Sumber Photo: Mashable.com

Jejaring sosial yang cukup fenomenal saat ini selain, tentunya Facebook, adalah Twitter. Layanan jejaring sosial yang terkenal dengan logo burung birunya ini, sejak diluncurkan pertama kali pada 2006 telah mengalami pertumbuhan yang pesat dan dengan cepat meraih popularitas di seluruh dunia.

Bahkan, hingga bulan Januari 2013, Twitter berhasil memiliki pengguna lebih dari 500 juta yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Suatu prestasi yang luar biasa untuk perusahaan Startup.

Tingginya popularitas Twitter membuat layanan ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dalam berbagai aspek. Seperti misalnya, sarana protes, komplain, kampanye politik, sarana pembelajaran, juga bahkan menjadi media komunikasi yang efektif dan massive.

Di usianya yang belum genap 10 tahun ini, Twitter telah menjadi salah satu perusahaan besar dunia. Tidak berlebihan jika menyebutnya demikian, karena berdasarkan data keuangan Twitter yang dipublikasi di TechCrunch,  proyeksi pendapatan Twitter pada akhir 2013 adalah US$1,54 miliar, US$ 111 juta laba bersih, dengan 1 miliar pengguna.

Lalu, apa kabarnya Twitter saat ini?

Berkat pertumbuhannya yang pesat dan cepat, Twitter telah menjadi perusahaan publik sejak November tahun lalu. Saat itu, selama berminggu-minggu menjelang acara peluncuran Twitter sebagai perusahaan publik, sang CEO Dick Costolo meminta kepada seluruh karyawannya untuk tidak terlalu memikirkan acara yang nantinya akan menjadi peristiwa penting dalam sejarah perjalanan perusahaan tersebut.

Dick mengatakan, “Lupakan semua hasil analisa yang muncul. Lupakan pers yang menunggu di luar kantor pusat. Meskipun kenyataannya banyak karyawan mungkin akan tetap pergi untuk menjadi jutawan, beberapa investor terpilih dan para founder Twitter juga akan menjadi milyarder, namun lupakan dulu semua hal itu.” Ucap Dick seperti dikutip Mashable.com.

Tiga bulan pertama setelah IPO, Twitter merilis laporan laba pertamanya sebagai perusahaan publik. Hasilnya? Jauh dari perikiraan Wall Street dan ekspektasi investor. Harga saham Twitter saat itu turun drastis hingga 20 persen.

Baca juga  Inspirasi dari Lapangan: Pelajaran Operational Excellence dari Permainan Basket

Mengapa demikian? Benarkah karena budaya perusahaan yang belum siap menerima perubahan?

Di tahun-tahun pertamanya, Twitter tidak terlalu bergantung pada karyawannya. Siklus perusahaan tersebut tetap berjalan dengan kontribusi dari 4 CEOnya. Meskipun konflik lah yang akhirnya membuat satu-persatu sang founder memilih untuk meninggalkan perusahaan, namun nyatanya Twitter tetap terus berkembang hingga saat ini.

Pada saat pertama kali merencanakan untuk Go Public, pengguna Twitter baru mencapai angka 200 juta-an. Dengan kondisi pengguna yang menggunakan layanannya untuk berbagai kepentingan, mulai dari update berita, interaksi antara selebriti dengan fansnya, dan orang-orang yang terus “berkicau” menyampaikan hal apapun. Hal ini membuat Twitter seakan dianggap tidak memiliki identitas pasti akan posisinya di pasar.

Jadi, apa yang sebenarnya “hilang” dari Twitter sebagai sebuah organisasi?

Seperti dikutip Mashable.com, menurut beberapa karyawan yang mereka tanyai, yang kurang dari Twitter adalah pemahaman yang kuat tentang keberhasilan dan rencana yang jelas untuk membangun kesuksesan tanpa harus merusak hal-hal yang ada sebelumnya. Seorang mantan karyawan Twitter mengatakan, “Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang sebeneranya dibutuhkan Twitter untuk mencapai kesuksesan, sehingga ada ketakutan terus-menerus untuk mengubah hal itu.”

Setelah menjadi perusahaan publik dan menerima ktritik tajam dari Wall Street akibat harga saham yang turun drastis, Twitter banyak menerima tekanan untuk melakukan perubahan dan segera kembali mengalami pertumbuhan yang cepat.

