Kebersihan tangan merupakan faktor klinis yang dapat menyelamatkan nyawa, khususnya di rumah sakit. Photo: doc. Co.Exist

Kasus kematian akibat infeksi dapat dikurangi secara signifikan, demikian juga dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh rumah sakit. Untuk melakukannya, beberapa rumah sakit menerapkan sistem ban tangan yang akan mengingatkan staf medis untuk mencuci tangan.

Aktifitas mencuci tangan adalah hal sepele yang sering diremehkan orang. Padahal, kebersihan tangan adalah hal krusial yang dapat menyelamatkan nyawa seseorang. Infeksi yang terjadi seringkali disebabkan oleh tangan yang tidak higienis, yang membuat rumah sakit harus mengeluarkan lebih banyak biaya dan energi untuk menanggulangi segala permasalahan yang terjadi. Padahal, kasus infeksi dapat berkurang secara signifikan jika saja masalah kebersihan tangan lebih diperhatikan.

Tangan yang higienis adalah “sebuah faktor yang sangat signifikan dalam usaha pencegahan infeksi medis”. Namun sayangnya, riset membuktikan bahwa ringkat kesadaran staf medis seperti dokter dan perawat dalam menjaga kebersihan tangan masih rendah. Padahal, segala papan pengingat telah banyak terpasang di kamar mandi, kamar perawatan, dan ruang perawatan intensif.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat menunjukkan fakta bahwa kesadaran untuk mencuci tangan hanya sebesar 20% di fasilitas ICU, dan 36% di fasilitas non-ICU. Secara mengejutkan jauh lebih rendah daripada perkiraan. Seperlima pasien dari rumah sakit di AS (yaitu sekitar 1,7 juta pasien) menyatakan bahwa mereka terkena infeksi di rumah sakit. Sekitar 5% pasien meninggal karena infeksi, dan biaya yang harus dikeluarkan rumah sakit karena adanya infeksi terus meningkat hingga US$30 milyar setiap tahunnya.

Efrat Raichman yang mengembangkan sistem pengingat untuk dokter dan perawat untuk mencuci tangan menekankan pentingnya intensitas pencucian tangan di rumah sakit. Bahkan jika sistemnya dinilai ‘menggangu’ bagi staf medis.

Baca juga  Apa yang paling penting dalam Inisiatif Lean Six Sigma?

Adalah Hyginex, sebuah sistem yang terintegrasi, yang memadukan soap-dispensing dengan alat pengingat berupa ban tangan. Jika dipakai oleh dokter atau perawat, ban tangan yang menyerupai gelang tersebut akan menerima sinyal. Jika mereka mendekati pasien, sebuah alat yang diletakkan didekat ruangan pasien akan memancarkan sinyal kepada ban tangan, yang akan memberikan peringatan berupa lampu LED dan getaran sebagai peringatan untuk mecuci tangan. Sistem tersebut juga akan memperingatkan jika staf medis belum mencuci tangan dengan benar; dispenser yang ada dalam sistem dapat mendeteksi jumlah sabun cair yang digunakan, dan sensor gerakan yang akan mendeteksi gerakan, gosokan dan lamanya tangan dicuci.

Dengan penempatan sistem dengan sensor dan dispenser di banyak titik, rumah sakit dapat memantau kualitas dan frekuensi pencucian tangan oleh staf-stafnya. Setiap akhir bulan, manajer di rumah sakit tersebut akan bisa membuat penilaian mengenai pencapaian rumah sakit dari sisi kebersihan tangan, dan membuat beberapa penyesuaian jika perlu.

“Seluruh staf rumah sakit akan bisa melihat informasi yang  ditampilkan. Mereka akan mampu mengetahui kualitas kebersihan tangan mereka,” kata Raichman. Menurutnya, Hyginex bukanlah sebuah bentuk management control yang memberatkan. “Saya melihat ini sebagai asisten pribadi para staf, karena pada dasarnya mereka memiliki kebutuhan untuk mencuci tangan, hanya saja sering lupa.”

Sistem ini telah dipakai oleh empat rumah sakit di Israel, dan tiga rumah sakit lainnya akan menyusul.

Adaptasi dari: Co.Exist; Ben Schiller.