Siapa tidaK kenal Starbucks – salah satu penyedia minuman kafein dengan lebih dari 19.000 gerai yang tersebar di seluruh dunia dan pendapatan lebih dari 14.9 juta dolar. Starbucks tidak menjadi perusahaan kedai kopi tersukses di dunia hanya dengan menyajikan secangkir kopi saja, tetapi produktivitas karyawan adalah komponen besar dari kesuksesan berkelanjutan Starbucks. Nah, bagaimana perusahaan besar asal Seattle ini memperoleh hasil yang maksimal dari karyawannya?

Salah satu strategi yang digunakan Starbucks untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan menggunakan lean manufacturing atau lean production. Inti dari lean adalah memaksimalkan nilai pelanggan dan menghilangkan limbah. Ketika kelesuan ekonomi mengharuskan Starbucks menutup lebih dari 900 kedai, para eksekutif dipaksa untuk mengevaluasi praktik Starbucks dan menentukan langkah untuk dapat melakukan peningkatan perbaikan. Ternyata permasalahan ada pada karyawan yang terlalu lama membuat minuman, sehingga waktu interaksi pelanggan harus dikurangi dan pengalaman karyawan akan metode layanan di Starbucks harus ditingkatkan.

Sehingga, Starbucks membentuk 10 orang tim lean yang dipimpin oleh Scott Heydon, yang bertugas melakukan survei ke seluruh kedai Starbucks untuk membantu mereka mengurangi limbah. Heydon dan timnya menerapkan langkah sederhana, seperti memindahkan topping lebih dekat ke tempat penyerahan minuman kepada pelanggan. Teorinya adalah dengan memotong sedikit waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap bagian dari proses, pelanggan akan meneriman pesanan mereka lebih cepat.

Menerapkan lean bukanlah satu-satunya perubahan yang dilakukan Starbucks dalam upaya untuk meningkatkan produktivitas karyawan. Penelitian telah menunjukkan bahwa karyawan yang bahagia menjadikan kerja lebih produktif. Ketika seorang manajer Starbucks melakukan pengamatan terhadap karyawan yang mengalami kesulitan kepada pelanggan, bukannya menegur karyawan tersebut, sebuah program pelatihan baru dikembangkan untuk membantu meringankan stres. Ini merupakan salah satu contoh dimana Starbucks berhasil mengidentifikasi hambatan dan memberikan solusi untuk para karyawan memberikan kontribusi untuk kepuasan yang lebih tinggi.

[cpm_adm id=”10097″ show_desc=”no” size=”medium” align=”right”]

Perubahan lain yang dilakukan oleh Starbucks yaitu bagaimana mengimplementasikan penjadwalan, termasuk membatasi adanya ‘clopening’, dimana karyawan akan menutup kedai satu hari dan membukanya kembali hari berikutnya.

Starbucks juga dikenal dengan kepeduliannya terhadap karyawan, yang ditunjukkan dengan memberikan tunjangan kesehatan, memberikan pendidikan online bagi pekerja paruh waktu. Starbucks bahkan menawarkan untuk mengganti biaya kuliah sehingga para karyawan tetap mampu meraih gelar sarjana mereka. Dalam sebuah industri dimana tingkat pergantian karyawan berada pada angka 200%, Starbucks mampu bertahan pada angka 9%.

Baca juga  5 Karakteristik Pemimpin Agile yang Perlu Kita Ketahui

Berkaca dari kesuksesan kedai kopi Starbucks, proses efisiensi dan kepuasan karyawan merupakan hal penting dalam menjalankan sebuah perusahaan dimana hasil maksimal bisa didapat dengan memiliki dua komponen tersebut. Sebagai permulaan, penilaian dapat dilihat dari efisiensi tempat kerja. Apakah kantor ataupun lokasi kerja sudah dimanfaatkan secara efektif dan efisien.

Komponen kedua yang perlu dianalisis adalah kepuasan karyawan. Bagaimana semangat di tempat kerja dan apakah karyawan senang bekerja di tempat tersebut merupakan hal utama yang perlu dicari jawabannya. Memang tidak mungkin untuk menyenangkan semua karyawan sekaligus dalam satu waktu, namun ada cara-cara terbaik yang dapat diambil untuk meningkatkan kepuasan karyawan secara keseluruhan, dan cara terbaik adalah dengan mendengarkan setiap keluhan mereka.

Sumber: knote.com – Starbucks Productivity Secrets