang di 2016, setelah menerapkan teknologi robotik, Canon hanya membutuhkan 5 orang untuk memproduksi 600 kamera. Penempatan ahli dan strategi sentralisasi dibutuhkan untuk menjaga kinerja robot berjalan sesuai jalurnya. Sehingga jika terdapat kesalahan, bisa langsung diperbaiki secara manual oleh para ahli.

Di satu sisi perusahaan dan industri masih sangat membutuhkan keberadaan sumberdaya manusia sebagai penyelia, supervisor kinerja mesin-mesin otomatis dan robot. Efektifitas produksi yang dihasilkan teknologi robotik tetap perlu diperbaiki terus-menerus, sampai pada hasil maksimal. Sayangnya potensi teknologi robotik tersebut berdampak pada berkurangnya tenaga kerja manusia dalam sebuah rantai produksi industri.

Riset yang dilakukan oleh Citi Group 2016 teknologi robotik berhasil menggeser tenaga kerja manusia di sejumlah negara di Asia. Bahkan tenaga kerja di negara maju seperti Amerika juga rentan tergantikan robot. Sejumlah kota besar di Amerika rentan lantaran menerapkan pola spesialisasi, sektor industrinya kurang bervariasi.

Kota memiliki sektor bervariasi cenderung lebih tahan ketergantungan teknologi ketimbang sektor industri terspesialisasi. Sejumlah lembaga konsultan terkemuka memprediksikan kurang dari sepuluh tahun, terhitung mulai sekarang, sebanyak 25 persen pekerjaan manusia akan digantikan dengan perangkat lunak atau robot. Cukup mengkhawatirkan ya.

Meski demikian tak semua perusahaan mengadaptasi total tren teknologi robotik untuk meningkatkan efisiensi produksi. Mercedes Benz nampaknya memiliki masalah dengan robot. Ulasan Bloomberg menjelaskan, Mercedes Benz saat ini memiliki varian model yang sangat banyak, dan robot tak lagi mampu menanganinya. Akhirnya divisi produksi memutuskan mengurangi jumlah robot, menggantinya dengan tenaga manusia sesuai standar Mercedes Benz.

Baca juga  3 Konsep Penting dalam Metode Lean

Teknologi robotik bagi Mercedes tak bisa lagi mengurus opsi individualisasi dari setiap varian mobil. Tenaga kerja manusia tetap menjadi pilihan terbaik, terlebih untuk mengejar target produksi 400 ribu mobil per tahun.

Robot memang bisa diprogram melakukan dua tugas berbeda, meski memakan waktu berminggu- minggu untuk koding programnya. Sementara tenaga kerja manusia bisa belajar lebih cepat dan multitasking. Inovasi industri berupa teknologi robotik memiliki keterbatasan dalam menggantikan peran sumberdaya manusia dalam hal produksi.

Di dalam kasus penggunakan teknologi robotik di Mercedes Benz, tenaga kerja manusia menjadi lebih unggul lantaran bisa memberikan aspek individualisasi di setiap varian mobil. Aspek pengalaman manusia dalam hal ini lebih unggul ketimbang artificial inteligence. Sudah semestinya perusahaan berinvestasi ke sumberdaya manusia, meski teknologi robotik mampu memberikan dampak efisiensi kerja. Masih tertarik menggunakan robot untuk menggantikan karyawan anda?