Banyak karyawan yang bekerja selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, dituntut untuk terus mengembangkan fitur-fitur baru, mendesain ulang, membuat layanan pesan lebih baik lagi, namun semua pekerjaan ini nampaknya tidak memiliki satu tujuan yang pasti.

“Kami selalu diminta untuk memprioritaskan pertumbuhan, tapi sebenarnya kami terbentur pada situasi di “meja” kami sendiri,” kata seorang mantan karyawan Twitter seperti dikutip Mashable.com.

Baca juga  Antara Lean dan Agile, Mana yang Lebih Efektif di Masa Kini?

CEO Twitter dianggap tidak memiliki visi?

Berulang kali, sang CEO Dick Costolo menyampaikan kepada investor, bahwa ia sangat yakin tentang strategi Twitter untuk “membangun audience terbesar di dunia”. Strategi ini telah dimulai dengan memperkenalkan produk baru Twitter untuk kembali memicu pertumbuhan sekaligus meyakinkan Wall Street akan nilai saham Twitter yang bakal naik.

Namun, cerita di balik layar menunjukkan bahwa Costolo berada di bawah tekanan luar biasa dari investor. Beberapa karyawan yang bekerja dengannya mengatakan bahwa Costolo terlihat sangat frustasi menjelang laporan laba perusahaan berikutnya.

Berbeda dengan Facebook dan Google, CEO Twitter bukanlah salah satu pendiri ataupun pemiliki saham pengendali di perusahaan. Namun demikian, para karyawan Twitter menganggap bahwa Costolo adalah sosok yang cerdas dan menyenangkan. Sehingga mereka mengungkapkan bahwa Twitter hanya tidak memiliki pendiri dengan visi yang kuat terhadap produknya.

Apakah ini berarti perubahan besar di Twitter sebenarnya belum terjadi?

Menurut CFO baru Twitter, Anthony Noto, prioritas mereka adalah Twitter akan selalu menjadi real-time network. “Itu menjadi prioritas no.1 kami, jika kita berpikir tentang pengalaman pengguna (user experience),” kata Noto.

Namun, ternyata ada isu lain yang mendasar di dalam organisasi.

Twitter banyak mengalami pergantian pemimpin departemen, seperti posisi Michael Sippey misalnya, sebagai kepala produk yang digantikan oleh mantan direktur Google Maps, Daniel Graf. Enam bulan Graf menjabat sebagai kepala produk, posisi tersebut akhirnya di pegang oleh Kevin Weil, yang sebelumnya hanya bertugas mengawasi revenue products dan sekarang harus bertanggung jawab untuk mengawasi semua produk.

Peran Weil ini, menurut karyawan Twitter tidak terlalu banyak membantu isu moral yang kurang di dalam perusahaan tersebut, terlebih karena adanya kritik keras dari Wall Street. Justru, membuat masalah di dalam organisasi menjadi lebih buruk.

Baca juga  Dua Hal Esensial untuk Menciptakan Perubahan

“Semangat kami cukup rendah di sini, kecuali saat kami berbicara tentang angka-angka yang berhubungan dengan nilai saham,” kata mantan karyawan Twitter seperti dikutip Mashable.com.

“Bahkan banyak yang bertanya kepada saya, apakah kami sebaiknya pergi saja,” lanjut sumber tersebut.

Isu semangat kerja pasca IPO ini, bukan hanya dialami Twitter saja. Sebelumnya, Facebook juga dikabarkan mengalami penurunan semangat kerja yang sama saat nilai sahamnya jatuh drastis pasca perusahaan tersebut go public.

Isu internal di dalam organisasi tersebut, jelas tidak terlalu menjadi concern para investor, namun dampaknya jelas terlihat pada nilai saham Twitter. Sehingga, inilah pertanyaan mendasar dari para investor; “Apakah benar-benar ada 1 miliar orang yang ingin men-tweet atau membaca tweet?

Dibanding terus mengejar angka pengguna yang banyak, para karyawan Twitter mengatakan lebih baik perusahaan membuat produk yang benar-benar dimanfaatkan oleh 300 juta orang. “Jika Anda ingin mengejar jumlah pengguna yang banyak, maka produk yang ada sekarang bukanlah jawaban,” kata seorang mantan karyawan Twitter.

Sehingga karena isu ini, beberapa ahli menyarankan bahwa Twitter tidak perlu berjuang untuk bertahan hidup. Justru, Twitter harus membuktikan bahwa organisasinya memiliki ruang untuk terus berkembang.***RR

Sumber: Mashable.com