Operator telekomunikasi asal Malaysia, Axiata Group Bhd., akan segera mengambil-alih kepemilikan PT. Axis Telekom Indonesia. Rencana ini kabarnya telah mendapat persetujuan dari pemerintah Indonesia dan akan disahkan segera pada tahun ini. Sementara itu, operator lain yang menjadi rivalnya, akuisisi ini sebaiknya tidak mengganggu keharmonisan dalam industri telekomunikasi di Tanah Air.

Seperti dilansir dari thejakartapost.com, Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memberikan persetujuan terkait akuisisi Axis yang dimiliki Saudi Telecom Co oleh Axiata Group melalui unit lokalnya, PT. XL Axiata. XL-Axiata sendiri merupakan operator telepon seluler ketiga terbesar di Indonesia.

“Pada prinsipnya, kami telah mengabulkan permohonan akuisisi yang melibatkan XL Axiata dan Axis,” kata Menkominfo Tifatul Sembiring baru-baru ini.

Namun ia baru akan memberikan izin formalnya setelah Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI) menyerahkan hasil tinjauan bersama mengenai validitas dari akuisisi tersebut.

“Kami dapat memberikan izin formal sebelum akhir tahun ini, karena mereka (BRTI dan SDPPI) akan menyerahkan hasil tinjauan bersama sekitar bulan Agustus ini,” kata Tifatul.

Tinjauan tersebut antara lain akan membahas legalitas dan peraturan mengenai akuisisi. Tim yang bertugas diharapkan dapat menyerahkan hasilnya kepada Menteri pada akhir bulan ini.

Menurut Tifatul, tinjauan tersebut perlu dilakukan untuk menjelaskan pedoman akuisisi, yang saat ini tidak tercantum dalam Undang-Undang Telekomunikasi.

“Hukum yang ada saat ini memungkinkan pasar bersifat seterbuka mungkin, dan inilah sebabnya mengapa pasar kita dipenuhi oleh banyak operator telepon seluler,” tambahnya.

Menurut hasil riset Frost & Sullivan, PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT. Indosat dan XL Axiata memiliki pangsa pasar gabungan sebesar hampir 70 persen.

Menurut Tifatul, akuisisi Axis oleh XL Axiata akan meredakan kompetisi antar operator, alih-alih memanaskannya.

Baca juga  Industri Manufaktur Ditargetkan Tumbuh 5,80 Persen di Tahun 2024

“Pasar saat ini telah disesaki oleh 14 operator telepon seluler yang diwarnai oleh kompetisi yang kurang sehat, karena 92 persen pendapatan industri dikuasai oleh tiga operator terbesar,” katanya.

Industri telekomunikasi memang diketahui memiliki level kompetisi yang sangat tinggi.

Sebelumnya, perang harga antar operator terjadi dalam usaha mereka merebut preferensi pelanggan dan harus mengikuti lelang blok frekuensi yang diadakan kementrian.

Rencana XL Axiata dalam mengakuisis Axis juga terkait dengan alasan kedua, yaitu mengembalikan blok frekuensinya kepada pemerintah. Menurut peraturan pemerintah, operator dilarang untuk menyerahkan blok yang diberikan kepada mereka kepada operator lain.

Namun, kementrian akan merundingkan keputusan apakah blok akan diberikan kepada organisasi atau perusahaan yang terbentuk pasca-akuisisi atau dilelang.***

Sumber: The Jakarta Post