Lockheed Martin melakukan usaha penghematan biaya dengan cara substitusi material pada pesawat F-35.

Bagi Lockheed Martin Corporation, inovasi adalah sebuah konsep penghematan biaya yang maknanya lebih dari sekedar melempar teknologi baru kepada pasar. Teknologi ini harus mampu menunjang program penghematan biaya operasional serta menciptakan value, baik bagi perusahaan maupun pelanggan. Demi melaksanakan filosofinya, kontraktor aerospace & defence tersebut mengerahkan para ahli di bidang riset dan pengembangan untuk merancang suatu program efisiensi dan pengurangan biaya dalam proses manufaktur, sekaligus menemukan solusi baru untuk perluasan pasar.

Posisi Lockheed Martin sebagai leading manufacturer dalam industri nanoteknologi merupakan salah satu aspek yang mencerminkan kemampuan teknis mereka dalam mengembangkan teknologi dalam manufaktur dan menggunakannya sebagai “alat” yang mampu mendongkrak revenue. Salah satu contohnya adalah teknologi yang memungkinkan pemuatan nanokomposit kedalam fairings di ujung sayap pesawat F-35 Joint Strike Fighter yang diproduksi oleh perusahaan. “Teknologi tersebut menghasilkan penghematan biaya yang signifikan,” kata Steve Meier, vice president of new business initiatives di Lockheed.

Menurut Travis Earles, senior manager untuk advanced materials & nanotechnology initiatives di Lockheed Martin, perusahaan tersebut telah mengantongi izin dari F-35 Joint Program Office pada tahun 2011 lalu untuk mensubstitusi carbon fiber yang lebih mahal dengan material nanostruktur thermoplastic pada fairing di ujung pesawat. Teknologi yang disebut Advanced Polymers Engineered for the Extreme (APEX) ini merupakan bagian dari usaha mengembangkan material ringan, untuk memenuhi inisiatif penghematan biaya di perusahaan tersebut.

“Kami mampu melakukan penghematan biaya di satu sisi, serta menghasilkan impact yang signifikan bagi usaha penghematan biaya produksi armada dengan memanfaatkan nanoteknologi tersebut,” kata Earles.

Namun sayangnya perusahaan ini tidak mau membeberkan jumlah nominal dari penghematan biaya yang berhasil dilakukan dengan penggunaan material baru pada ujung sayap pesawat tersebut.

Baca juga  SHIFT Indonesia, Your Operational Excellence Guide

Menurut Meier, Lockheed Martin telah menemukan 100 part tambahan yang berpotensi menguntungkan dalam teknologi APEX, yang dapat digunakan untuk pembuatan F-35, yang dapat menghasilkan penghematan biaya tambahan. Perusahaan tersebut juga terus menguji platform lainnya dalam portofolio teknologi APEX mereka yang mungkin dapat menguntungkan. Pasalnya, Departemen Pertahanan yang selama ini menjadi pelanggan utama Lockheed Martin tengah menggalakkan upaya penghematan biaya, sehingga mereka berada dalam tekanan untuk terus menurunkan cost.

“Dalam lingkungan budget yang terbatas, investasi pada teknologi harus menghasilkan sesuatu yang langsung mengarah kepada pertumbuhan di masa depan,” kata Meier. “Nanoteknologi telah mendemonstrasikan potensi untuk memperbaiki performa dan secara bersamaan juga menurunkan biaya.”

Tetap Kompetitif dengan Teknologi Baru

Presiden dan COO Lockheed Martin, Christopher Kubasik, menuturkan kepada Wall Street Journal mengenai betapa usaha penghematan yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan (yang merencanakan penghematan biaya sebesar US$500 milyar) akan “menghancurkan industri (aerospace)”. Namun Kubasik juga menyatakan bahwa kemampuan perusahaan untuk mengembangkan teknologi baru akan menjadi faktor penyelamat yang akan menyelamatkan kemampuan kompetitif mereka.

Namun, menurut Earles, walaupun tengah mengembangkan material pengganti, Lockheed Martin tidak berencana untuk menjadi produsen dari material tersebut. Area utama mereka akan tetap pada pengembangan teknologi dan system intergation. Disinilah partnership menjadi faktor yang amat krusial.

“Kami tidak akan menjalankan “bis” inovasi ini sendirian,” kata Earles. “Karena itulah, kelancaran pergerakan proses dari penemuan, kepada pengembangan, hingga penerapan sangat bergantung kepada kerjasama dengan berbagai pihak dari berbagai disiplin ilmu, khususnya dalam menjalankan produksi.”

Sumber: IndustryWeek, Jonathan Kanz.