SHIFT SSCX Logistik di Jerman

Walaupun kita tahu, Jerman telah menunjukkan kecakapan militer danmanuver yang gemilang dalam menyusun strategi perang, Perang Dunia II tetap tidak bisa mereka menangkan. Sejarah telah mencatat keunggulan pasukan Sekutu atas pasukan Jerman, dengan jatuhnya Paris ke tangan Sekutu.Perang yang melibatkan negara-negara Eropa berakhir dengan pendudukan Berlin oleh tentara Soviet dan Polandia dan penyerahan tanpa syarat Jerman pada tanggal 8 Mei 1945.

Banyak pengamat militer dan supply chain mengatakan, militer Jerman memiliki satu kelemahan: logistik. Ketidak-mampuan dan kealpaan Jerman dalam memperhatikan sisi logistik perang secara memadai membuat mereka tidak mampu memanfaatkan potensi militernya secara maksimal. Para perwira Jerman enggan menangani quatermaster, karena di lingkungan mereka, yang demikian bukanlah gambaran karir militer yang ideal dan memiliki prestise. Akibatnya, bagian logistik Jerman seringkali hanya dipegang oleh petugas-petugas yang tidak terlalu berkualitas.

Beberapa negara memang memiliki masalah seperti ini, namun Pasukan Jerman memiliki kecenderungan ini sejak lama. Basis industri Jerman yang terbatas adalah faktor utama penyebab lemahnya sistem logistik mereka. Akibatnya, Adolf Hitler, pemimpin Nazi Jerman pada saat itu, memulai peperangan sebelum pasukan Wehrmacht termobilisasi dengan maksimal.

Pasukan Wehrmacht adalah gabungan dari unit-unit militer Jerman, yaitu Heer (angkatan darat), Kriegsmarine (angkatan laut) dan Luftwaffe (angkatan udara).Pasukan Heer masih terlalu mengandalkan hewan untuk mengangkut persediaan dan artileri; tidak ada cukup truk untuk menunjang aktivitas logistik. Untuk mengatasi kekurangan, seringkali mereka merampas truk dari penduduk Perancis atau negara lain yang diduduki, namun hal itu tidak cukup.

Kealpaan di sisi logistik ini cukup mengherankan, mengingat Jerman pada PD II menganut strategi Blitzkrieg, yaitu strategi peperangan total dengan serangan yang masif yang diharapkan akan membawa kemenangan dengan segera di setiap operasi, untuk mencegah eskalasi konflik. Blitzkrieg menuntut kecepatan dan mobilitas tinggi, dan kekurangan di sisi logistik Jerman menjadi kelemahan yang serius; kecepatan persediaan mereka tidak mampu mengimbangi kecepatan panser yang terus bergerak maju.

Baca juga  3 Konsep Penting dalam Metode Lean

Kekuatan logistik memang tidak terlalu dianggap penting untuk pasukan yang dirancang untuk memenangkan perang dalam periode singkat, namun sangat penting bagi pasukan yang terlibat peperangan yang berlarut-larut. Wehrmacht tidak terlalu terganggu dengan kelemahan tersebut di operasi-operasi singkat pada perang di Polandia dan Barat. Sistem logistik yang lemah menjadi kekurangan yang sangat merugikan ketika Wehrmacht terlibat dalam perang yang membutuhkan pergerakan jarak jauh, cuaca yang tidak ramah, dan jaringan transportasi yang primitif.

Gagalnya Operasi Barbarossa

Sebagai contoh, pada 22 Juni 1941, Jerman dibawah piminan Hitler melancarkan Operasi Barbarossa, yaitu penyerangan atas Uni Soviet (USSR). Selama invasi, sekitar empat juta tentara dari negara-negara Achsenmächte (Jerman, Jepang dan Italia)menginvasi USSR dengan menempuh jarak 2.900 km.Pada operasi tersebut, dilibatkan pula 600.000 kendaraan bermotor dan 625.000 kuda. Sejarah mencatat invasi ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah perang, dan memakan korban dalam jumlah besar di kedua belah pihak: 95% dari pasukan Jerman pada tahun 1941-1944, dan 65% dari pasukan Uni Soviet hingga akhir perang.

