SHIFT SSCX Metrik CI

 

“Tidak semua yang dapat dihitung harus diperhitungkan dan tidak semua yang dapat diperhitungkan harus dihitung.”

Itulah salah satu quote dari seorang genius terkenal yang menciptakan rumus relativitas, Albert Einstein. Dalam melakukan aktivitas perbaikan, seringnya organisasi hanya mengukur hal-hal yang terkait dengan jumlah dolar yang dapat mereka hasilkan. Namun, jarang sekali organisasi yang memikirkan dampak dari aktivitas perbaikan yang dilakukan.

Untuk memperbaiki persepsi ini, berikut 6 metrik sederhana yang bisa membantu organisasi dalam mengukur dampak dari aktivitas perbaikan.

1. ROI – Return On Investment

Dampak finansial dari kesempatan untuk menyelesaikan perbaikan dapat menjadi salah satu hasil yang paling mudah untuk diukur. Jika perusahaan Anda termasuk yang sudah menggunakan software untuk mengatur inisiatif perbaikan, ini akan menjadi cara yang cukup mudah. Untuk mengetahui berapa banyak biaya perbaikan yang dikeluarkan, Anda dapat membandingkan jumlah kenaikan pendapatan atau penurunan biaya setelah perbaikan dibagi dengan jumlah biaya yang dikeluarkan untuk mengimplementasikan inisiatif perbaikan.

2. Product Quality

Ada beberapa cara untuk menentukan apakan perbaikan terus-menerus memiliki dampak positif pada kualitas produk dan layanan. Jumlah defect yang dapat diidentifikasi sebelum produk sampai ke pelanggan adalah salah satu metrik yang penting. Yang lainnya bisa termasuk jumlah pengembalian produk, keluhan, dan permintaan untuk suku cadang. Meningkatkan kualitas produk sangat penting untuk bisnis yang sukses, organisasi yang sukses melakukan hal ini mengakui bahwa produk dan layanan unggulannya terletak pada bagaimana meningkatkan penjualan, menciptakan loyalitas pelanggan, dan meningkatkan kebanggaan yang dirasakan oleh karyawan mereka.

Ada juga aspek quality yang sulit untuk diukur dalam jangka pendek, seperti beberapa produk atau jasa yang memenuhi kebutuhan pelanggan. Dalam hal ini, harus ada jangka panjang yang positif dalam hal penjualan dan loyalitas pelanggan, meskipun hal ini tidak mudah dilakukan, namun bukan berarti organisasi tidak bisa mengetahui berapa banyak perbaikan yang sukses memberikan kontribusi bagi organisasi.

Baca juga  Tidak perlu bingung, ini beda value add dengan value enabler

3. Time Savings

Seringkali, hasil dari perbaikan adalah waktu yang lebih singkat untuk memasarkan atau proses yang lebih efisien yang memungkinkan setiap orang untuk berbuat lebih banyak. Hal ini dapat diukur dalam peningkatan output dari setiap bagian dalam sebuah proses. Efisiensi adalah sebutan untuk permainan dimana penghematan waktu merupakan hal yang penting. Meskipun tidak secara langsung menghasilkan peningkatan pendapatan atau penghematan biaya, hal ini dapat memberikan waktu bebas untuk karyawan sehingga mereka dapat melakukan aktivitas nilai tambah lainnya, sehingga menghemat uang organisasi dalam jangka panjang.

4. Safety

Organisasi memiliki tanggung jawab untuk keselamatan setiap pelanggan, pasien dan karyawan, atau bahkan tamu yang memasuki lokasi mereka, serta mereka yang membeli produk atau jasa perusahaan. Masalah keamanan sering menjadi alasan utama bahwa perusahaan-perusahaan mengadopsi program perbaikan terus-menerus, jadi jangan lupa untuk mengukur dampak dalam dimensi ini. Salah satu cara organisasi mengukur dampak keselamatan adalah dengan melakukan pengurangan nyata dalam hal-hal, seperti biaya asuransi atau biaya kompensasi pekerja.

5. Customer Satisfaction

Berdasarkan hasil sebuah study yang dilakukan oleh Bain & Company, 80% perusahaan mengatakan bahwa mereka mengirimkan pelayanan yang unggul. Sayangnya, hanya 8% dari pelanggan setuju atas pernyataan tersebut. Inilah sebabnya mengapa sangat penting untuk mengukur bagaimana dampak perbaikan pada pelanggan, bukan hanya asumsi semata. Untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan, Anda bisa melakukan survei, peringkat layanan pelanggan, dan focus groups untuk meningkatkan penjualan.

6. Employee Satisfaction

Sering terjadi diskonektivitas antara seberapa puas karyawan dan seberapa besar manajemen berpikir bahwa para karyawan merasa puas. Organisasi yang menerapkan pendekatan perbaikan berkelanjutan dalam bisnisnya, melihat kepuasan karyawan dan keterlibatan karyawan meningkat dari waktu ke waktu, semakin karyawan merasa dihargai dalam pekerjaan mereka, maka semakin tinggi tingkat kepuasan mereka dalam melakukan pekerjaan.

Baca juga  Pengalaman Berharga Mengikuti OPEXCON Project Competition

Dengan melakukan 6 hal diatas sebagai metrik dalam mengukur aktivitas perbaikan, hal ini akan membantu memperbaiki investasi organisasi Anda dalam aktivitas perbaikan dan juga teknologi yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitas tersebut.***

Sumber