A smiling Doc, one of the Seven Dwarfs from the 1930s Disney classic animated feature, is seen on a building behind a stylized Mickey Mouse figure on a fence at Walt Disney Co. corporate headquarters in Burbank, Calif., Thursday, Nov. 12, 2009. The Walt Disney Co. on Thursday posted a surprise 18 percent increase in fourth-quarter earnings as its movie studio recovered from a lengthy downturn. (AP Photo/Reed Saxon)

Ketika kita membicarakan Walt Disney, sebagian dari kita mungkin akan berpikir bahwa itu adalah tentang sebuah film kartun yang sangat lekat dengan ikon tikus sebagai tokoh utamanya. Atau, mungkin juga ketika mendengar nama Disney, melekat ingatan tentang sebuah theme park yang megah dengan segala kecanggihan dan inovasi yang ada didalamnya. Dan sudah pasti, sang pemilik memiliki aset miliaran dolar yang tidak akan habis, mungkin untuk tujuh keturunannya.

Namun, jika kita melihat Walt Disney sebagai sebuah ladang hijau untuk belajar sehingga dapat “meniru” cara-cara suksesnya, maka Walt Disney bisa dikatakan sebagai sebuah produk dari kreativitas yang luar biasa, dan banyak hal yang bisa kita pelajari dari proses di dalamnya. Itulah yang menjadi “warisan” tidak ternilai dari Walt Disney. Proses.

Robert Dills, seorang NLP expert yang pertama kali memperkenalkan strategi kreatif Walt Disney pada 1994, mengemukakan ada 3 peran yang terdapat dalam proses kreatif Walt Disney.

Robert mendefinisikan teknik tersebut sebagai metode Disney untuk mengubah impiannya menjadi kenyataan. Dalam proses yang kreatif ini, sekelompok orang menggunakan proses alur pikir tertentu yang membangun pemikiran paralel yang hasilnya bisa digunakan untuk membangkitkan, mengevaluasi, mengkritik dan juga memecahkan masalah. Inilah yang kemudian menjadi penjelasan peran dari masing-masing orang di dalam sebuah tim, yaitu the dreamer, the realist dan the critic yang kemudian disebut sebagai Walt Disney’s Creative Strategy.

The Dreamer

Biasanya, ide kreatif dimulai dengan sebuah mimpi dan juga antusiasme. Dalam sebuah meeting, gaya berpikir dari the dreamer ini biasanya ‘mentok’ oleh realitas yang ada sehingga tidak memiliki ruang untuk dapat mengerjakannya lebih jauh. Namun, di Disney, inilah tahapan pertama yang memungkinkan tim untuk berbagi impian mereka tanpa ada pembatasan atau kritik. Hal ini membantu untuk membangun “kolam” yang dipenuhi ide-ide kreatif. Namun, tentu saja dari berbagai ide yang muncul, hanya beberapa gagasan yang dapat dipertimbangkan layak atau tidak untuk direalisasikan.

Baca juga  6 Langkah Lakukan Improvement dengan Metode Lean

Dalam proses ini, the dreamer akan membuat pertanyaan, seperti:

  • Apa yang kita inginkan?
  • Apa solusinya?
  • Bagaimana kita membayangkan solusi tersebut?
  • Benefit apa yang akan didapat jika solusi tersebut diterapkan?

Roger Von Oech, seorang penulis buku berjudul “A Kick in the Seat of the Pants”, membagi tipe the dreamer ini menjadi dua peran yang berbeda.  The explorer, di mana mereka mencari informasi dan data yang menarik, lalu kemudian mereka mengatur ulang semua bagian yang berbeda dari informasi tersebut untuk membuat pola baru. Menurut Roger, menjadi the dreamer, berarti adalah menggabungkan pengalaman acak dalam cara-cara baru dan tidak biasa.

The Realist

Ide-ide yang telah ditentukan tadi, mungkin terdengar bagus di atas kertas, namun pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana semua ide ini bisa menjadi nyata? Itulah yang dilakukan the realist.

Dalam proses ini, tim harus memiliki gaya berpikir dan rencana yang lebih logis. Rencana ini bertujuan untuk mengubah ide-ide ke dalam sebuah rencana yang dapat dijalankan dan dikelola ke dalam aksi nyata. Di tahap ini, biasanya proses berjalan dengan menanyakan pertanyan seperti:

  • Bagaimana kita dapat menerapkan ide hingga bisa terealisasi?
  • Action plan seperti apa yang dibutuhkan untuk merealisasikan ide?
  • Seperti apa timeline yang akan membantu kita merealisasikan ide?
  • Bagaimana kita mengevaluasi ide?

The Critic

Setelah mendapatkan ide yang bisa untuk direalisasikan, maka di proses ini pertanyaannya adalah bagaimana tim dapat mengevaluasi ide tersebut dan mencari kelemahan serta manfaat dari ide yang akan direalisasikan. Berpikir kritis sangat diperlukan untuk mengetahui apakah ide tersebut layak atau tidak untuk diwujudkan. Apa saja hambatan yang mungkin timbul dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam proses ini, tim harus memberikan kritik yang konstruktif.

Baca juga  Kesederhanaan Sekaligus Kekuatan Siklus PDCA yang Tersembunyi dan Jarang Disadari!

Pada proses ini pertanyaan yang diajukan adalah:

  • Apakah ada yang salah dengan ide tersebut?
  • Bagian apa yang hilang?
  • Bagaimana jika kita tidak bisa merealisasikannya?
  • Apa kelemahan dalam rencana untuk mewujudkan ide tersebut?

Kesimpulan

Setiap tim di dalam organisasi, memerlukan proses berpikir kreatif yang akan membantu mereka memecahkan masalah dan membangun budaya inovatif di dalam perusahaan. Karena seperti konsep De Bono Six Thinking Hats, setiap peran mewakili persona yang berbeda. Begitupun dalam konsep Six Sigma, mengoptimalkan kinerja tim, terkadang menjadi sebuah tantangan. Untuk itu, diperlukan sebuah cara efektif yang dapat membangun kolaborasi yang kuat antar anggota sehingga kinerja tim dapat lebih optimal.***

Sumber: thereliableplant.com, designrate.com