Robot ini bukan milik Toyota. Ini adalah robot di pabrik Tesla. Gambar menunjukkan perbedaan antara pekerjaan robot dan manusia. Foto courtesy: manufacturing.net
Robot ini bukan milik Toyota. Ini adalah robot di pabrik Tesla yang menunjukkan perbedaan antara pekerjaan robot dan manusia. Foto: manufacturing.net

Bayangkan jika teknologi canggih yang selama ini menjadi jalan keluar dari keterbatasan kemampuan manusia dalam memproduksi, ternyata juga memiliki kelemahan? Benarkah industri manufaktur telah kekurangan tenaga terampil untuk melakukan proses perakitan secara manual, sehingga menjadi bergantung sepenuhnya pada mesin? Apakah Toyota yang notabene merupakan masternya otomasi tengah berusaha lepas dari ketergantungan tersebut?

Setidaknya itulah yang menjadi alasan utama dari pernyataan Mitsuru Kawai, seorang yang telah bekerja di Toyota lebih dari 50 tahun. Berita ini muncul dari laporan yang di publikasikan Bloomberg, yang mengutip pernyataan Kawai, “Kami perlu lebih solid dan kembali ke cara paling dasar untuk membuat kemampuan manual kami lebih baik lagi. Saat saya masih baru disini, orang yang sangat berpengalaman mendapat julukan Tuhan, karena mereka mampu melakukan semua hal.”

Dalam beberapa dekade terakhir, Toyota memang telah menjadi pemimpin dalam penggunaan teknologi terbaru untuk proses produksi di lantai pabriknya, salah satunya penggunaan teknologi robotik yang membuat proses produksi mereka lebih otomatis, lebih aman dan lebih cepat dibandingkan dengan tenaga manusia.

Namun ternyata, kembali ke cara paling dasar maksudnya bukan berarti Toyota akan memproduksi mobil-mobilnya dengan ‘tangan kosong’ manusia begitu saja. Toyota ingin mengembangkan proses produksi secara otomatis dengan mengembangkan kemampuan manual tenaga kerjanya, namun tidak meninggalkan penggunaan mesin sama sekali.

Ide Kawai ini adalah bagaimana membuat karyawan lebih terampil, dengan memiliki kemampuan mengoperasikan satu komputer ke komputer lain, sehingga mereka akan lebih mungkin untuk mengidentifikasi aktivitas mesin yang tidak efisien dan mencari cara agar membuatnya lebih baik.

Kawai juga menambahkan, “Kita tidak bisa hanya bergantung pada mesin yang terus melakukan tugas yang sama berulang-ulang. Untuk bisa menguasai mesin, anda harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk mengajari mesin-mesin tersebut.”

Baca juga  Inilah Strategi SIG Catatkan Volume Penjualan 40,62 Juta Ton di 2023

Pemikiran Kawai ini sebenarnya sangat masuk akal. Jika industri manufaktur sudah mencapai era di mana tidak ada yang tahu lagi bagaimana memanipulasi sepotong logam ke crankshaft atau bagian lain di dalam mobil, bagaimana kita secara efektif memprogram mesin untuk melakukannya ? Nampaknya ide Kawai ini mendapatkan respon positif dari Toyota, mengingat raksasa mobil tersebut juga dianggap sebagai innovator dalam filosofi manufaktur dan teknologi. Sehingga hal ini tentunya akan menarik juga untuk melihat apakah industri mobil lainnya akan menyusul langkah Toyota tersebut. Bagaimana menurut anda?***RR/RW

Sumber: manufacturing.net