Baru-baru ini, Bill Waddell menerbitkan blog posting yang menarik tentang Factory First. Posting ini mengupas tentang filosofi manufaktur yang dianut oleh Toyota di masa lalu, yang pada saat ini sudah banyak dilupakan orang, dan kaitannya dengan masalah kapasitas yang saat ini sedang dihadapi oleh Subaru.

Factory First adalah sebuah filosofi yang dianut Toyota mengenai optimasi kapasitas manufaktur. Banyak dari kita yang telah melupakan atau bahkan belum pernah mendengarnya, karena konsepnya agak khusus dan sedikit rumit, tidak sesederhana Kanban, namun sangat penting untuk memahami motor utama bagi profit Toyota. Esensi dari Factory First sendiri adalah “bisnis akan menjadi lebih profitable jika semua kapasitas terutilisasi secara penuh”, bukan diatas 10% atau dibawah 10%, tapi pada kapasitas penuh.

Waddell mengungkapkan, “Istilah ‘Factory First’ merefleksikan prinsip-prinsip optimasi utilisasi kapasitas pabrik sebagai pertimbangan utama, sebelum mempertimbangkan untuk meningkatkan penjualan, untuk meningkatkan top line. Kebanyakan perusahaan berpikir bahwa peningkatan penjualan adalah baik secara inheren, dan urusan divisi manufaktur adalah menemukan cara untuk membuat barang yang akan dijual”.

Fakta kedua yang luput dari perhatian publik, dalam artikel Waddell, adalah kenyataan bahwa pabrik Subaru di Lafayette, Indiana, AS mungkin adalah pabrik paling Lean di Amerika (atau bahkan di dunia). Pabrik tersebut cukup Lean untuk membuat Toyota mempercayakan produksi sejumlah besar mobil Camry-nya kepada Subaru. Anda bisa membaca tentang ini di sebuah artikel lama di BusinessWeek.

Kedua fakta tersebut sebaiknya kita pegang ketika membaca artikel ini; mengingat ini berhubungan erat dengan poin yang ingin Waddell ungkapkan dalam artikelnya. Nampaknya Subaru mendapatkan transaksi penjualan lebih banyak dari yang mereka harapkan. Dalam artikel Bloomberg Businessweek ini, penulisnya mengungkapkan:

Baca juga  Maret 2024, PMI Manufaktur Indonesia Capai Level Tertinggi

Di pasar AS, Subaru kini menjual sekitar setengah dari produknya, dan penjualan naik 27 persen di tujuh bulan pertama tahun ini. Berdasarkan rata-rata penjualan bulan lalu, Subaru mampu menjual semua mobil dalam inventorinya di AS hanya dalam 27 hari – kurang dari setengah rata-rata pencapaian industri otomotif di Negeri Paman Sam. Perusahaan tersebut berencana untuk mengambil langkah-langkah untuk memperbesar kapasitas produksinya, namun hingga saat ini mereka masih memiliki kekuatiran tidak bisa memenuhi jumlah yang diminta oleh pasar.”

Penulis artikel tersebut memberikan dua solusi untuk meningkatkan kapasitas produksi Subaru:

  • Menaikkan harga untuk meredam permintaan
  • Menghentikan kerjasama dengan Toyota untuk produksi Camry.

Cara pertama lebih mungkin dijalankan, khususnya untuk jangka pendek. Lalu mengapa Subaru tidak akan bisa meningkatkan kapasitas dan menjual lebih banyak unit mobil mereka sendiri dengan cara menghentikan produksi Camry? Perhatikan apa yang disampaikan penulis Bloomberg dalam tulisannya:

Dalam konteks produksi, Toyota hampir 12 kali lipat lebih besar daripada Subaru; mereka memproduksi 7,4 juta mobil tahun lalu, termasuk 1,3 juta di Amerika Utara. Tentunya Toyota bisa memproduksi lebih banyak lagi dengan memperketat kekenduran di lini perakitannya.”

Toyota telah secara konstan meratakan dan menyesuaikan kapasitas dengan permintaan yang mereka terima, tulis Waddell dalam blognya. Praktek manufaktur mereka sedemikian efisien, sehingga tidak akan ada kekenduran pada lini perakitan, atau di area manapun di proses manufakturnya. Itulah motor paling kritikal dalam perjalanan Toyota menuju kesuksesan. Lalu bagaimana dengan ide menaikkan harga?

Menaikkan harga untuk meredam arus permintaan adalah kutukan bagi sebagian besar perusahaan, sementara perusahaan lain melakukannya demi meningkatkan revenue penjualan. Perbedaannya hanya terletak kepada prospek jangka panjang dan jangka pendeknya. Bagaimanapun, Fuji Heavy (parent company Subaru) telah menyatakan akan membiayai ekspansi besar-besaran jika melihat kesempatan untuk pertumbuhan jangka panjang, tulis Wall Street Journal. Saat ini, perusahaan tersebut yakin bahwa permintaan tinggi untuk Forester akan menyurut dengan sendirinya.

Baca juga  Maret 2024, PMI Manufaktur Indonesia Capai Level Tertinggi

Sangat menarik untuk mengetahui cara Subaru mengatasi masalahnya, tapi apapun yang mereka lakukan, tentunya akan dilakukan dengan konsisten dan dalam jangka panjang. Perusahaan Lean selalu merencanakan dan mengatur kapasitas dengan sangat baik, dan menetapkan prioritas yang tinggi untuk itu. Toyota, Honda, dan Subaru termasuk perusahaan yang demikian, tulis Waddell dalam blognya.

Masalah yang terjadi di GM dan Chrysler selama beberapa dekade ini umumnya berakar pada kesembronoan karena mengabaikan kapasitas – dan terlalu mengejar penjualan dan pangsa pasar, seolah dua hal itu adalah segalanya.

Kesalahan mereka, menurut Waddell, terletak kepada kehausan yang ada di balik penumpukan inventori (karena peningkatan kapasitas) demi penjualan yang lebih besar. Namun, ketika permintaan mulai surut, mereka lalu merumahkan karyawan dan mengabaikan pabrik-pabrik.

Menurut Anda, bagaimana Subaru akan mengatasi permasalahan mereka? Akankah cara yang ditempuh efektif? Waddell sendiri telah mengungkapkan harapan besarnya untuk menyaksikan aplikasi pemikiran Factory First oleh Subaru, yang akan mendorong mereka menuju posisi terbaik untuk jangka panjang.***

Gambar: (c)Shutterstock.