Ketika isu global muncul dan dinarasikan dapat mengganggu ketersediaan suatu barang, masyarakat cenderung merespons dengan meningkatkan pembelian dalam waktu singkat. Lonjakan permintaan ini terjadi secara cepat, hingga membuat stok di pasaran perlahan menipis. Fenomena ini disebut dengan istilah panic buying.

Panic buying adalah kondisi di mana masyarakat secara tiba-tiba membeli barang dalam jumlah besar yang menyebabkan jumlah stok menurun drastis. Biasanya hal ini dipicu oleh keadaan atau krisis seperti misalnya saat pandemi Covid 19 atau gangguan pasokan dalam negeri.

Pemicu Panic Buying

  1. Kekhawatiran Kekurangan Barang

Saat terjadi situasi genting, masyarakat kerap kali merasa takut kehabisan stok barang pokok sehingga mereka cenderung impulsif untuk membeli bahan pokok dalam jumlah besar untuk menghindari kesulitan mendapatkannya di masa depan. Hal ini memicu orang lain untuk melakukan hal serupa yang menyebabkan langkanya stok barang.

  1. Penyebaran Informasi Secara Cepat

Perkembangan teknologi membuat informasi menyebar dalam hitungan detik melalui media sosial. Namun, tidak semua informasi yang beredar telah dipastikan kebenarannya. Isu kelangkaan barang, foto rak supermarket yang kosong, hingga kabar penutupan toko dapat dengan cepat memicu kekhawatiran masyarakat, meskipun pada kenyataannya stok barang masih tersedia di pasaran.

  1. Kurangnya Kepercayaan Terhadap Pasokan

Ketidakpastian terhadap kemampuan pemerintah atau pelaku usaha dalam menjaga ketersediaan barang dapat menurunkan kepercayaan masyarakat. Pengalaman masa lalu saat terjadi krisis juga memperkuat rasa khawatir. Akibatnya, masyarakat cenderung membeli dan menyimpan barang dalam jumlah besar sebagai langkah antisipasi. 

Dampak Panic Buying

  1. Gangguan Rantai Pasokan 

Lonjakan permintaan yang terjadi secara tiba-tiba membuat produsen dan distributor kewalahan dalam memenuhi kebutuhan pasar. Sebagai contoh, pada awal pandemi, ketersediaan masker medis sempat terbatas karena produsen membutuhkan waktu untuk meningkatkan kapasitas produksi.

  1. Peningkatan harga barang
Baca juga  Global Citizenship of Indonesia: Pintu Baru Keterikatan Diaspora dengan Tanah Air

Dalam prinsip ekonomi, ketika permintaan melampaui jumlah pasokan, harga akan cenderung naik. Kondisi ini mendorong kenaikan harga pada barang tertentu, sehingga kelompok masyarakat dengan daya beli rendah semakin sulit untuk mendapatkannya.

  1. Peningkatan stres dan kecemasan 

Peningkatan pembelian secara berlebihan dalam waktu singkat dapat memicu tekanan psikologis di tengah masyarakat. Keterbatasan stok, antrean panjang, serta kekhawatiran tidak kebagian barang kebutuhan mendorong munculnya stres dan kecemasan, bahkan pada individu yang sebelumnya tidak merasa terancam.

  1. Pemborosan sumber daya

Pembelian dalam jumlah berlebih sering berujung pada barang yang tidak terpakai hingga rusak atau kedaluwarsa. Situasi ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga menyebabkan pemborosan sumber daya yang seharusnya dapat dimanfaatkan secara lebih efisien.

Cara Mencegah Panic Buying

  1. Perbarui informasi secara selektif

Jangan mudah percaya pada rumor yang beredar. Pastikan informasi diperoleh dari sumber yang kredibel, karena pemahaman yang tepat dapat membantu menekan rasa khawatir yang berlebihan.

  1. Susun rencana belanja

Sebelum pergi berbelanja, tentukan terlebih dahulu barang yang dibutuhkan. Dengan berpegang pada daftar tersebut, pembelian di luar kebutuhan bisa dihindari.

  1. Pahami pola ketersediaan barang

Barang yang terlihat habis di pasaran umumnya akan kembali tersedia dalam waktu tertentu. Menunggu dengan tenang dapat membantu menghindari keputusan belanja yang terburu-buru.

  1. Berbelanja secara rasional

Pilih waktu belanja di luar jam ramai agar terhindar dari antrean dan suasana yang memicu kepanikan. Selain itu, belilah barang secukupnya sesuai kebutuhan, tanpa menimbun secara berlebihan.

Referensi:

Alodokter. (2026, February 9). Panic buying: Penyebab, dampak, dan cara menghadapinya. Alodokter.com. https://www.alodokter.com/panic-buying-penyebab-dampak-dan-cara-menghadapinya

Setiawan, S. R. D. (2026, April 1). Mengapa panic buying terjadi saat krisis? Ini penjelasannya. Kompas.com. https://money.kompas.com/read/2026/04/01/081800726/mengapa-panic-buying-terjadi-saat-krisis-ini-penjelasannyaTraveloka. (2025, March 27). Apa itu panic buying? Alasan dan cara menghindarinya. Traveloka.com. https://www.traveloka.com/id-id/explore/tips/apa-itu-panic-buying-alasan-dan-cara-menghindarinya-fs/537449