Sumber foto: swa.co.id
Sumber foto: swa.co.id

Kondisi ekonomi Indonesia tahun ini memang dibilang melambat. Hal ini terlihat dari data pertumbuhan ekonomi Indonesia seperti yang dilaporkan Badan Pusat Statistik. Ekonomi Indonesia triwulan I-2015 terhadap triwulan I-2014 tumbuh 4,71 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah dari periode tahun sebelumnya yang mencapai 5,14%. Melambatnya ekonomi kali ini bukan hanya terjadi di Indonesia tapi juga hampir di seluruh dunia.

Perlambatan ekonomi tentu membawa dampak yang cukup terasa bagi berbagai industri di Indonesia. Tantangan yang dihadapi pelaku industri bukan hanya karena faktor ekonomi saja. Melemahnya nilai rupiah terhadap dollar, harga BBM, dan berbagai kebijakan pemerintah terkait perdagangan, baik dari dalam maupun luar negeri membawa dampak yang beragam terhadap masing-masing sektor industri di Indonesia.

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia, Adhi S Lukman memaparkan dampak dari melambatnya ekonomi Indonesia saat ini, khususnya bagi industri makanan dan minuman di Indonesia.

Lalu, faktor apa saja yang mempengaruhi keadaan ekonomi di Indonesia saat ini serta langkah apa saja yang dilakukan GAPMMI dalam menghadapi situasi ekonomi tahun ini?

Berikut petikan wawancara Majalah Shift dengan Adhi S. Lukman beberapa waktu lalu di Jakarta:

Bagaimana sebenarnya kondisi ekonomi Indonesia saat ini?

Kalau kita lihat secara umum, ekonomi Indonesia memang sedikit melemah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun sebelumnya itu pertumbuhan cukup bagus. Termasuk juga untuk industri makanan-minuman. Tapi awal tahun ini banyak sekali kendala-kendala yang dihadapi, bagi industri khususnya dan perdagangan secara umum.

Apa yang menyebabkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedikit melemah?

Pertama, karena kita lihat Indonesia ini terpengaruh oleh ekonomi global. Ekonomi global di seluruh dunia sedang mengalami krisis. Sehingga menyebabkan permintaan menurun. Akibat permintaan menurun, hal ini mengakibatkan harga-harga komoditi juga menurun.  Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor komoditi mentah terbesar atau commodity based income country. Sehingga pada saat harga komoditi menurun, pendapatan masyarakat terutama petani-petani di daerah-daerah penghasil pertanian dan perkebunan ikut menurun. Inilah yang menyebabkan daya beli ikut menurun.

Kemudian yang kedua, kondisi ekonomi Indonesia yang melambat juga diperparah oleh kondisi global, yakni “perang dingin” antara Rusia dan Eropa. Pengaruh kondisi global ini besar sekali. Kita bukan melihat Rusia dan Eropa nya saja. Cina adalah negara yang ekspornya besar ke Eropa, karena ekspor Cina ke Eropa menurun, dan Rusia pun melarang produk-produk Eropa, akibatnya permintaan Eropa menurun, jadi otomatis ekspor Cina pun menurun. Lalu, dampaknya apa untuk Indonesia? Permintaan ke Indonesia untuk ekspor komoditi-komoditi bahan baku juga ikut menurun. Hal ini menyebabkan perekonomian secara umum terkena dampaknya. Inilah pengaruh globalnya.

Baca juga  Ekonomi Indonesia Triwulan I-2021 turun 0,74 persen (y-on-y)

Kemudian jika kita lihat ke dalam negeri, memang mulai dari akhir tahun lalu dan awal tahun itu gonjang-ganjing tentang BBM dan kurs itu sangat hebat sekali pengaruhnya terhadap ekonomi di Indonesia. BBM naik turun-naik turun. Itu sebetulnya kurang bagus. Tentu ini berdampak bagi industri. Padahal, industri baik melalui asosiasi maupun kadin adalah kita setuju bahwa harga BBM itu dikomersialkan. Tidak disubsidi lagi. Karena subsidi itu menyebabkan ekonomi secara keseluruhan tidak bagus.

