Merupakan satu kesalahan besar jika mengira lean hanyalah salah satu dari sekian banyak tools dalam operational excellence. Keunggulan operasional benar-benar merangkum semua praktik terbaik yang berbeda selama bertahun-tahun. Lean, di sisi lain, merupakan satu set praktik spesifik yang saling berkaitan, alat, dan perilaku yang berasal dari referensi yang sangat jelas. Lean berkembang dari praktik dan eksperimen yang dilakukan oleh Toyota dan perusahaan lainnya yang telah mengikuti contoh mereka, bukan melalui implementasi dari teori bisnis.

Memang benar, lean adalah pendekatan yang lebih mendasar dan komprehensif untuk pemecahan masalah dan menciptakan nilai bagi pelanggan. Lean juga lebih banyak melibatkan karyawan dalam proses perbaikan secara terus-menerus dan menghilangkan pemborosan.

Salah satu hal utama yang membedakan lean adalah dari sisi ruang lingkupnya – yang meliputi seluruh proses pembentukan nilai – seperti supply chain secara menyeluruh. Alih-alih mengembangkan sistem pendukung baru, lean tetap berfoku pada pekerjaan yang nyata yang menciptakan nilai dimana hal tersebut layak dibayar oleh pelanggan, yang kadang disebut juga sebagai value stream.

Lean membawa banyak tools yang berbeda sehingga setiap nilai akan menciptakan langkah yang dapat diimplementasikan tepat pada waktunya, kemudian menghubungkan langkah-langkah tersebut dalam satu aliran fisik dan tingkatan beban kerja untuk menciptakan keselarasan antara kapasitas dengan permintaan. Ketika nilai utama telah mulai berjalan, lean menerapkan tools ini untuk melakukan sinkronisasi terhadap semua kegiatan pendukung yang memungkinkan aliran nilai utama berjalan lancar dan semua elemen yang dibutuhkan oleh pelanggan untuk memecahkan masalah mereka. Hal ini pada gilirannya, memerlukan suatu manajemen lean yang tepat untuk memastikan pekerjaan dapat berjalan sesuai dengan rencana, untuk memperluas masalah dan membuka penghambat untuk mendukung akar penyebab pemecahan masalah.

Baca juga  Efisiensi vs. Efektivitas: Prioritas Manakah yang Lebih Utama?

Hasil akhir yang dapat diperoleh adalah sistem penciptaan nilai yang dirancang kembali dari definisi nilai menurut pelanggan dan juga dari kegiatan yang menghasilkan nilai tersebut.

Hal lain yang membedakan lean adalah kedalamannya. Semakin terkait dan sinkron semua kegiatan, pengoperasian seluruh sistem semakin bergantung pada keterampilan dan perilaku setiap karyawan.

[cpm_adm id=”10097″ show_desc=”no” size=”medium” align=”right”]

Di satu sisi, suatu sistem yang terintegrasi seperti mengkalikan probabilitas interupsi yang harus merespon dengan cepat. di sisi lain, lean menyediakan umpan balik yang sangat berharga tentang penyebab masalah dan perubahan lainnya yang mungkin saja tersembunyi atau bahkan hilang. Justru untuk memanfaatkan umpan balik ini, inti keterampilan lean tidak hanya pada alat dan tekniknya, melainkan pada penggunaan metode ilmiah untuk menentukan dan mendiagnosa masalah, memahami fakta, mencoba beberapa solusi dan mengkaji solusi mana yang mampu memecahkan masalah dengan tepat.

Hal tersebut dikarenakan pemecahan masalah hanya bisa dilakukan dengan menggabungkan pengetahuan pekerjaan yang terperinci dengan konteks masalah keterampilan yang perlu dipelajari oleh setiap karyawan, bukan hanya para ahli saja. Mengembangkan keterampilan dan menggunakan pendekatan eksperimental ini untuk meningkatkan performa masing-masing value secara terus-menerus hanya bisa dicapai melalui praktik nyata, bukan teori.

Sistem yang transparan dan saling tergantung adalah yang harus ditingkatkan di setiap organisasi. keterampilah yang harus dimiliki lean leader adalah dapat mengatur arah dan memfokuskan upaya semua orang pada beberapa hal penting yang mampu menghasilkan suatu perbedaan besar untuk organisasi, pelanggan, dan juga karyawan. Artinya, ia harus mampu menerjemahkan tujuan organisasi dan menggunakan strategi untuk menjalin komunikasi dengan anggota organisasi lainnya.***