Akuntansi inovasi memungkinkan setiap industri untuk membuktikan secara obyektif bahwa
mereka memang belajar menumbuhkan bisnis yang berkesinambungan. “Akuntansi inovasi
diawali dengan mengubah asumsi lompatan nekat menjadi model keuangan kuantitatif.”

Tiap rencana bisnis mengandung semacam model bakan kalaupun rencana bisnis itu sekadar
corat-coret di atas serbet. Model tersebut menyuguhkan asumsi-asumsi mengenai akan
seperti apa bisnis itu naninya ketika mencapai suskes pada masa depan.

Contohnya, rencana bisnis untuk perusahaan manufaktur mapan akan menunjukkan bahwa
pertumbuhannya proporsional dengan volume penjualan. Sementara laba dari penjualan
barang diinvestasikan kembali untuk pemasaran dan promosi, perusahaan pun memperoleh
konsumen baru.  Tingkat pertumbuhan terutama bergantun pada tiga hal:
– Profitabilitas per konsumen,
– Biaya untuk mendapatkan konsumen baru,
– Pembelian berulang oleh konsumen tetap.

Kontras dengan itu, perusahaan marketplace yang mencocokkan pembeli dengan penjual
seperti eBay niscaya mempunyai moel pertumbuhan yang lain. Keberhasilannya terutama
bergantung pada efek jaringan yang menjadikannya tujuan utama transaksi, baik oleh
pembeli maupun penjual. Penjual menginginakn pasar dengan jumlah calon konsumen paling
banyak. Pembeli menginginkan pasar dengan tingkat kompetisi antarpenjual tertinggi, yang
berujung pada ketersediaan produk terbanyak dan harga terendah.

Dalam ilmu ekonomi, kondisi ini terkadang disebut sebagai supply-side increasing returns
dan demand-side increasing returns. Untuk startup jenis ini yang penting untuk diukur
adalah keampuhan efek jaringan, yang dibuktikan oleh tingginya tingkat retensi pembeli
dan penjual baru. Jika konsumen terus bertahan sekalipun produk perusahaan sangat
ramping, marketplace ini akan tumbuh sendiri. Kurva pertumbuhannya akan menyerupai bunga majemuk, yakni dengan tingkat pertumbuhan yang bergantung pada suku bunga konsumen baru pengguna produk.

Walaupun kedua bisnis tersebut mempunyai pendorong pertumbuhan yang sangat berlainan,
kita masih bisa menggunakan kerangka yang sama untuk menilai akuntabilitas pemimpinnya.
Bahkan, ketika model bisnis berubah, kinerja masih dapat dinilai menggunakan kerangka
yang sama.

Tiga Jenjang Pembelajaran

Akuntansi inovasi terdiri atas tiga tahap: pertama, gunakan minimun viable product untuk
menghimpun data nyata mengenai kondisi perusahaan saat ini. Tanpa gambaran jernih
tentang status Anda saat ini -tidak peduli masih seberapa jauh usaha Anda dari tujuan
akhirnya- anda takkan bisa melacak kemajuan.

Baca juga  Lebih Efisien dengan Lean Management

Kedua, startup harus berusaha untuk mengutak-atik mesin pertumbuhan dari titik tolaknya menuju koalisi ideal. Untuk itu, mungkin butuh percobaan berkali-kali. Setelah selesai membuat perubahan mikro dan mengoptimalkan produk sehingga menggerakkan titik tolaknya untuk menyongsong kondisi ideal sebisa mungkin, startup mesti membuat putusan. Inilah tahap ketiga, yaitu banting setir atau bertahan.

Jika perusahaan menunjukkan kemajuan positif ke arah kondisi total, artinya perusahaan
itu belajar dengan baik dan menggunakan pelajaran tersebut secara efektif sehingga masuk
akan apabila proses yang sudah berjalan diteruskan saja. Jika tidak, tim manajemen
akhirnya harus menyimpulkan bahwa strategi produknya yang sekarang memang bercela dan
perlu diubah secara signifikan. Ketika perusahaan banting setir, keseluruhan proses
harus diulang lagi dari awal – titik tolak baru harus ditetapkan dan dari titik itulah
mesin pertumbuhan mesti diutak-atik kembali. [Dikutip dari Buku “The Lean Strartup”,
Eric Ries 2015]