Kebutuhan berbagai perusahaan untuk bisa bertahan di pasar yang tingkat persaingannya semakin tinggi adalah dengan memberikan pelanggan nilai tambah pada produk yang mereka buat. Oleh karena itu, mungkin anda sering mendengar istilah Continuous Improvement dan beberapa metode yang terkait erat dengannya, seperti Lean, Six Sigma, atau TQM. Istilah Continuous Improvement atau yang biasa disebut CI ini menimbulkan gagasan tersendiri dalam pikiran orang yang baru saja mendengarnya.

Namun, dalam perkembangan dunia bisnis, penerapan metode TQM sudah jarang di temui dan dikembangkan lagi didalam sebuah perusahaan. Bagaimana dengan Lean dan Six Sigma?

Lean Six Sigma adalah sebuah pendekatan manajemen yang cukup populer, dan merupakan hasil kombinasi antara Lean dan Six Sigma.

Lean adalah sebuah metodologi yang diciptakan untuk meningkatkan kecepatan proses dan kualitas produk dengan menyederhanakan value stream. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menghilangkan aktivitas dan proses yang sudah menghabiskan waktu dan sumber daya namun, tidak memilki nilai tambah apapun bagi tujuan perusahaan.

Sedangkan tandemnya, Six Sigma, adalah sebuah metodologi peningkatan kualitas untuk meningkatkan proses dan produk dengan membatasi variasi proses hingga 3.4 juta cacat untuk setiap satu juta kesempatan (3,4 DPMO-Defects Per Million Oppurtunities).

Ruang Lingkup

Baik Lean dan Six Sigma, keduanya berfokus pada menghilangkan waste dan menciptakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas produk atau jasa dengan biaya yang lebih rendah. Namun, kedua konsep ini tetap memiliki ruang lingkup yang berbeda.

  • LEAN

Lean merupakan aktivitas yang harus dilakukan terus menerus mulai dari mengubah budaya kerja dalam sebuah organisasi dan menanamkan kerja tim dengan melibatkan seluruh orang dengan keselarasan proses kerja yang terstandardisasi.

Baca juga  Industri Tekstil, Pakaian Jadi, dan Alas Kaki Semakin Ekspansif

Penerapan lean difokuskan untuk mengurangi cycle time dan memperlancar aliran proses, sehingga dapat meningkatkan tingkat pelayanan, produktivitas yang lebih baik, pemanfaatan aset yang optimal, peningkatan arus kas, mengurangi persediaan yang berlebih, waktu changeover yang lebih pendek, desain produk yang lebih baik, dan mengurangi biaya input.

  • SIX SIGMA

Six Sigma pada dasarnya adalah sebuah metodelogi berbasis proyek yang bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan dengan berfokus pada penghapusan variasi dalam proses tertentu.

Dengan demikian, gabungan antara Lean dan Six Sigma bertujuan untuk memberdayakan seluruh tenaga kerja dan sumber daya lainnya agar proses perubahan yang berlangsung dapat berjalan lancar, dan mendapatkan hasil atau output yang memiliki value bagi pelanggan. Sekali lagi, Lean Six Sigma memberikan dasar kuantitatif dan statistik yang pasti untuk implementation dari konsep awal Lean.

Fokus Area yang Diperbaiki

Lean mengarahkan anda pada sebuah perubahan budaya  secara keseluruhan, sedangkan Six Sigma lebih memfokuskan pada mengubah bagian demi bagian dari proses.

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam penerapan Lean Six Sigma adalah menerapkan lean dalam setiap proses dan penggunaan tool untuk menghilangkan waste dan proses yang tidak diperlukan. Baru kemudian, anda bisa mengombinasikannya dengan Six Sigma melalaui DMAIC – Define Measrue Analyze Improve Control  untuk menghilangkan proses yang terlalu kompleks.

Isu yang ada dari pendekatan Lean Six Sigma ini sangat berkaitan dengan kecepatan proses dan menghilangkan aktivitas waste, seperti inventori berlebih, permasalahan lead time dengan penggunaan tool seperti 5R, poka yoke, dan berbagai macam tool lean lainnya. Ada pula pendekatan lain yang berhubungan dengan kualitas, seperti reject, scrap, overall yield issues ataupun service errors dengan penggunaan tool Six Sigma, seperti Analysis of Variance (ANOVA) dan berbagai macam tool lainnya.

Baca juga  SDM yang kompeten dibutuhkan untuk menggerakkan industri sawit

Pendekatan lain dari Lean Six Sigma adalah mengadopsi Lean tools dalam proses Six Sigma. Metode Six Sigma, DMAIC tetap fleksibel untuk menentukan cacat dan mengidentifikasi cara untuk mengatasi kerusakan tersebut. Lean Six Sigma memastikan penggunaan tool, seperti 5 Whys, five S, Kanban, atau poka yoke untuk mengurangi defect pada produk.

Memulai Lean Six Sigma di dalam Organisasi

Keberhasilan penerapan Lean Six Sigma tergantung pada kepemimpinan yang baik. Untuk memulainya, anda bisa menempatkan orang yang ahli, misalnya seorang Black Belt dan beberapa Green Belt untuk membantu membimbing dan mengambil inisiatif memulai perubahan di seluruh organisasi.

Lebih jauh mengenai Green Belt dan Black Belt, simak artikel berikut ini.***RR/RW