Untuk menghadapi VUCA perusahaan harus pandai berstrategi.

Hal ini disampaikan Suryo Eko Hadianto, Direktur Operasi Produksi PT Bukit Asam, Tbk (PTBA) dalam seminar OPEXCON, November lalu. Menurut Eko, VUCA mempengaruhi harga, pasar, kebijakan pemerintahan, dan kondisi sosial politik. “Harga dituntut makin kecil, supaya makin kompetitif, tetapi kebijakan-kebijakan selalu berubah dimana setiap perubahan pasti ada cost yang harus di spend disana. Inilah kondisi perusahaan sebetulnya. Kita harus pandai-pandai berstrategi. Bukan customer satisfaction, tetapi sekarang sudah customer oriented. Artinya, kalau kita tidak bisa ngikuti keinginan customer ya ditinggalkan,”jelasnya.

Eko menekankan bahwa dalam mengelola bisnis, Bukit Asam selalu menjunjung tinggi visi nya untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan. Mereka ingin menunjukkan kepada dunia bajwa perusahaan energi pertambangan bukan merusak, tetapi juga memelihara lingkungan dengan baik. Komitmen tersebut dapat dibuktikan dari penghargaab tropi emas dari Kementerian Lingkungan Hidup yang berhasil diraih Bukit Asam selama 5 tahun berturut.

Sementara itu, di sisi lain PTBA juga mengembangkan strategi di beberapa sektor. Baik itu dengan mengembangkan core bisnis sebagai perusahaan tambang batu-bara, meningkatkan nilai tambah batu-bara, mengembangkan produk batu bara menjadi minyak dan gas, menjalin kerjasama dengan Pertamina dan Pupuk Sriwijaya untuk membangun kawasan ekonomi khusus di Tanjung Enim, juga memperluas lokasi produksi ke Kalimantan, dan menjajaki Australia dan Thailand untuk mengembangkan daerah operasi.

“Hal ini adalah bukti bahwa transformasi kami sudah cukup berhasil. Dari net profit margin-nya, dari operating profit margin, kita bisa menunjukkan bisa sekelas dengan perusahaan-perusahaan dari China maupun dari Amerika. Ini yang menunjukkan bahwa kami sudah mulai melangkah menjadi perusahaan energi di kelas dunia,” kata Eko. Penilaian Morgan Stanley terkait pengelolaan emisi maupun pengelolaan keselamatan kerja, PTBA sudah berada di poin A. Sementara itu khusus untuk pengelolaan limbah B3,  PTBA juga menempati daftar 5 besar dunia.

Baca juga  Operational Excellence Harus Kelas Dunia!

Untuk bisa mendapatkan efisiensi biaya, PTBA berupaya keras dalam melakukan optimasi operasi produksi. “Kami selama 2,5 tahun melakukan optimasi produksi. Kami mendapatkan efisiensi biaya yang langsung menyumbang net profit hampir sebesar 2,8 T. Ini atas bantuan teman-teman SSCX yang selalu mengelola motivasi di perusahaan kami, mereka juga menjadi dewan pengarah di kami dalam melakukan Inovasi Award, Bukit Asam Inovasi Award. Kami melakukan inovasi –inovasi dan kami menampung inovasi –inovasi dari berbagai departemen di PTBA dengan demikian, ide-ide kreatif , ide-ide yang cukup gila itu kami tampung dan kalau memang itu bagus dan memberikan benefit kami langsung implementasikan.”

Di akhir presentasi, Eko menggarisbawahi ada dua inti strategi yang selama ini dijalankannya. Pertama, orientasi kepada cost. Cost harus menjadi cost leader. Kedua, menjadi cost leader tidak hanya secara usual tetapi harus penuh dengan inovasi. “Inovasi ini tidak boleh mati,” pungkasnya.