Memproduksi sebuah produk dengan biaya seminim mungkin kemudian mengirimnya secepat mungkin kepada konsumen tanpa kendala, merupakan tujuan perusahaan di seluruh dunia. Sumberdaya manusia seringnya menjadi rantai terlemah sekaligus yang terkuat.

Kegiatan bisnis bertolak pada proses meningkatkan produktifitas kerja termasuk meminimalisasi risiko. Manajemen Lean dalam industri manufaktur merupakan metodologi yang dikembangkan Toyota meningkatkan efisiensi. Sejak saat itu filosofi produksi Lean menjadi cara kerja di berbagai aspek industri. Saat ini perspektif Lean bisa didapatkan di berbagai bidang, sama seperti perangkat lunak atau software, dan pengembangan industri.

[cpm_adm id=”10763″ show_desc=”no” size=”medium” align=”left”]

Pada saat yang sama Toyota mengembangkan Lean, Motorola telah menciptakan sebuah metode yang kemudian dikenal sebagai Six Sigma. Metode tersebut ditemukan Jack Welsh’s pada 1990an sebagai landasan bisnis General Electric. Sebagaimana Toyota, General Electric perlu mengkombinasikan efesiensi tenaga kerja, memangkas kerugian.

Six Sigma mengembangkan proses analisis statistik metrik produksi, sedangkan Lean mengembangkan alur proses mengurangi kesenjangan kerja.

Sebagaimana terminologi yang dipakai dalam bisnis, alur proses telah banyak digunakan di berbagai bidang pekerjaan. Bahkan pekerjaan olahragawan, seniman dan programer semuanya nampak menjadi bidang yang sama.

Selain Lean dan Six Sigma, Just in time (JIT) menjadi salah satu pendekatan manufaktur yang muncul dari Jepang dan berhasil menarik minat seluruh industri dan bisnis di dunia. Lean, Six Sigma dan JIT saat ini berhasil menjadi rekan kerja yang baik bagi berbagai perusahaan di seluruh dunia.

Meski Six Sigma seolah-olah sebagai metode statistik, Lean tentang alur kerja, dan JIT tentang pengurangan kerugian, ketiganya memiliki sebuah kesamaan. Studi Abraham Maslow’s atas tingkat kebutuhan sampai motivasi Frederick Herzberg dan faktor higienis, semua teori dan praktiknya menjadi dasar pelajaran manajemen, atas satu faktor yang sama: sumberdaya manusia. Memasukkan sumberdaya manusia ke dalam proses bisnis yang tepat, sisanya akan mengikuti. Saat ini komunitas bisnis di seluruh dunia merespon prinsip yang sama, apapun bahasanya dan dimanapun proses itu dibuat.

Baca juga  Inspirasi dari Lapangan: Pelajaran Operational Excellence dari Permainan Basket

Tak ada perbedaan yang signifikan antara industri manufaktur dan industri yang terikat rutinitas kantor seperti industri software. Jika operasi bisnis dalam mesin industri manufaktur berjalan tak wajar dalam skala besar, sumberdaya manusia bisa cedera. Tak heran kesehatan dan keamanan menjadi yang terpenting terkait operasi alat berat industri manufaktur.

[cpm_adm id=”11002″ show_desc=”no” size=”medium” align=”none”]

Bagaimanapun, jika semua berjalan salah kerugian tak terjadi menyeluruh. Hal tersebut lebih dikarenakan setiap proses telah didesain memberi ruang timbal balik, feedback, kemampuan menyerap pengalaman dari setiap proses sebelumnya. Jika pengalaman tak menjadi pelajaran, informasi menjadi sia-sia. Menjaga produksi di dalam standar proses menjadi tujuan dari Six Sigma.***