“Perkebunan adalah soal manusia. Mengubah budaya yang paling tepat adalah melalui pendekatan teknologi. Hampir sejak empat tahun lalu, teknologi adalah penggerak PTPN V,” Jatmiko Santoso, CEO PTPN V

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan PT Perkebunan Nusantara V merupakan salah satu perusahaan perkebunan sawit di Indonesia yang terdepan dalam mendukung program dekarbonisasi melalui pemanfaatan dan optimalisasi energi baru terbarukan berbahan dasar pengelolaan limbah sawit cair atau palm oil mill effluent (POME). 

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Hasnan Abimanyu mengatakan anak perusahaan Holding Perkebunan Nusantara III Persero tersebut terus membuka peluang dan berkomitmen mendukung penelitian serta inovasi bersama para peneliti BRIN dalam pengembangan energi baru terbarukan selama empat tahun terakhir.   

Ia mengatakan bahwa sinergitas antara BRIN dan PTPN V sejatinya adalah bagian dari program pemerintah dalam upaya mendukung program dekarbonisasi serta menuju cita-cita Indonesia mewujudkan net zero emission pada 2060. 

Selain itu, lebih luas kolaborasi ini pada akhirnya diharapkan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat di masa mendatang. Untuk itu, Hasnan mengimbau PTPN V agar dapat lebih mengeratkan sinergitas, terutama terkait program digitalisasi dan dekarbonisasi yang menjadi program prioritas PTPN V dalam kurun waktu empat tahun terakhir. 

CEO PTPN V, Jatmiko Santosa dalam keterangannya mengapresiasi dukungan BRIN dalam pengembangan energi hijau di PTPN V. Sinergitas tersebut telah membawa PTPN V sebagai leading company dalam sektor pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan. 

Sejak memperoleh amanah untuk memimpin perusahaan perkebunan plat merah pada 2019 silam, Jatmiko terus tancap gas fokus investasi pada sektor yang produktif, energi baru terbarukan dan digitalisasi. 

Alhasil, saat ini terdapat lima instalasi pembangkit tenaga biogas baik yang dikonversi menjadi listrik maupun co firing yang telah beroperasi di seluruh unit pabrik kelapa sawit PTPN V. Sementara, satu unit PTBG lainnya kini dalam tahap pembangunan dan dijadwalkan beroperasi penuh awal tahun depan. 

Hal ini menjadikan PTPN V sebagai anak perusahaan Holding Perkebunan yang memanfaatkan energi baru terbarukan melalui pengolahan limbah cair atau palm oil mill effluent (POME) terbesar di Indonesia.

Baca juga  Implementasi Maintenance Excellence, Produksi Pupuk Indonesia Tembus 18,84 Juta Ton di 2022

Pasca pelaksanaan G20 yang salah satunya fokus pada dekarbonisasi, ia mengatakan bahwa PTPN V telah melaksanakannya sejak empat tahun lalu. 

“Alhamdulillah. Sinergi dan kolaborasi untuk energi baru terbarukan bersama BRIN berjalan dengan sangat baik. PTPN V telah menjadi pelopor di PTPN Grup dan swasta. Banyak perusahaan telah benchmarking untuk belajar POME dari kita. Inovasi ini tiga empat tahun lalu belum jadi perhatian. Baru setelah G20, ini kemudian menjadi main concern. Support dari BRIN sungguh luar biasa,” paparnya. 

Lebih jauh, Jatmiko mengatakan sejak awal mengusung program dekarbonisasi melalui pembangunan PTBG bukanlah proyek “pameran” atau show case. Melainkan sebagai program pengurangan gas rumah kaca serta carbon trading yang baru-baru ini dicetuskan oleh pemerintah. 

“Ini bukan proyek gagah-gagahan dan showcase, namun ini adalah upaya kita optimalisasi manfaat ekonomi lebih luas. Ke depan langkah kita ini jadi langkah kanan untuk memberikan manfaat, tidak hanya kepada kami PTPN V, juga BRIN dan seluruh bangsa Indonesia,” tuturnya.

Jatmiko kembali menekankan kepada jajarannya yang turut hadir dalam kunjungan tersebut agar memprioritaskan program pengembangan inovasi dan teknologi bersama BRIN. Ia percaya bahwa pada prinsipnya perkebunan adalah soal manusia. Mengubah budaya yang paling tepat adalah melalui pendekatan teknologi. Hampir sejak empat tahun lalu, teknologi adalah penggerak PTPN V.