Istilah quiet quitting semakin populer dan kerap dibahas dalam berbagai diskusi tentang dunia kerja modern. Fenomena ini mencerminkan perubahan sikap karyawan terhadap pekerjaan, terutama dalam menyikapi tekanan dan tuntutan yang terus meningkat. Quiet quitting merujuk pada kondisi ketika karyawan tetap menjalankan tugas sesuai deskripsi pekerjaan, namun tidak lagi memberikan usaha tambahan di luar kewajiban tersebut. Dalam praktiknya, mereka tidak benar-benar berhenti bekerja, tetapi secara emosional mulai menarik diri dan mengurangi keterlibatan terhadap pekerjaan.

Faktor Penyebab Quiet Quitting

Ada berbagai faktor yang dapat mendorong karyawan melakukan quiet quitting, mulai dari kekecewaan di tempat kerja seperti tidak mendapat promosi, minimnya apresiasi, hingga upah yang dianggap tidak sepadan. Selain itu, lingkungan kerja yang tidak sehat dan rekan kerja yang toxic turut memperburuk kondisi, ditambah beban kerja berlebih yang memicu kelelahan serta kekhawatiran akan dilimpahkannya tugas tambahan.

Di sisi lain, rasa jenuh akibat pekerjaan yang monoton dan keterbatasan waktu untuk kehidupan pribadi juga menjadi pemicu. Kondisi ini membuat sebagian karyawan mulai mempertanyakan makna kerja yang dijalani, terlebih ketika muncul anggapan bahwa kerja keras lebih banyak menguntungkan perusahaan dibandingkan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan diri mereka sendiri.

Dampak Positif Quiet Quitting

Dampak positif quiet quitting terlihat dari terciptanya keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi bagi karyawan atau work life balance. Melalui batasan yang lebih jelas, karyawan dapat menghindari stres dan tidak lagi terbebani lembur berlebihan hingga larut malam, serta menurunkan risiko kelelahan fisik dan burnout. Selain itu, sikap ini membantu karyawan menolak tugas di luar tanggung jawabnya sehingga terhindar dari beban kerja yang tidak semestinya.

Baca juga  Konsep Affiliate Marketing dan Peluangnya di Era Digital

Di sisi lain, fenomena ini juga menjadi respons terhadap perilaku sebagian atasan yang cenderung mengeksploitasi bawahan. Tidak sedikit karyawan yang menerima pekerjaan berlebih di luar jam kerja dengan dalih tuntutan loyalitas terhadap perusahaan, padahal upaya tersebut sering kali tidak diimbangi dengan apresiasi yang layak.

Dampak Negatif Quiet Quitting 

Saat bekerja sekadarnya, seseorang cenderung meremehkan usaha yang telah dilakukan sehingga sulit menghargai diri sendiri dan kepuasan kerja pun menurun. Minimnya upaya juga dapat memicu rasa bosan serta anggapan bahwa pekerjaan yang dijalani tidak memiliki makna. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin berkembang menjadi gangguan mental, seperti depresi.

Kinerja yang stagnan pun dapat memperkecil peluang untuk memperoleh posisi atau jabatan yang lebih tinggi. Bahkan, kondisi tersebut juga berisiko membuat karyawan kehilangan pekerjaan apabila tidak ada peningkatan atau kontribusi yang signifikan dalam jangka panjang.

Referensi

Farhansyah, J. (2025, Oktober 13). Mengenal fenomena quiet quitting di dunia kerja. Alodokter. https://www.alodokter.com/mengenal-fenomena-quiet-quitting-di-dunia-kerja

Mekari Talenta. (2026, April 4). Quiet quitting: Pengertian, penyebab, serta dampaknya. https://www.talenta.co/blog/quiet-quitting/ (Mekari Talenta)

RRI. (2025, September 1). Fenomena quiet quitting dalam dunia kerja. https://rri.co.id/lhokseumawe/sudut-pandang/2310945/fenomena-quiet-quitting-dalam-dunia-kerja