Bagaimana dampak yang dirasakan pelaku industri Indonesia dengan kondisi ekonomi seperti sekarang ini?

Saat ini, kurs rupiah juga pengaruh ke global, khususnya dipengaruhi oleh Amerika yang kuat. Indonesia termasuk yang mengalami depresiasi kurs, dan rupiah ini cukup signifikan sekali nilai depresiasinya. Dibanding Singapura kita kalah. Sekarang Singapura-Rupiah sudah 10.000-an. Kenapa pengaruh kursnya sangat kuat sekali? Karena industri pangan bahan bakunya banyak yang masih impor.

Dengan adanya peningkatan nilai tukar USD ke Rupiah, otomatis akan menaikkan harga pokok dari pembelian kita. Banyak sekali yang impor. Terigu misalnya, itu 100% impor, karena bahan baku gandumnya impor. Gula untuk industri 100% impor, kedelai 70% impor, jus dan konsentrat jus itu 70% impopr, susu 75%. Rata-rata semua masih impor.

Inilah tantangan yang akhirnya harus kami hadapi. Karena industri menengah di Indonesia masih belum siap. Hilirnya terlalu cepat, industri menengah kita tidak siap, hulunya pun tidak mendukung. Ini tentu menjadi tantangan bagi industri yang mengimpor bahan baku. Bagi pelaku industri yang memiliki orientasi ekspor, tentu dampak tersebut masih bisa terimbangi, tapi bagi industri yang hanya memproduksi untuk dalam negeri saja, otomatis mereka harus menaikkan harga.

Sehingga mau tidak mau, dengan kondisi yang seperti ini, banyak industri-industri yang mulai melakukan perbaikan-perbaikan demi tercapainya efisiensi, termasuk bagaimana menyiasati kondisi pasar yang tidak menentu ini.

Upaya apa yang dilakukan anggota GAPMMI dalam menghadapi kondisi ekonomi sekarang ini?

Pertama, kalau kita lihat, sebenarnya Indonesia ini punya sumber daya yang cukup banyak dan cukup besar yang seharusnya bisa kita eksplor. Kita (GAPMMI) sangat mengharapkan inovasi-inovasi produk baru yang menggunakan keunggulan dari sumber daya yang ada di dalam negeri supaya tidak bersaing head to head.

Kedua, yang paling penting lagi, industri makanan minuman kita tidak boleh diam dengan produk yang ada, paling tidak setiap tahun itu harus ada dua atau tiga produk baru yang dikeluarkan.

Baca juga  Peran Penting Behavioral Management dalam Budaya Improvement

Ketiga, kita tentunya melakukan sertifikasi halal. Ini sangat penting sekali karena sekarang ini di dunia, tren halal telah menjadi perhatian, bukan hanya di Indonesia saja, bukan hanya di negara-negara muslim saja, bahkan di Cina, Jepang, Korea sudah mulai mencari produk halal. Alasannya karena market. Marketnya berkembang.

Keempat, kita lihat bahwa memang mau tidak mau meningkatkan efisiensi melalui mekanisasi dalam proses, baik di hulu maupun di hilir. Beberapa industri sudah mulai mencoba untuk mekanisasi tersebut. Ini paling penting, jadi mau tidak mau, dengan perubahan-perubahan undang-undang ketenagakerjaan saat ini yang kurang kondusif, hal ini membuat pengusaha mulai memikirkan bagaimana memekanisasi industrinya, tidak mengurangi tenaga kerjanya tetapi produksinya meningkat.

Kelima, tentunya yang paling penting adalah meningkatkan kompetensi pekerja. Karena kita ingin produktivitas tenaga kerja itu meningkat, jadi hitungannya produktivitas per orangnya itu harus meningkat. Itu yang kita harapkan. Untuk itu, kita juga sudah mengusulkan ke pemerintah bahwa pengupahan itu berdasarkan produktivitas.

