SHIFT SSCX News mandiri BRI

Pengamat dari Management and Economics Development Studies (MECODEstudies), Mangasa Sipahutar, menilai PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bisa menjadi bank kosolidator mengingat kinerja keuangan kedua bank plat merah itu cukup baik.

“Kedua bank itu layak jadi pemimpin konsolidasi. Siapa pun dari dua bank itu menjadi pemimpin, tidak jadi masalah,” kata Sipahutar, di Jakarta seperti dikutip Antaranews.com.

Bank Mandiri memiliki ekuitas permodalan dan aset paling besar sedangkan BRI peraih laba bersih tertinggi di Tanah Air. Kementerian BUMN dan pemerintah jangan berwacana terus mengenai konsolidasi perbankan, tanpa pernah dilaksanakan sama sekali.

Ia juga mempertanyakan alasan kebijakan kepemilikan tunggal (single presence policy/SPP) dari Bank Indonesia tidak pernah diberlakukan kepada pemerintah yang notabene memiliki empat bank BUMN.

“Padahal, bank-bank pemerintah lebih mudah digabungkan karena pemiliknya cuma satu, yakni pemerintah Republik Indonesia,” tegas dia. Tindakan pemerintah yang cenderung tidak mengonsolidasikan bank-bank BUMN dan sering berwacana membuat kinerja beberapa bank terus merosot.

Contohnya BNI yang terus menurun pertumbuhan labanya dan BTN yang kekurangan permodalan untuk ekspansi. Lima belas tahun lalu, BNI masih menjadi bank terbesar di Indonesia, namun sekarang posisinya melorot menjadi bank terbesar keempat.

Jika terus berwacana, konsolidasi bank akan disikapi ricuh oleh kalangan serikat pekerja. Sikap tegas pemerintah, yang langsung “ketuk palu” dipastikan akan dipatuhi karyawan bank.

Jika pemerintah tidak juga mengonsolidasikan bank-bank BUMN, kata Sipahutar, kepentingan asing akan semakin mendominasi industri perbankan nasional. Apalagi saat ini, perbankan nasional hampir dikuasai asing melalui bank-bank swasta.

“Mereka tidak akan pro kepentingan rakyat ataupun pertumbuhan ekonomi. Makanya, segera lakukan konsolidasi perbankan,” kata dia.

Baca juga  Fakta Menarik yang Perlu Anda Tahu tentang Bisnis 

Ketua Umum Perbanas, Sigit Pranomo, mengatakan, bagi negara yang sedang membangun seperti Indonesia, jelas membutuhkan policy bank (bank khusus).

Secara pribadi, dia mendukung konsolidasi perbankan, karena memang kebutuhannya dirasakan mendesak. Apalagi, ketika menjadi direktur utama BNI, dia telah menginisiasi untuk mengakuisisi BTN pada delapan tahun yang lalu, namun ditolak karyawan BTN.

Dia menilai sangat diperlukan cetak biru perbankan nasional untuk 5-10 tahun mendatang, yang setara dengan undang-undang dan menjadi consensus berbagai pihak, baik Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, pemerintah, termasuk DPR, mengenai mau jadi seperti apa bank BUMN ke depannya.

Negara tetangga Malaysia, melalui Bank Negara Malaysia telah mempunyai cetak biru pengembangan sektor keuangannya, untuk periode 2011-2020.***

Sumber: Antaranews.com