Di era modern seperti sekarang, muncul berbagai istilah baru yang menggambarkan gaya hidup masyarakat, salah satunya adalah hustle culture. Istilah ini semakin familiar, terutama di kalangan generasi muda yang hidup di tengah tuntutan produktivitas tinggi. Hustle culture sendiri merujuk pada kondisi ketika seseorang terus terdorong untuk bekerja keras, mengejar pencapaian, dan memaksimalkan waktu yang dimiliki tanpa mementingkan waktu istirahat. 

Penyebab Hustle Culture

Berikut beberapa alasan mengapa hustle culture bisa terjadi

  1. Kurangnya pemahaman terhadap diri sendiri

Seseorang dapat terhindar dari hustle culture ketika mampu mengenali dirinya dengan baik serta memahami arah tujuan hidup ke depan. Hal ini mencakup kejelasan terhadap target karir yang ingin dicapai. Dengan pemahaman tersebut, individu tidak mudah terpengaruh oleh standar kesuksesan orang lain dan dapat menghindari keputusan karir yang tidak selaras dengan tujuan pribadinya.

  1. Toxic positivity

Toxic positivity merupakan pandangan yang menuntut seseorang untuk tetap bersikap positif dalam kondisi apa pun, termasuk saat menghadapi situasi sulit. Sekilas terlihat baik, namun sikap ini mendorong individu untuk menekan emosi negatif secara berlebihan. Padahal, emosi negatif perlu diakui agar dapat diproses dan diselesaikan dengan tepat.

  1. Standar sosial masyarakat

Masyarakat kerap mengaitkan tingkat kesuksesan dengan tingkat kesibukan seseorang. Selain itu, ukuran keberhasilan sering ditentukan berdasarkan jabatan, penghasilan, atau kepemilikan materi. Tidak sedikit pula muncul target hidup yang tidak realistis dan belum tentu sesuai bagi setiap individu, seperti keharusan mencapai jumlah tabungan tertentu atau memiliki aset pada usia muda. Kondisi ini mendorong banyak orang mengikuti standar tersebut agar tidak dianggap gagal oleh lingkungan sosial.

Ciri Hustle Culture

Individu yang terjebak dalam hustle culture cenderung terus terdorong untuk meraih kesuksesan di usia muda. Dalam prosesnya, mereka sering bekerja hingga larut malam, mengambil pekerjaan tambahan, dan mengabaikan waktu istirahat. Ciri utamanya adalah munculnya rasa bersalah saat waktu digunakan untuk beristirahat atau melakukan kegiatan santai. Hampir seluruh aktivitas yang dilakukan selalu berkaitan dengan pekerjaan. Semakin lama waktu yang dihabiskan untuk bekerja dianggap sebagai langkah yang semakin mendekatkan pada ambisi.

Baca juga  Ingin Jadi KOL Specialist? Kenali Tugas, Skill, dan Gajinya

Mereka kerap menganggap diri sebagai pribadi yang produktif, padahal keduanya memiliki perbedaan yang jelas. Produktivitas menekankan kemampuan menghasilkan output berkualitas dalam waktu yang efisien, sedangkan pola kerja berlebihan lebih berfokus pada durasi kerja yang panjang tanpa memperhatikan kualitas hasil, bahkan cenderung memaksakan diri.

Dampak Hustle Culture

Berikut dampak dari gaya hidup tersebut. 

  1. Kehilangan Work Life Balance

Work life balance merujuk pada keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Waktu bersama keluarga, pasangan, atau teman dapat membantu menurunkan tingkat stres akibat pekerjaan. Interaksi sosial juga berperan penting dalam meningkatkan kebahagiaan. 

Sebaliknya, dorongan kerja yang berlebihan dapat menurunkan intensitas kehidupan sosial. Aktivitas sehari-hari hanya berfokus pada pekerjaan dan tenggat waktu. Kesempatan untuk berbagi cerita atau melepas beban pikiran menjadi terbatas karena terus disibukkan oleh tugas.

  1. Burnout syndrome

Burnout merupakan kondisi stres berkepanjangan akibat tekanan pekerjaan yang ditandai dengan kelelahan, frustrasi, dan penurunan konsentrasi. Kondisi ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi berkembang secara bertahap. Faktor penyebabnya meliputi beban tanggung jawab yang tinggi, lingkungan kerja yang kurang mendukung, serta minimnya dukungan sosial. Jam kerja yang tidak teratur juga memperburuk kondisi fisik dan mental. Alih-alih mendapatkan waktu istirahat, tekanan justru terus meningkat.

  1. Kurangnya rasa syukur

Salah satu karakteristik individu dengan hustle culture adalah dorongan untuk selalu menyamai atau melampaui pencapaian orang lain. Fokus utama sering tertuju pada karir dan kondisi finansial. Perhatian terhadap pencapaian yang sudah dimiliki menjadi berkurang karena terus mengejar target baru.

Kerja keras merupakan hal yang positif. Namun, dorongan yang berlebihan dapat memicu rasa iri terhadap keberhasilan orang lain. Sikap ini dapat mendorong perkembangan diri, tetapi juga berisiko menimbulkan ambisi tanpa batas. Upaya yang dilakukan cenderung tidak berhenti sebelum mencapai posisi paling tinggi di lingkungan sekitarnya.

Baca juga  Ancaman El Nino 2026, Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi

Cara Menghadapi Hustle Culture

Sejumlah langkah dapat dilakukan untuk menyikapi fenomena hustle culture agar tidak berdampak pada kesehatan dan produktivitas. Pertama, ketika waktu kerja mulai berlebihan dan tubuh terasa lelah, istirahat perlu segera dilakukan sebagai bentuk pemulihan. Kedua, tetapkan batasan waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi agar aktivitas tetap seimbang. Ketiga, perlu dilakukan penyusunan prioritas serta jadwal kerja yang teratur untuk mencegah penumpukan tugas. Terakhir, perlu untuk menyesuaikan target pekerjaan dengan kemampuan dan lakukan komunikasi dengan atasan jika beban kerja dirasa terlalu berat.

Referensi

Alodokter. (2025, Juli 22). Hustle culture: Kenali ciri-ciri, dampak, dan cara menyikapinya. https://www.alodokter.com/hustle-culture-kenali-ciri-ciri-dampak-dan-cara-menyikapinya

Alya, H. (2025, Juni 11). Hustle culture adalah: Definisi, penyebab, dampak, dan cara menghindarinya. Glints. https://glints.com/id/lowongan/hustle-culture-adalah/

Nanda, S. (2024, Januari 11). Mengenal hustle culture: Ciri-ciri, penyebab, dan bahayanya. Skill Academy. https://blog.skillacademy.com/mengenal-hustle-culture-ciri-ciri-penyebab-dan-bahayanya