Keenam, kita ingin meningkatkan skala usaha. Skala usaha itu sangat penting sekali karena kita belajar dari Cina. Kenapa Cina bisa menjual produk-produknya dengan harga murah? Itu karena skala usaha di sana cukup baik. Contoh, beberapa waktu lalu saya mengunjungi industri jeruk di Cina. Di gudang mereka itu penuh dengan jeruk, puluhan ton jeruk bahkan mungkin mencapai ribuan ton. Sedangkan, di kita dalam waktu 10 atau 20 puluh tahun belum tentu bisa memiliki jumlah jeruk sebanyak itu. Sehingga pada saat produksi, seringnya yang terjadi baru jalan satu hari atau dua hari berhenti.

Ketujuh, adalah logistik. Kita sekarang juga berusaha memikirkan bagaimana logistik di Indonesia ini harus ditingkatkan produktivitasnya. Dengan Vietnam, Indonesia masih kalah. Logistik indeks Indonesia jauh di bawah Thailand, Singapura, Malaysia, dan Vietnam. Tentu ini menjadi tantangan juga bagi industri sehingga sekarang upaya yang dilakukan oleh industri adalah; untuk yang berskala besar mereka mampu untuk membangun industri disesuaikan dengan daerah permintaannya.

Baca juga  Meningkatkan Skalabilitas Bisnis dengan Transformasi Digital

Dan terakhir, kita juga akan berfokus pada cost of money. Karena cost of money di Indonesia itu cukup mahal dibanding negara-negara lainnya. Kita mungkin hampir mirip dengan Myanmar tapi dibanding negara lain seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Indonesia masih tertinggal. Nah, karena cost of money ini juga berpengaruh terhadap peningkatan kapasitas produksi dan inovasi pada produk, jadi inilah yang terus kita pikirkan, dan kita usulkan ke pemerintah untuk menurunkan suku bunga.

Lalu, bagaimana perkembangan industri makanan minuman ke depannya?

Kita masih optimis industri makanan-minuman masih bagus. Karena sektor lain mungkin orang boleh tidak beli baju, boleh tidak beli sepatu, tapi kalau makanan, harus. Pertumbuhan penduduk masih 1.5%. Cukup tinggi dan saya lihat, potensi industri makanan minuman untuk tumbuh masih besar. Itu karena keuntungan populasi tadi. Kedua, karena pertumbuhan ekonomi, sebetulnya Indonesia kondisi saat ini melemah, tapi termasuk masih cukup ada pertumbuhan ekonomi meskipun di bawah 5%. Tapi dengan pertumbuhan ekonomi otomatis daya beli dan income per kapita juga meningkat. Mau tidak mau pilihan-pilihan untuk membeli itu juga semakin tinggi. Kemudian di Indonesia yang menguntungkan sebenarnya struktur demografi. Struktur demografi di Indonesia itu cukup bagus. Saat ini generasi anak mudanya lebh besar. Ciri-ciri generasi muda suka mencoba yang baru. Nah, ini menguntungkan bagi industri makanan minuman Indonesia. Beda dengan Jepang, kenapa Jepang industri itu banyak yang pindah, karena generasi tuanya lebih banyak dibanding generasi mudanya. Inilah yang harus kita manfaatkan.

Ke depan industri makanan minuman ini masih bagus, meskipun tantangannya berat. Salah satu tantangan yang terberat adalah bagaimana industri memenuhi standar kemanan pangan. Karena baik lokal maupun ekspor, standar pangan dan regulasi pangan itu semakin lama semakin ketat.**RR

Wawancara Majalah Shift dengan Adhi S Lukman disajikan ulang. Wawancara ini sebelumnya telah dipublikasi di Majalah Shift edisi 05 – 2015. Baca free di http://goo.gl/ffYl9n.