Eric Ries, penggagas Lean Start-Up.
Eric Ries, penggagas Lean Start-Up.

“Metode Lean Start Up akan mengajari anda bagaimana mengarahkan sebuah perusahaan start-up; kapan harus berbelok, kapan harus bertahan dan mengembangkan bisnis dengan akselerasi maksimum.”

Tentukan Pendapat Anda, Pro atau Kontra Lean Start-Up?

Demikianlah pernyataan yang dipaparkan pada website theleanstartup.com besutan Eric Ries. Ries memang merupakan penulis dan praktisi Lean yang menemukan istilah ‘Lean Start Up’. Dari namanya, metode ini jelas merupakan salah satu pengembangan dari Lean Enterprise yang populer sebagai metode efisiensi proses dan peningkatan kualitas.

Lean Start Up Memberi Anda ‘Super-Booster’ di Tahap Awal

Lean Start Up memang dirajut untuk memberi kekuatan super kepada perusahaan muda, alias startup company. Metode Lean Start Up memberikan pendekatan sains untuk menciptakan dan mengelola perusahaan muda dan mempercepat time-to-market, atau sampainya produk ke tangan pelanggan. Menurut Eric Ries, sang penggagas, Lean Start Up akan memandu anda mengemudi ke arah yang benar, dengan akselerasi maksimum, untuk mencapai tujuan yang diidamkan. Metode ini khususnya bermanfaat untuk memaksimalkan pengembangan produk baru.

Ide awal Lean Start Up lahir dari ‘penyakit’ umum para pengusaha yang tengah membangun perusahaan. Tahap awal selalu menjadi tahap yang paling menyakitkan. Di tahap inilah mereka ‘berjudi’ dan melakukan ‘trial and error’. Berbagai pergerakan di tahap ini mengandung banyak resiko. Terbukti dengan sebuah riset yang dilakukan oleh Shikhar Ghosh dari Harvard Business School, 75 persen dari perusahaan startup gagal eksis dan harus kalah di tengah badai persaingan yang terlalu ‘kejam’ untuk mereka.

Menurut Ries (yang tertulis di website-nya), perusahaan-perusahaan start-up seringkali memulai dengan memikirkan produk yang mereka kira diinginkan oleh calon pelanggan. Mereka kemudian menghabiskan berbulan-bulan atau bertahun-tahun, menyempurnakan produk, bahkan tanpa menunjukkan produk tersebut kepada prospek pelanggan. Karena konsep produk tidak dikomunikasikan, calon pelanggan tidak merespon seperti yang diharapkan ketika produk akhirnya diluncurkan. Perusahaan muda itupun gagal.

Eric Ries, melihat fakta ini, akhirnya memikirkan banyak solusi terkait implementasi konsep Lean di perusahaan muda. Tujuannya adalah agar perusahaan-perusahaan muda bisa dengan cepat membangun akar yang kokoh serta kemudi yang andal. Metodologi yang ia kembangkan dari Lean, yang disebut Lean Start-Up, mendukung konsep eksperimen ketimbang perencanaan yang kompleks, umpan balik pelanggan ketimbang intuisi, dan perancangan interatif ketimbang “perencanaan besar di tahap awal”. Metodologi ini dengan cepat menumbuhkan akarnya di dunia industri modern, dan konsep-konsepnya, seperti “minimalisir produk jangka panjang” dan “pivoting”, dengan cepat diserap oleh dunia start-up.

Baca juga  Antara Lean dan Agile, Mana yang Lebih Efektif di Masa Kini?

Namun Lean Start-Up yang tengah digandrungi ini ternyata menuai pro dan kontra. Michael Sharkey melalui tulisannya di venturebeat.com menyatakan ketidak-setujuannya dengan konsep Lean Start-Up. Tidak bermaksud menyerang Eric Ries, namun menurut Sharkey, ada banyak aspek dari Lean Start-Up yang salah.

Salah satu kesalahan dalam Lean Start-Up, menurut Sharkey, metode tersebut lebih mementingkan fitur-fitur pada produk, alih-alih keseluruhan produknya. Silicon Valley ia nilai terlalu terobsesi kepada perusahaan yang hidup dan dibangun berdasaran satu fitur, yang pada akhirnya malah mendorong akuisisi oleh perusahaan yang lebih besar. Lebih lengkapnya, simak artikel berikut ini dan tentukan pendapat anda.***