lean six sigma di perusahaan minyak

Kebocoran minyak di Kanada, pipa gas meledak di Cina, pabrik pemrosesan bahan kimia terbakar di Thailand dan sabotase di Nigeria. Mungkin kita telah terbiasa dengan headline surat kabar yang memberitakan berbagai insiden di industri minyak dan gas.

Headline yang dramatis itu hanya sebagian kecil saja dari sisi operasional harian industri minyak dan gas bumi di dunia. Setiap hari, puluhan dari ribuan sumber minyak, ratusan dari ribuan mil jalur pipa dan jutaan mesin dan bor menyalurkan energi dengan lancar dan aman ke rumah-rumah kita, sistem transportasi kita, hingga bisnis dan komunitas kita.

Kebutuhan Mendesak untuk Melakukan Perbaikan Operasional

Percaya atau tidak, industri minyak dan gas bumi adalah salah satu area yang paling aman di dunia. Fokus kepada perbaikan operasional tumbuh subur di industri yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat sipil dan politik dunia. Bagi para eksekutif di perusahaan minyak dan gas, kebutuhan akan pencapaian keunggulan operasional atau operational excellence tidak pernah sedemikian besar. Bagaimana tidak, biaya eksplorasi, pengembangan dan produksi meningkat pesat, sementara margin semakin tipis. Level aktifitas-pun ikut meningkat, menyebabkan inflasi di sektor minyak dan gas. Kurangnya talenta-talenta teknis juga ikut menyumbang peran dalam bengkaknya biaya tenaga kerja dan jasa. Bayangkan jika satu diantara empat profesional di industri ini pensiun dalam tujuh tahun mendatang, angka kekurangan tersebut akan semakin besar.

Kebutuhan akan sumber daya yang inkonvensional seperti shale oil juga memberikan kontribusi terhadap kebutuhan akan operational excellence. Sisi fundamental di sisi minyak dan gas tetap sama, namun sudut-sudut inkonvensional membuat beberapa proses harus ditangani secara khusus. Sementara perusahaan-perusahaan minyak mempelajari seluk beluk sumberdaya inkonvensional, beberapa dari mereka telah berhasil menyempurnakan pendekatan yang mereka gunakan untuk menjawab tantangan operasional yang bervariasi.

Baca juga  Inilah Kabar Terkini Proyek Besar Bukit Asam (PTBA)

Pada saat bersamaan, industri minyak dan gas berada dalam tekanan untuk mengurangi resiko dan menjawab tantangan baru, seperti pengeboran di perairan yang lebih dalam di Kutub Utara, operasi darat yang insentif di daerah-daerah padat populasi (seperti shale gas di timur laut Amerika Serikat), dan eksplorasi teknologi pionir seperti pengoperasian terminal gas alam cair terapung atau floating LNG. Eksekutif di industri ini bekerja untuk mendefinisikan dan mentransfer konsep keunggulan operasional hingga kulit terluar perusahaan.

Tidak diragukan lagi, lansekap kompetisi di industri minyak dan gas membuat perusahaan-perusahaan harus lebih gesit dan tangkas. Semakin berkembangnya perusahaan minyak nasional membuat sektor swasta harus melakukan peningkatan di sisi teknologi dan kemampuan operasional, termasuk kapabilitas untuk bekerja dengan pemerintah dan partner. Ekspektasi perusahaan minyak nasional dan terbukanya kesempatan untuk menjalankan bentuk-bentuk kerjasama baru menyediakan kesempatan besar bagi perusahaan jasa minyak dan gas. Namun merekapun harus meningkatkan kemampuan dan kapabilitas untuk mengelola lebih banyak resiko dan kompleksitas proyek, sementara menjalankan operasi yang terintegrasi antara sisi permukaan dan di bawah permukaan.

Seolah menambah kompleksitas perubahan diatas, ekspektasi dari para pemegang regulasi, shareholder dan komunitas juga meningkat. Mereka mengharapkan sesuatu yang lebih besar dari perusahaan-perusahaan minyak dan gas. Regulasi semakin kompleks dan mereka yang berada di baliknya menjadi semakin proaktif, menuntut perhatian yang lebih besar untuk memenuhi compliance.

Tekanan yang ada membentuk kombinasi dengan kebutuhan akan keunggulan operasional dan continuous improvement yang makin meningkat di perusahaan-perusahaan minyak dan gas. Menurut survei, lebih dari 10 persen kapasitas produksi terpotong karena kompleksitas dan inefisiensi proses. Ini menjadi celah perbaikan yang sangat bagus dan prospektif. Keunggulan operasional menciptakan value melalui aksi-aksi sistematik dan terstruktur, serta dapat diulang, yang tersampaikan dengan jelas kepada setiap karyawan di perusahaan.

