Sangat penting untuk memahami apa arti sebenarnya “respect for people” sehingga organisasi memiliki produktivitas, inovasi, dan sustainabilitas yang lebih besar.

Respect for People (RFP) merupakan salah satu pilar The Toyota Way (pilar lainnya yang paling populer yaitu kaizen/ continuous improvement). Pilar ini sangat dibutuhkan organisasi untuk mencegah upaya kaizen yang gagal. Mengutip blog Kaizen Institute, RFP memiliki dua deskripsi menarik yaitu Respect dan Teamwork.

Respect memiliki arti menghormati dan memahami pendapat orang lain. Yaitu bagaimana melakukan segala upaya untuk membangun rasa tanggung jawab dan kepercayaan satu sama lain. Sementara teamwork berarti fokus pada kinerja individu dan tim juga berbagi kesempatan untuk mendukung pengembangan baik profesional dan pribadi seluruh anggota tim. Meskipun tidak mendefinisikan seluruhnya, namun dua hal ini membantu kita menerapkannya sehari-hari di tempat kerja.

Mempraktikkan dalam pekerjaan sehari-hari

Mengutip techtarget, dalam mempraktikkan RFP pertama-tama yang harus dilakukan adalah menanggapi orang dengan segera mungkin, mendengarkan dengan penuh perhatian, mendengarkan pendapat mereka dan tidak mengabaikan mereka bahkan ketika mereka berbeda pendapat dengan Anda. Ini berarti mendorong orang-orang untuk berani menyampaikan pendapat, memiliki empati sesuai sudut pandang mereka dan mencoba melihat sesuatu dari sudut pandang mereka.

Namun perlu digarisbawahi bahwa ini tidak berarti Anda harus selalu setuju dengan mereka. Jadi salah satu seni menghormati orang adalah belajar bagaimana bersikap tegas dan tidak setuju dengan suatu sudut pandang, namun tanpa terdengar agresif atau mengancam atau argumentatif.

Bagian penting lain dari menghormati orang adalah memberi orang tanggung jawab untuk membuat keputusan tentang pekerjaan mereka. Untuk mencapai ini, penting untuk membangun pengetahuan dan mengembangkan orang-orang yang dapat berpikir sendiri.

Baca juga  Inilah 5 Alasan Mengapa Anda Harus Mendengarkan End Customer

Orang yang dapat berpikir sendiri dan ahli di bidangnya sering kali perlu diberdayakan untuk merasa dihormati. Salah satu caranya adalah dengan memastikan bahwa mereka berkomunikasi dan terlibat langsung dengan mereka.

Menyelesaikan masalah bukan mencari siapa yang salah

Riyantono Anwar dalam artikelnya menyebutkan bahwa di dalam Lean ada istilah “setiap pemimpin adalah guru”. Artinya diharapkan saat gemba terjadi aktivitas coaching dimana atasan akan mengajari bawahan bagaimana cara menyelesaikan masalah. Atasan akan melihat apakah masalahnya terletak pada kurangnya pengetahuan, kurangnya pemahaman, kurangnya skill, atau bahkan kurangnya motivasi dalam melaksanakan pekerjaan sehingga atasan bisa melakukan fungsi coaching disini.

Adapun mindset yang harus dipegang pemimpin saat gemba adalah “innocent people” yaitu meyakini bahwa masalah itu bukan disebabkan kesalahan orang. Sehingga bukannya langsung menyalahkan orang “who” tapi menggali akar masalah dengan “why”. Perubahan paradigma ini yang penting dipegang atasan saat melakukan gemba.

Mengingat tujuan yang ingin dicapai adalah “menyelesaikan masalah” bukan mencari “siapa pembuat masalah”. Sehingga akan digali apa kesulitannya apakah tidak mengerti, tidak paham, kurang pelatihan, sarana tidak tersedia, kesulitan proses, atau hal lain. Sehingga pilihan menghukum menjadi alternatif yang paling terakhir.

Budaya respect for people ini juga mendorong orang untuk tidak menutupi masalah karena mengerti bahwa atasan tidak hanya menyalahkan tetapi membantu untuk mencarikan jalan keluarnya.

Budaya Lean meyakini bahwa masalah yg ditutupi artinya menutup peluang perbaikan bagi organisasi. Tapi sebaliknya, masalah yang dibuka, dianalisa, dan diselesaikan adalah harta karun bagi organisasi. Karena, problem is opportunity for improvement.