Proyek Six Sigma tidak akan berhasil jika orang-orang yang terlibat dalam proses tidak memiliki pengetahuan tentang bagaimana melakukan implementasinya.

Banyak proyek Six Sigma kemudian gagal karena tim proyek terlalu senang ketika mencapai kesuksesan. Padahal, satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah perbaikan hanya akan berada di atas kertas sampai mereka diimplementasikan. Dan ada berbagai alasan proyek Six Sigma yang baik tidak bisa diimplementasikan dengan nilai efisiensi yang sama.

Oleh karena itu melakukan transfer pengetahuan merupakan bagian penting dari proyek Six Sigma dan harus dilakukan dengan hati-hati. Berikut kami berikan point-point utama menavigasikan proses transfer pengetahuan :

  1. Chronology : proses transfer pengetahuan harus iteratif dan kronologis. Ini bukan dilakukan dengan melatih semua orang secara sekaligus, langkah pertamanya harus melatih manajemen tingkat senior dan menengah. Setelah ini dilakukan, para eksekutif dan pengawas harus dilatih dan manajemen atas harus dilibatkan dalam latihan. Ketika manajemen tingkat atas melatih orang-orang di bawahnya, mereka menyegarkan kembali pelatihan mereka. Ini penting karena orang-orang tersebut ketika menemui proses yang salah mereka akan secepat mungkin mengeskalasikan langsung kepada manajemen. Oleh karena itu manajemen tingkat atas harus memiliki gagasan yang jelas tentang bagaimana menjalankan proses yang baru.
  2. Buy – In : sebelum proses transfer pengetahuan dimulai, tim proyek Six Sigma harus membangun komitmen dalam mencari solusi. Ini karena seringkali, pekerja merasa bahwa  metode perbaikan yang dirancang untuk menghilangkan pekerjaan mereka. Namun, sebenarnya perbaikan tersebut dirancang untuk mempermudah pekerjaan mereka. Inilah yang harus dikomunikasi dengan mereka secara jelas dan juga harus dipastikan bahwa mereka setuju dengan ini meskipun kemungkinan ada reaksi penolakan. Ingat, seluruh proyek Six Sigma bisa gagal karena eksekusi yang tidak tepat secara sengaja.
  3. Budget : sebelum pelatihan dimulai, tim proyek Six Sigma harus memberikan rencana anggaran kepada manajemen atas. Anggaran ini harus menyertakan sumber daya yang dibutuhkan. Biasanya pelatihan dijalankan secara rotasi, sehingga tidak mengganggu pekerjaan normal organisasi mereka.