Inisiatif continuous improvement atau CI sangat bergantung kepada standar proses yang terdokumentasi dengan baik dari waktu ke waktu. Standar inilah yang akan membawa perusahaan kepada keunggulan operasional dan performa operasional yang tinggi. Setiap orang dalam organisasi akan memahami bagaimana pekerjaan seharusnya dilakukan dan memiliki akses kepada sumber daya yang tepat untuk memastikan pekerjaan dilakukan seperti yang seharusnya.

Baca juga  Industri - industri yang terdisrupsi teknologi

Keunggulan Operasional di Industri Minyak dan Gas Bumi

Bagi sebagian besar perusahaan minyak dan gas, aspirasi menuju operational excellence bukanlah ide baru. Banyak dari mereka yang telah memiliki program yang matang, manual yang terkode dengan sistematik, pengukuran yang aktif dan pelatihan intensif. Namun gap tetap tak terhindarkan. Salah satu penyebabnya adalah rasio supervisi antara karyawan perusahaan dan kontraktor telah meningkat dari 1:1 pada 20 tahun lalu menjadi 1:5 pada saat ini. Rata-rata level experience juga menurun walaupun level aktifitas meningkat. Saat ini, di area industri yang mature, inisiatif improvement lebih fokus kepada perubahan budaya dan perilaku di area yang baru, seperti operasional di Kutub Utara atau sumber daya inkonvensional. Improvement lebih fokus kepada kodifikasi dan perumusan peraturan serta standardisasi.

Keunggulan operasional yang diraih melalui continuous improvement memberikan kepercayaan diri bagi perusahaan minyak dan gas bumi untuk menyatakan bahwa mereka mengolah aset mereka dengan aman, andal, berkelanjutan, dan hemat biaya. Untuk mencapainya, perusahaan harus memenuhi beberapa syarat:

  1. Kinerja kesehatan, keselamatan dan keberlangsungan lingkungan (HSE) kelas dunia. Kesuksesan membangun budaya kerja yang mengutamakan keselamatan dan lingkungan akan memberikan kekuatan untuk meningkatkan kinerja kepada level tertinggi.
  2. Performa tinggi dan ROI dari seluruh aset yang ada.
  3. Sistem dan standar terbaik di kelasnya, yang terstandardisasi dan diadopsi secara konsisten di seluruh sendi perusahaan.
  4. Budaya yang telah terbiasa dan selalu berusaha mencari celah perbaikan.
  5. Kapabilitas khusus yang dimiliki oleh tenaga kerja yang berbakat.

Reputasi bersih, yang muncul karena operasional yang efisien dan praktek bisnis yang berkelanjutan. Bagi sebagian besar perusahaan, pencapaian ini merupakan hasil dari program transformasi budaya dan operasional yang didorong oleh strategi, prinsip, ekspektasi dan proses yang sesuai dengan konsep continuous improvement, yang diterjemahkan menjadi aksi yang berulang. Transformasi semacam ini membutuhkan insiatif improvement yang dikelola dengan baik.

Baca juga  Dampak Komunikasi yang Buruk dalam Bisnis

Bagaimana perusahaan mengubah gaya operasinya untuk mencapai level keunggulan operasional yang lebih tinggi?

Bayangkan overhaul mesin besar-besaran di sebuah fasilitas produksi. Perusahaan minyak dan gas biasanya menjadwalkan overhaul setiap dua atau tiga minggu untuk fasilitas upstram dan tiga atau empat tahun sekali untuk fasilitas pengilangan. Biasanya overhaul tersebut direncanakan dan dieksekusi oleh manajemen lokal. Namun sayangnya, sering terjadi kekurangan dalam perencanaan; misalnya pengaturan mesin atau material yang tidak tepat, dapat menimbulkan kerepotan dan penundaan pada saat operasional sedang dijadwalkan untuk berhenti. Penundaan semacam itu bisa menyebabkan biaya ratusan hingga jutaan dolar. Bagaimanapun, ketika perencanaan dan prosedur overhaul telah distandardisasikan di seluruh sendi organisasi dan best practice telah dilakukan, biaya tersebut akan dapat dikurangi secara signifikan.

Bagaimana memulai inisiatif perbaikan di perusahaan tambang? Simak pembahasannya dalam artikel ini.***RW