Secara taktis, Jerman memang telah memproyeksikan kemenangan dengan menduduki beberapa daerah ekonomi penting milik Uni Soviet, khususnya di wilayah Ukraina. Namun mereka tidak berhasil menduduki Moskow, dimana pasukan Jerman dipukul mundur oleh Uni Soviet.Pasukan Merah (Red Army) Soviet menahan serangan masif dari Wehrmacht dan mengepung mereka. Kekuatan Jerman perlahan terkikis akibat perang dengan negara terbesar di dunia pada saat itu.

Situasi krisis yang dialami pasukan Jerman pada akhir 1941 disebabkan oleh semakin bertambahnya kekuatan Pasukan Merah dan beberapa faktor lain yang mengurangi efektivitas kekuatan Jerman. Menurut pakar militer, kegagalan Operasi Barbarossa terutama disebabkan oleh tiga hal: Jerman terlalu menganggap remeh mobilisasi Uni Soviet, faktor cuaca dan kesalahan dalam perencanaan logistik.

Kelemahan Logistik pada Operasi Barbarossa

Baca juga  Efisiensi vs. Efektivitas: Prioritas Manakah yang Lebih Utama?

Ketika invasi dimulai di musim panas yang kering, Jerman mengejutkan Soviet dengan menghancurkan sebagian besar Pasukan Merah pada minggu pertama. Ketika musim berganti, seiring datangnya musim gugur yang diikuti musim dingin, kondisi Pasukan Merah mulai pulih dan kekuatan serangan Jerman mulai lemah. Pasukan Jerman kekurangan persediaan untuk meneruskan perang, termasuk persediaan bahan bakar bagi pergerakan pasukan.

Hal ini sebenarnya telah diprediksi oleh unit logistik Jerman sebelum operasi dimulai, namun peringatan mereka tidak dihiraukan. Petinggi militer Jerman berasumsi bahwa dalam enam hingga delapan minggu mereka akan memperoleh kebebasan strategis dengan hancurnya Pasukan Merah. Hanya pada saat itulah mereka bisa mengalihkan dukungan logistik yang diperlukan untuk memasok unit-unit militer yang menduduki wilayah yang telah dikuasai.

Pasukan infanteri dan panser Jerman menempuh jarak 480 km di minggu pertama, namun unit-unit pengangkut persediaan mereka sulit untuk mengimbangi. Jalur kereta api Soviet pada awalnya tidak bisa dimanfaatkan, karena perbedaan ukuran track yang digunakan (Jerman menggunakan standar Eropa, sedangkan Soviet standar Rusia). Fasilitas jalur kereta api di sepanjang perbatasan juga banyak yang telah dipreteli. Apalagi, rute jalanan yang nampak mulus di peta pada kenyataannya tidak layak untuk digunakan. Kekurangan persediaan inilah yang secara signifikan memperlambat dan menurunkan efektivitas tinggi yang sebelumnya dicapai melalui taktik blitzkrieg.

Pada musim dingin, kelemahan di sisi logistik Jerman semakin memperparah keadaan. Persediaan pakaian musim dingin bagi pasukan Wehrmacht yang disimpan di gudang di Reich tidak dapat diangkut ke garis depan karena keterbatasan angkutan kereta api. Sistem logistik lebih diprioritaskan untuk mengangkut bahan bakar, amunisi, dan pasokan lainnya, sehingga pengangkutan pakaian musim dingin tidak diprioritaskan. Apalagi, proyeksi awal serangan ini akan berakhir di musim panas.

Baca juga  Dua Hal Esensial untuk Menciptakan Perubahan

Faktor cuaca, jarak yang jauh, dan jaringan transportasi yang tertinggal yang menjadi penyebab utama gagalnya Operasi Barbarossa. Potensi masalah tersebut gagal diantisipasi oleh Jerman; Hitler menginginkan rencana invasi yang agresif, dan perencana perang yang mengedepankan potensi masalah diatas mendapat kritik atau bahkan diganti.

What’s the Point?

Pada contoh kasus ini, jelas terlihat bahwa operasi logistik yang direncanakan dengan matang dan efisien menjadi sesuatu yang sangat krusial dan menentukan kemenangan. Pengabaian di sisi vital ini dapat menyebabkan kerugian besar, bahkan kekalahan perang. Keadaan yang tadinya baik-pun bisa berbalik.

Supply chain yang berfungsi dengan baik memang telah menjadi sesuatu yang penting dalam keseharian di organisasi. Faktor tersebut bahkan menjadi lebih krusial lagi pada waktu krisis dan keadaan darurat, termasuk masa peperangan.***RW