Silo adalah mentalitas yang merugikan organisasi. Jika dibiarkan, mental ini akan menurunkan efisiensi keseluruhan operasi dan secara perlahan namun pasti mengikis budaya perusahaan yang produktif.

Excellent people, tim merupakan sebuah kelompok yang bekerjasama, saling bertanggung jawab dengan berbagai keterampilan yang saling melengkapi, berkomitmen untuk tujuan yang sama.

Namun, menemukan tujuan bersama seringkali menjadi pekerjaan yang sulit dilakukan. Salah satu penghambatnya yaitu adanya mentalitas silo di perusahaan. Apa itu mentalitas silo? Menurut Business Dictionary, silo didefinisikan sebagai pola pikir (mindset) yang muncul ketika departemen atau sektor tertentu tidak ingin berbagi informasi dengan orang lain di dalam organisasi yang sama. Tentu saja selain menyebabkan ketidaknyamanan, hal ini juga menimbulkan kerugian bagi organisasi.

Istilah silo sendiri sudah hadir lebih dari 3 dekade lalu, dan masih menjadi masalah yang belum berakhir hingga saat ini. Oleh karena itu, mempersiapkan, membangun, dan melengkapi tim dengan mindset dan visi yang tepat kini berada dalam salah satu daftar tugas penting para pemimpin perusahaan.

Membangun Visi dan Transformasi

Bukan suatu kebetulan sebagian organisasi masih berjuang keras mengatasi silo di organisasi. Hal ini bisa terjadi karena adanya konflik internal yang terjadi di level atas kemudian berlanjut ke level bawahannya. Yang menjadi masalah berikutnya adalah bahwa tidak sedikit pimpinan masih mengabaikan silo sebagai penyebab inefisiensi kerja antar departemen dan menghambat solusi lintas fungsi. Dampak kerugian ini akan semakin besar jika tidak segera ditangani. Pemimpin harus segera mengantisipasi mentalitas silo ini dengan menciptakan solusi jangka panjang yang realistis dan terukur, diantaranya yaitu:

1. Visi yang kuat

Untuk membuat semua orang bergerak ke arah yang sama, manajemen perlu menyelaraskan tujuan mereka melalui visi. Visi yang diterjemahkan menjadi strategi akan meredam konflik dan menjadi titik temu satu sama lain untuk bisa membangun komunikasi.

Baca juga  Belajar Dari 5 Penyebab Gagalnya Implementasi Operational Excellence Ini!

2. Komunikasi dan kolaborasi

Silo membuat karyawan terisolasi satu sama lain, tetapi pendekatan visi yang strategis dapat menghilangkannya. Memperbanyak komunikasi dan kolaborasi antar departemen akan menumbuhkan harmoni yang lebih besar dan lebih sedikit penolakan terhadap perubahan, yang memungkinkan target lebih mudah tercapai.

3. Pemahaman peran

Membangun hubungan yang lebih bermakna secara bertahap juga akan melemahkan silo di organisasi. Semakin tinggi pemahaman setiap orang akan perannya bagi organisasi maka akan semakin tinggi pula kemampuan kerjasamanya. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan dan kemauan untuk berbagi informasi penting secara teratur.

4. Membangun inisiatif perbaikan

Mengintegrasikan transformasi bisnis dengan performa atau kinerja individu menjadi kunci membangun keterlibatan seluruh individu di organisasi. Untuk berhasil mencapai target, tim harus bekerja sama mengurangi risiko dan saling mendukung dalam melaksanakan inisiatif perbaikan.

Lean Behavior untuk Hilangkan Mentalitas Silo

Untuk menjadi organisasi yang ramping, tidak cukup hanya menghilangkan inefisiensi pada proses, tetapi juga harus menghilangkan inefisiensi perilaku setiap orang. Caranya yaitu dengan membangun lean behavior.  

Lean behavior adalah perilaku yang memberikan nilai tambah. Perilaku ini harus tersistem sehingga dapat membentuk budaya yang ‘mengarah’ ke integritas. Salah satu cara yang efektif bagi pemimpin dalam mengembangkan perilaku ini adalah dengan memahami hubungan antara seseorang dengan pekerjaannya atau mempelajari korelasi perilaku dan hasil.

Ingin tahu cara membangun lean behavior di perusahaan? Dapatkan tipsnya langsung dari konsultan lean terbaik, SSCX International. SSCX telah membantu ratusan perusahaan di Indonesia membangun budaya lean. Hubungi 08175763021 untuk mendapatkan konsultasi terkait program Lean, gratis!

Sumber: Inc.com, Entrepreneur, SHIFT Indonesia, Forbes.