Web

Zero Defect merupakan sebuah program led manajemen yang bertujuan mengeliminasi kerusakan (cacat) dalam proses produksi industrial. Program ini mulai populer di industri Amerika pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Program ini merupakan sebuah cara pikir dan tindakan yang kuat bahwa kerusakan dari sebuah produk itu tidak bisa diterima, dan bahwa semua orang harus melakukan hal yang benar sejak awal. Ide dari program ini adalah perusahaan dapat meningkatkan keuntungan baik dari menghilangkan biaya kegagalan maupun dengan meningkatkan pendapatan melalui kepuasan pelanggan.

“Manajer quality control harus jelas, harus benar dari awal, menjelaskan bahwa zero defect bukanlah sebuah program motivasional, melainkan sebuah tujuan yang harus dikomunikasikan kepada seluruh karyawan dengan maksud yang tepat dan menanamkan sebuah pola pikir bahwa setiap orang harus melakukan pekerjaan dengan benar sejak awal.”

Kutipan ini berasal dari Philip Crosby, seorang ahli di bidang quality yang akhirnya memasukkan indikator zero defect ke dalam “Absolutes of Quality Management”. Dan sebagai hasilnya, otomotif Amerika mulai menikmati kebangkitannya di tahun 1990-an.

Harga dari sebuah kualitas

Permasalahan dari dulu untuk kebanyakan perusahaan adalah masalah biaya demi terciptanya produk yang bermutu bagus bagi pelanggan. Kenapa biaya? Karena untuk dapat menghasilkan produk yang sempurna, maka perusahaan harus menginvestasikan waktu dan sumber daya lebih banyak. Atau dengan kata lain, program-program berkualitas yang sukses dengan uang yang sudah dihabiskan harus kembali lagi ke perusahaan dalam bentuk keuntungan dari hasil penjualan produk yang sempurna bagi kebutuhan orang-orang. Hal ini menjadi syarat utama dalam menerapkan program Zero Defect.

Corsby juga menegaskan dalam buku nya Quality is Free, bahwa kebanyakan manajer tentu setuju dengan adanya konsekuensi untuk produk yang tidak berkualitas akan memakan biaya yang lebih banyak lagi. Karena itu, muncul lah slogan “Do It Right First Time” dan akhirnya ke Zero Defect ini.

Baca juga  Ikuti 5 Kaidah ini agar Problem Solvingmu Berhasil

Proses manufaktur yang tidak efisien juga menyebabkan bahan bekas makin menumpuk dan tentunya akan memakan waktu dan pengerjaan ulang yang lebih mahal.  Corsby menekankan bahwa kualitas dapat tercapai dengan adanya keselarasan antara produk yang di buat perusahaan dengan kebutuhan orang-orang.

4 prinsip dari program Zero Defect

Program dari “Do it Right First Time” ini sebenarnya tidak bisa membuat para karyawan bebas dari melakukan kesalahan, namun justru lebih mendorong semua karyawan pada tindakan perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan. Corsby sangat menekankan bahwa jaminan produk yang berkualitas itu ada pada peran manajemen, sehingga manajemen ini harus bisa merangkul semua orang, mulai dari top level sampai ke bagian operasional. Tujuan utama dari program Zero Defect adalah untuk menjaga mutu dan meningkatkan produk perusahaan yang sesuai dengan kebutuhan orang-orang.

Dan berikut 4 prinsip dari Zero Defect :

1. Kualitas adalah hasil dari keselarasan antara produk dengan permintaan pasar

Setiap produk  atau jasa memiliki persyaratan tertentu berdasarkan kebutuhan pasar. Sehingga indikator produk yang bermutu adalah saat produk yang dibuat perusahaan berhasil digunakan sesuai kebutuhan orang-orang.

2. Mencegah kerusakan lebih baik dilakukan pada proses awal dibanding saat masuk proses quality control

Dengan begini perusahaan bisa lebih menghemat banyak sumber daya, baik dari segi manusia maupun uang yang akan digunakan untuk melakukan pemeriksaan dan perbaikannya.  Misalnya, kondisi rem pada sepeda motor. Jika ditemukan kerusakan pada rem, maka akan lebih baik jika perusahaan tidak melakukan proses produksi ke tahap berikutnya, melainkan memperbaiki kerusakan tersebut lebih dulu, karena ini akan lebih meminimalkan biaya.

3. Mutu kualitas tidak bisa hanya mendekati tapi harus Zero Defect

Baca juga  5 Karakteristik Pemimpin Agile yang Perlu Kita Ketahui

Jika produk buatan perusahaan tidak memenuhi harapan dari kebutuhan orang-orang, maka produk tersebut tidak bisa di bilang produk yang berkualitas, meskipun kenyataannya produk tersebut hampir sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

4. Kualitas diukur berdasarkan harga – Price of Non Conformance (PONC)

Ini adalah prinsip kunci nya, Corsby sangat yakin kalau setiap cacat yang muncul itu ada biayanya. Sehingga, untuk menemukan dan memperbaiki cacat ini, perusahaan harus menerapkan langkah-langkah seperti, inspeksi, waktu, rework, scrape, dan mengumpulkan data kepuasan pelanggan. Langkah-langkah ini jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, setiap langkah yang dilakukan untuk memperbaiki cacat tersebut, harus dipertimbangkan dengan tetap menjaga kualitas.***