(Cut the Right Cost – Bagian 2)

“Mengerahkan segala kemampuan untuk menjadikan setiap dolar yang dikeluarkan pelanggan berharga, berkualitas, dan memuaskan”

Pernyataan di atas adalah salah satu hasil pemikiran dari J.C Penney, pendiri dan pemilik perusahaan retail J.C Penney, tempat di mana Sam Walton memulai karirnya sebagai management trainee di tahun 1940. Rupanya pemikiran-pemikiran Penney mampu menginspirasi Wallton dalam mengembangkan arsitektur bisnis Wall-Mart.
Selama beberapa dekade ini, WalMart selalu mencari berbagai macam strategi untuk mempertahankan keunggulan cost leadership-nya, beberapa diantaranya gagal, namun mayoritas berhasil. Salah satu inovasi terbesar Walmart adalah pengelolaan inventory yang efektif.

Semua toko terhubung dengan kantor pusat, setiap produk yang terjual terekam dalam sistem. Ketika penjualan suatu produk laris di toko tertentu, sebuah pesan langsung terkirim ke gudang pusat distribusi untuk segera restocked. Dengan sistem ini WalMart tidak pernah kehabisan stock barang, dan dapat merespon kebutuhan pasar dengan cepat, tetapi pada saat bersamaan beroperasi pada tingkat inventori yang efisien.

Sistem kontrol tersebut juga aktif sebagai alat penggali data untuk memahami perilaku belanja pelanggan, data ini menjadi sumber informasi oleh pemasok untuk melakukan replenish, dan mengurangi biaya inventory dan shrinkage.

Otonomi pengelolaan inventory diberikan kepada masing-masing toko, sehingga arus barang tidak berjalan dengan batch besar. Masing-masing pegawai (pelayan toko) memiliki akses ke in-store terminal yang memungkinkan mereka memantau inventory, kedatangan barang, dan backup merchandise dalam stok dengan pusat distribusi.

Di tahun 2003, WalMart meminta 100 pemasok utamanya untuk mengaplikasikan RFID (Radio Frequency Identification), dengan pengaplikasian RFID ini pegawai tidak perlu melakukan scan fisik pada produk yang masuk, sehingga menghemat tenaga kerja dan waktu.

Baca juga  Transformasi Culture Ciptakan Competitive Advantage di BRI

Pada 2007 lalu, WalMart melakukan inisiatif Inventory DeLoad, dimana Wal-Mart divisi Stores mampu membuat tren jumlah inventory yang menurun, dengan kenaikan inventory level hanya 0,7% dibandingkan kenaikan penjualan 5,8%.

Optimasi inventori dilakukan dengan cara:

  • Melihat inventory level secara keseluruhan di seluruh supply chain. Ini termasuk bahan baku dan persediaan komponen dan dalam beberapa kasus bahkan sampai ke rak ritel.
  • Optimalkan dan terus-menerus memperbarui tingkat safety stock di tingkat tertentu yang lebih efisien.
  • Memperhitungkan dampak dari variasi rencana demand dan supply dalam merekomendasikan tingkat inventori.

Optimasi inventori adalah salah satu strategi yang to-the-point dalam menurunkan biaya material. Biaya inventori tidak dapat dilihat hanya sebagai biaya modal yang menganggur dan hanya kemudian dihitung sebagai opportunity loss yang dibandingkan dengan bunga bank, misalnya. Biaya inventori mencakup kemudian biaya transportasi, biaya penyewaan gudang, biaya penyewaan user-id untuk sistem ERP atau MRP kita dikarenakan semakin banyaknya orang yang diperlukan untuk mengelola inventori. Biaya yang kadang juga besar di beberapa industri adalah biaya kerugian akibat material yang kemudian kadaluarsa atau menurun kualitasnya, kerusakan material akibat disimpan, hingga yang paling parah adalah material kemudian tidak dapat dipakai lagi karena perubahan teknologi, perubahan produk, dan perubahan permintaan dari pelanggan.

Optimasi inventori juga bukan berarti bahwa inventori harus serendah mungkin, walaupun pada praktiknya, skenario ini yang paling sering digunakan. Optimasi inventori juga sangat penting untuk mencegah opportunity loss yang disebabkan ketidak mampuan kita menghasilkan produk yang dibutuhkan pelanggan karena kita tidak memiliki material yang cukup. Optimasi inventori di sini lebih ke arah bagaimana kita dapat memahami supply-chain secara keseluruhan, produk, demand atau permintaan, nature of business, service level, manajemen resiko, nilai tukar mata uang, reliabilitas dari supplier, dan elemen-elemen pendukung lainnya, untuk kemudian menentukan tingkat paling ideal. Ingat, cost reduction bukan dengan melakukan penurunan tingkat inventori, tetapi dari optimasi akan elemen-elemen yang disebutkan di atas.

Baca juga  Transformasi Culture Ciptakan Competitive Advantage di BRI